Close Menu
KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa

    Agustus 1, 2026

    Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros

    Agustus 1, 2026

    Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar

    Juli 31, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Technology
    • Gaming
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    Subscribe
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • PEMERINTAH
    • NASIONAL
    • POLITIK
    • NASIONAL
    • DAERAH
    Beranda » Mengakar di Pesisir, Menjaga Masa Depan: Membaca Dampak Iklim Melalui Proyek Ekologis Mahasiswa UMMA
    OPINI RedakturBy RedakturJuni 12, 2026

    Mengakar di Pesisir, Menjaga Masa Depan: Membaca Dampak Iklim Melalui Proyek Ekologis Mahasiswa UMMA

    RedakturBy RedakturJuni 12, 2026
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    KAMERA MAROS – Pesisir sering kali dipandang hanya sebagai batas daratan dan lautan, sebuah ruang rekreasi
    tempat angin berhembus bebas. Namun, bagi masyarakat yang hidup di sepanjang garis pantai Kabupaten Maros, pesisir adalah ruang juang yang penuh dengan dinamika ekologis dan sosial. Di sanalah benteng alam berdiri kokoh menantang ombak, dan di sana pula para nelayan tradisional mempertaruhkan nyawa di tengah ketidakpastian iklim yang kian
    mengkhawatirkan.

    Berangkat dari kesadaran tersebut, kami, mahasiswa Semester II Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muslim Maros (UMMA), bergerak turun langsung ke lapangan. Langkah kaki ini diarahkan menuju ke Ampekale, sebuah desa di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.

    Langkah ini bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan tugas proyek mata kuliah Ilmu Lingkungan dan Kearifan Lokal, melainkan sebuah pengejawantahan nyata dari visi besar kampus kami: menjadi universitas pelestari lingkungan dan kearifan lokal.
    Dari hasil pengamatan, wawancara, dan interaksi langsung dengan alam pesisir Desa
    Ampekale, kami menemukan potret kontras yang menuntut perhatian bersama.

    blank

    Mangrove Ampekale: Benteng Mekanis dan Pengatur Suhu Alami Data lapangan yang kami himpun di Desa Ampekale menegaskan bahwa hutan mangrove bukan sekadar sekumpulan pohon yang tumbuh di lumpur asin. Secara mekanis, mereka adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang menjaga kedaulatan daratan Maros dari abrasi.

    Baca:  Ironi di Balik Seragam Khaki: PPPK PW, "Buruh Negara" yang Terlupakan di Ambang Batas Sejahtera

    Melalui struktur akar-akarnya yang tumbuh dengan sangat rapat dan padat, mangrove di
    wilayah Bontoa ini bekerja memperlambat arus air laut. Jaringan akar ini mencengkeram
    sedimen bumi, secara efektif menekan risiko pengikisan pantai yang perlahan bisa mengikis
    ruang hidup manusia. Lebih jauh lagi, vegetasi ini bertindak sebagai peredam energi
    gelombang; hantaman ombak besar yang datang dari laut lepas diurai kekuatannya secara bertahap sebelum sempat menyentuh bibir pantai dan pemukiman warga.
    Tidak hanya memberikan perlindungan fisik, hutan mangrove Desa Ampekale juga menawarkan kenyamanan termal (mikroklimat) yang luar biasa. Saat kami melakukan pengamatan pada
    siang hari yang terik, udara di area terbuka atau di pinggiran gazebo pesisir terasa sangat
    panas dan menyengat akibat pantulan langsung matahari. Namun, atmosfer berubah drastis ketika kami melangkah masuk ke dalam area tutupan pohon-pohon mangrove. Udara seketika berubah menjadi sangat sejuk, rindang, dan dingin.

    Fenomena ini membuktikan bahwa keragaman spesies mangrove di lokasi tersebut berfungsi
    sebagai sistem pendingin ruangan alami berskala mikro. Keberadaan keanekaragaman hayati ini adalah bukti kekayaan alam pesisir Bontoa yang wajib dijaga kelestariannya dari
    tangan-tangan eksploitatif.

    Baca:  Mengenal Sosok Hj. Hasna Syam, Istri Bupati Barru

    Nestapa di Laut Lepas: Saat Perubahan Iklim Mengikis Pendapatan Nelayan Bontoa
    Namun, cerita dari pesisir Ampekale tidak melulu soal keindahan ekologis. Sesuai dengan
    esensi mata kuliah yang kami pelajari—yang menekankan interaksi manusia dengan
    lingkungannya—kami juga menangkap getir kehidupan komunitas nelayan tradisional setempat yang kian terhimpit oleh anomali cuaca global. Perubahan iklim bukan lagi sekadar narasi di jurnal-jurnal ilmiah, melainkan ancaman nyata yang dihadapi para nelayan Maros setiap kali mereka menghidupkan mesin perahunya.
    Data di lapangan menunjukkan betapa tingginya risiko keselamatan yang harus dipertaruhkan oleh para nelayan saat ini. Perubahan iklim memicu kemunculan cuaca ekstrem, seperti badai
    di tengah laut yang kerap datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi oleh kearifan tradisional membaca tanda-tanda alam yang biasanya mereka gunakan.

