Close Menu
KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa

    Agustus 1, 2026

    Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros

    Agustus 1, 2026

    Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar

    Juli 31, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Technology
    • Gaming
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    Subscribe
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • PEMERINTAH
    • NASIONAL
    • POLITIK
    • NASIONAL
    • DAERAH
    Beranda » Ironi di Balik Seragam Khaki: PPPK PW, “Buruh Negara” yang Terlupakan di Ambang Batas Sejahtera
    OPINI RedakturBy RedakturMei 1, 2026

    Ironi di Balik Seragam Khaki: PPPK PW, “Buruh Negara” yang Terlupakan di Ambang Batas Sejahtera

    RedakturBy RedakturMei 1, 2026
    Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    KAMERA LIPUTAN – Setiap tanggal 1 Mei, kepalan tangan ribuan buruh mewarnai jalanan. Teriakan menuntut upah layak dan penghapusan sistem kontrak bergema dari pabrik-pabrik hingga ke depan istana. Namun, di antara riuhnya orasi tersebut, ada sekumpulan sosok berseragam rapi yang terjepit dalam sebuah paradoks identitas. Mereka adalah PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) Khususnya Paruh Waktu (PW), yang secara administratif disebut ASN, namun secara esensi merasai getirnya nasib sebagai “Buruh Negara”.

    Gengsi Nama, Realita Pahit di Dompet

    Menjadi bagian dari Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah impian bagi banyak orang. Namun, bagi para PPPK PW, label tersebut seolah menjadi “jebakan batman”. Di satu sisi, mereka memikul tanggung jawab besar sebagai garda terdepan Pelayanan Dalam Rantai Roda Pemerintahan. Di sisi lain, kesejahteraan mereka berjalan di tempat, bahkan seringkali berada di bawah ambang batas kelayakan hidup (KHL).

    Jika buruh swasta memiliki Serikat Buruh yang vokal menuntut kenaikan UMK setiap tahun, PPPK PW seringkali terbentur pada regulasi birokrasi yang kaku. Gaji pokok yang stag, tunjangan yang tak kunjung turun secara merata, serta ketiadaan jaminan pensiun membuat istilah “Buruh Negara” bukan sekadar julukan sinis, melainkan realitas yang menyesakkan dada.

    Baca:  Muh Natsir Dg Nassa: Paslon Walikota Makassar Danny-Fatma yang Bisa Lanjutkan Harapan Warga

    Paruh Waktu: Kerja Profesional, Upah Marginal

    Paruh Waktu bukan sekadar jabatan administratif. Mereka adalah kurator budaya, penggerak roda Pemerintahan Dilorong-lorong Kantor Daerah, Kelurahan, Sekolah Dan Puskesmas, Mereka dituntut mobile, kreatif, dan melek teknologi.

    Namun, mari kita bedah dapurnya. Dengan kenaikan harga bahan pokok dan inflasi yang terus meroket, take home pay banyak PPPK PW di daerah-daerah justru terasa “pas-pasan” untuk sekadar bertahan hidup dari tanggal satu ke tanggal berikutnya. Ketika mereka dituntut tampil prima dan energetik di hadapan rakyat, di balik seragamnya, mereka mungkin sedang menghitung sisa saldo untuk membayar cicilan atau biaya sekolah anak serta kebutuhan Pokok Lainnya.

    Baca:  Mengenal Sosok Hj. Hasna Syam, Istri Bupati Barru

    Inilah ambang batas kesejahteraan yang dimaksud. Mereka tidak miskin secara absolut, tapi mereka berada di jurang “kerentanan ekonomi”. Satu guncangan ekonomi atau sakit yang tak tercover penuh bisa menjatuhkan mereka ke bawah garis kemiskinan.

    Menagih Janji pada Momentum May Day

    Hari Buruh seharusnya menjadi momen refleksi bagi pemerintah. Jangan sampai skema PPPK Paruh Waktua hanya dijadikan cara untuk “membersihkan” tenaga honorer tanpa benar-benar memikirkan keberlangsungan hidup mereka dalam jangka panjang.

