KAMERA MAROS – Langit Makassar pada Kamis, 11 Juni 2026, tampak cerah, secerah raut wajah 387 jemaah haji asal Kabupaten Maros yang baru saja menginjakkan kaki di tanah air. Tepat di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Kloter 14 resmi merampungkan perjalanan spiritual mereka, kembali ke pelukan keluarga setelah sekian lama menunaikan ibadah di Tanah Suci.
Suasana kedatangan tak ubahnya sebuah reuni akbar yang penuh warna. Di tengah kerumunan penjemput, pemandangan mencolok tersaji di terminal kedatangan. Para ibu-ibu haji tampil anggun dan percaya diri dengan busana “bling-bling” khas kepulangan haji—padu padan kain berwarna cerah yang bertabur payet dan aksesori berkilau. Sementara itu, para jemaah laki-laki tampak berwibawa dengan jubah dan serban yang masih mereka kenakan, seolah membawa serta aroma kesucian dari Makkah hingga ke pintu kedatangan bandara.
Salah satu jemaah asal Kecamatan Tanralili, Hasna, menjadi potret kebahagiaan itu. Meski lelah setelah perjalanan panjang, ia tak melewatkan ritual “tampil maksimal” saat tiba di kampung halaman.
“Iya, dandannya tadi di atas pesawat. Tapi bajunya memang sudah dipakai dari Makkah,” ujar Hasna sembari tersenyum lebar. Bagi petani asal Tanralili ini, tidak ada kata yang mampu melukiskan rasa syukur dan lega setelah menuntaskan seluruh rangkaian ibadah di Tanah Suci. Di tangannya, sebuah boneka unta—oleh-oleh khas yang menjadi primadona—tampak ia genggam erat, simbol kenangan dari perjalanan yang takkan terlupakan.
Penyambutan resmi pun berlangsung hangat. Bupati Maros, Chaidir Syam, didampingi Wakil Bupati Muetazim Mansyur dan Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah, Ahmad Ihyadin, menyambut kedatangan 387 warganya dengan wajah bangga.
Bupati Chaidir Syam menjelaskan bahwa Kloter 14 ini tergolong istimewa karena berisi jemaah utuh dari Kabupaten Maros, yang terdiri dari 127 laki-laki dan 260 perempuan. “Alhamdulillah, seluruh jemaah kembali dalam keadaan selamat,” ucap mantan Ketua DPRD Maros tersebut penuh syukur.
Meski perjalanan udara memakan waktu yang cukup lama, kondisi kesehatan para jemaah secara umum terpantau baik. Hanya segelintir jemaah, sekitar lima hingga tujuh orang, yang membutuhkan kursi roda saat turun dari pesawat—sebuah konsekuensi logis dari faktor usia dan kelelahan fisik.
“Kami pantau langsung saat mereka turun. Selebihnya, mereka tampak bugar dan sangat bahagia bisa kembali ke rumah,” tambah Chaidir.
Hari itu, Bandara Sultan Hasanuddin bukan sekadar pintu keluar-masuk penerbangan, melainkan menjadi saksi bisu kembalinya ratusan jiwa yang telah menanggalkan atribut duniawi demi meraih gelar haji yang mabrur. Kini, para jemaah telah kembali ke Maros, membawa serta kerinduan yang tuntas dan doa-doa yang niscaya segera menggema di rumah-rumah mereka.