    Dalam banyak situasi darurat, para nelayan sering kali terjebak. Mereka terpaksa bertahan di tengah kepungan ombak dan badai di laut lepas, menunggu berjam-jam hingga situasi mereda demi bisa pulang ke daratan Bontoa dengan selamat. Pilihan yang mereka miliki sangat tipis: bertaruh nyawa di tengah laut, atau pulang dengan tangan hampa.

    Ketidakpastian ini berbanding lurus dengan kemerosotan ekonomi domestik mereka. Karena cuaca yang tidak menentu, usaha melaut kini menjadi spekulasi yang tidak pasti. Frekuensi melaut yang menurun drastis secara otomatis memotong volume hasil tangkapan. Akibatnya, pendapatan nelayan Desa Ampekale merosot tajam, menciptakan siklus kemiskinan baru yang
    mengancam kesejahteraan keluarga mereka.

    Baca:  Akhir Tahun, Hipma-Butur KDI Meriahkan dengan Bazar, Ini Kata Rinita ?

    Kesimpulan: Refleksi Akademis dari Menara Gading ke Akar Rumput

    Turunnya mahasiswa Semester II PBSI UMMA ke Desa Ampekale menjadi sebuah refleksi
    penting bahwa insan akademis tidak boleh hanya duduk diam di dalam ruang kelas atau
    bersembunyi di balik menara gading teori. Bahasa dan sastra memang menjadi disiplin ilmu utama kami, namun melalui lensa Ilmu Lingkungan dan Kearifan Lokal, kami diajar untuk menyuarakan jeritan lingkungan dan kemanusiaan lewat narasi yang berbasis data nyata.

    Hasil riset lapangan ini membawa pesan kuat bagi kita semua: konservasi dan restorasi
    berbagai jenis variasi mangrove di Kabupaten Maros mendesak untuk diperluas demi menjaga ekosistem pesisir. Di saat yang sama, kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus segera dirancang untuk melindungi para nelayan lokal.

    Menjaga mangrove adalah menjaga daratan kita; mendengarkan suara nelayan adalah cara
    kita merawat nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ruh dari Universitas Muslim Maros.
    Keberlanjutan alam Maros ada di tangan kepedulian kita hari ini.

    Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram Copy Link Email
    Previous ArticleDidukung 33 BPD, Ade Jona Prasetyo Resmi Terpilih Sebagai Ketua Umum BPP HIPMI Periode 2026-2029
    Next Article Kilau “Bling-Bling” dan Sambutan Hangat Bupati Maros Menjemput Jemaah Haji di Sultan Hasanuddin

    Berita Lainnya:

    OPINI

    Menjaga Independensi Aparat Penegak Hukum dan Marwah Negara Hukum di Tengah Dugaan Perkara yang Melibatkan Sesama Penegak Hukum

    Juli 11, 2026
    OPINI

    Maros: Menapaki Jejak 67 Tahun, Merawat Marwah Butta Salewangang

    Juli 6, 2026
    OPINI

    Ironi di Balik Seragam Khaki: PPPK PW, “Buruh Negara” yang Terlupakan di Ambang Batas Sejahtera

    Mei 1, 2026
    OPINI

    Kuota Haji Tambahan: Antara Keselamatan dan Kepastian Norma.

    Januari 27, 2026
    OPINI

    Aktivis dan Jalan Menuju PPPK: Fenomena yang Menggugah Pemikiran

    Januari 2, 2026
    Pos-pos Terbaru
    • Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa
    • Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros
    • Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar
    • Solusi di Tengah Kekeringan: Langkah Cerdas Pemkab Maros Kucurkan Rp2 Miliar Demi Alirkan Kehidupan ke Bontoa
    • Sahabat Laut Cilik, Mahasiswa KKN Unhas Tanamkan Kepedulian Ekosistem Laut Melalui Pelatihan Pembuatan Ecobrick di SD Inpres Panoang
    Top Posts

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,588 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026967 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026820 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews
    MAKASSAR

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    RedakturMaret 16, 2026
    PEMERINTAH

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    HTJanuari 30, 2026
    PEMERINTAH

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    HTJanuari 25, 2026
    Most Popular

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,588 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026967 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026820 Views
    Our Picks

    Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa

    Agustus 1, 2026

    Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros

    Agustus 1, 2026

    Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar

    Juli 31, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp
    • Home
    • Technology
    • Gaming
    • Phones
    • Buy Now
    © 2026 KAMERA LIPUTAN by WEBPro.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.