    Ada beberapa poin krusial yang harus disuarakan:

    Kepastian Kesejahteraan (Upah Layak): Peninjauan kembali skala gaji PPPK agar tidak hanya setara dengan UMR, tapi mencerminkan beban kerja dan inflasi tahunan.
    Kesetaraan Hak: Mempersempit jurang antara PNS dan PPPK terkait hak masa tua (pensiun) dan pengembangan karier.
    Pelindungan Kerja: Mengingat tugas Paruh Waktu sering berada di lapangan dengan risiko tinggi, jaminan keselamatan kerja atau Perlindungan Sosial harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap administratif.
    Penutup: Bukan Sekadar Angka di Data BKN

    Baca:  Kuota Haji Tambahan: Antara Keselamatan dan Kepastian Norma.

    Para PPPK PW adalah manusia di balik roda Pemerintahan. Mereka bukan sekadar angka di database BKN atau mesin penggerak birokrasi. Mereka adalah ayah, ibu, dan tulang punggung keluarga yang berhak atas kehidupan yang layak—kehidupan yang melampaui ambang batas “sekadar bertahan hidup”.

    Selamat Hari Buruh untuk para pejuang Keluarga, para “Buruh Negara” yang tetap mengabdi meski kesejahteraan masih menjadi mimpi. Saatnya negara tidak hanya menuntut dedikasi, tapi juga mencukupi nutrisi bagi hati dan perut mereka yang berjuang di garda depan.

    Jangan biarkan Paruh Waktu memandu jalan menuju sejahtera bagi orang lain, sementara mereka sendiri tersesat dalam labirin kemiskinan struktural.

    Oleh : Riyan Restu Hidayat, S.Sos., M.H. (Social Worker & Legal Consultant)

    Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram Copy Link Email
    Previous ArticleAjukan Hibah ; Ketua DPC APDESI Maros H. Wahyu Febry Lengkapi Berkas Persyaratan
    Next Article May Day: Antara Perjuangan Buruh dan Ironi Angka Pengangguran di Tengah Bonus Demografi

    Berita Lainnya:

    OPINI

    Menjaga Independensi Aparat Penegak Hukum dan Marwah Negara Hukum di Tengah Dugaan Perkara yang Melibatkan Sesama Penegak Hukum

    Juli 11, 2026
    OPINI

    Maros: Menapaki Jejak 67 Tahun, Merawat Marwah Butta Salewangang

    Juli 6, 2026
    OPINI

    Mengakar di Pesisir, Menjaga Masa Depan: Membaca Dampak Iklim Melalui Proyek Ekologis Mahasiswa UMMA

    Juni 12, 2026
    OPINI

    Kuota Haji Tambahan: Antara Keselamatan dan Kepastian Norma.

    Januari 27, 2026
    OPINI

    Aktivis dan Jalan Menuju PPPK: Fenomena yang Menggugah Pemikiran

    Januari 2, 2026
    Pos-pos Terbaru
    • Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa
    • Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros
    • Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar
    • Solusi di Tengah Kekeringan: Langkah Cerdas Pemkab Maros Kucurkan Rp2 Miliar Demi Alirkan Kehidupan ke Bontoa
    • Sahabat Laut Cilik, Mahasiswa KKN Unhas Tanamkan Kepedulian Ekosistem Laut Melalui Pelatihan Pembuatan Ecobrick di SD Inpres Panoang
    Top Posts

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,588 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026967 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026820 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews
    MAKASSAR

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    RedakturMaret 16, 2026
    PEMERINTAH

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    HTJanuari 30, 2026
    PEMERINTAH

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    HTJanuari 25, 2026
    Most Popular

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,588 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026967 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026820 Views
    Our Picks

    Peringatan HKG PKK ke-54, TP PKK Kabupaten Maros Gelar Pembinaan dan Penilaian Lomba Administrasi Perdana di Desa Ma’rumpa

    Agustus 1, 2026

    Sunyi di Jalan Azalea: Mengenang Kepergian Sang Penjaga Ruang KONI Maros

    Agustus 1, 2026

    Menakar Strategi Fiskal Maros: SiLPA 2025 Senilai Rp115 Miliar Dialokasikan demi Kesejahteraan Rakyat dan Layanan Dasar

    Juli 31, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp
    • Home
    • Technology
    • Gaming
    • Phones
    • Buy Now
    © 2026 KAMERA LIPUTAN by WEBPro.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.