blank

Tinta Kejujuran dari Butta Salewangang: Saat Curhatan Anak Maros Mengetuk Pintu Kekuasaan

blank

KAMERA MAROS – Pagi itu, Lapangan Pallantikang di Kabupaten Maros tidak hanya dipenuhi oleh barisan rapi aparatur sipil negara yang mengikuti apel Senin rutin. Di bawah langit Juli 2026 yang cerah, ada sesuatu yang lebih kuat dari sekadar protokoler kedinasan. Ada getaran harapan yang tertuang dalam lembaran-lembaran kertas folio dan surat tulisan tangan yang diserahkan kepada Bupati Maros, Chaidir Syam.,Senin (27/07/2026).

Surat-surat itu bukan sekadar formalitas lomba. Mereka adalah “manifesto” kecil dari para pemilik masa depan Maros—anak-anak yang selama ini mungkin hanya melihat hiruk-pikuk pembangunan dari balik jendela sekolah atau dari sudut taman bermain yang mulai aus.

Hafidz: Tiga Jam untuk Sebuah Harapan

Mari mengenal Muh Al Hafidz. Siswa SMP Al Ishlah ini mungkin tidak menyangka bahwa ketekunannya menggoreskan pena selama tiga jam akan berbuah manis. Dengan tulisan tangan sepanjang lima hingga enam paragraf, Hafidz tidak meminta mainan mahal atau kemewahan. Ia meminta sesuatu yang fundamental: Pendidikan.

Bagi Hafidz, pendidikan adalah kunci agar setiap anak di Maros memiliki kesempatan yang sama untuk “tuntas” belajar. Ketulusannya berbuah juara pertama kategori usia 9-12 tahun. Sebuah sepeda baru kini menjadi miliknya, namun pesan dalam suratnya jauh lebih berharga daripada pedal dan roda: bahwa di mata seorang anak, keberhasilan pemerintah diukur dari seberapa merata ilmu dibagikan.

Mutmainnah: Keberanian Menyuarakan Ketidakadilan

Bergeser ke kategori usia 16-18 tahun, kita bertemu dengan Mutmainnah, siswi SMA Negeri 9 Maros. Suratnya tidak hanya berisi saran, tetapi juga kritik tajam yang dewasa. Mutmainnah membawa isu yang sering kali tersembunyi di balik angka-angka statistik: perundungan (bullying) dan ketidakadilan sosial.

Dengan berani, ia menyoroti Program Indonesia Pintar (PIP) yang menurut pengamatannya sering kali salah sasaran. “Kebanyakan yang menerima justru keluarga yang berkecukupan, sementara yang benar-benar miskin ada yang tidak mendapat,” ungkapnya jujur.

Mutmainnah juga menyentuh sisi kemanusiaan tentang trauma anak-anak akibat perundungan. Baginya, fasilitas pendidikan bukan sekadar gedung yang megah, melainkan ruang aman di mana hak-hak anak dilindungi dan keadilan ditegakkan. Dua halaman kertas folio miliknya adalah sebuah potret realita yang ia serahkan langsung ke meja pemimpinnya.

Aisyah: Menanti Ruang Bermain yang Layak

Tak ketinggalan, Andi Aisyah Nurul Aqilah menyuarakan keresahan tentang ruang publik. Ia menyoroti minimnya fasilitas umum yang ramah anak di Maros. Banyak fasilitas yang sudah ada justru terbengkalai dan rusak. Bagi Aisyah, kota yang hebat adalah kota yang membiarkan anak-anaknya bermain dengan aman dan nyaman tanpa rasa takut akan fasilitas yang rapuh.

Lebih dari Sekadar Lomba

Apa yang terjadi di Maros pada Senin, 27 Juli 2026 itu adalah sebuah praktik demokrasi yang paling murni. Melalui Lomba Menulis Surat untuk Bupati, Pemerintah Kabupaten Maros dan Forum Anak Butta Salewangang telah membuka saluran komunikasi yang menyentuh hati.

Bupati Chaidir Syam tidak hanya menerima kertas, ia menerima “suara hati.” Dari surat-surat ini, pemerintah diingatkan bahwa pembangunan bukan hanya soal beton dan aspal, tapi soal distribusi bantuan yang adil, perlindungan dari perundungan, dan penyediaan ruang untuk tumbuh kembang yang bahagia.

Anak-anak Maros telah membuktikan bahwa meski tangan mereka masih kecil, goresan pena mereka mampu membawa pesan yang besar. Mereka tidak lagi hanya menunggu masa depan; mereka sedang ikut menuliskannya, satu paragraf demi satu paragraf.

Semoga, setiap saran dalam surat-surat itu tidak hanya berakhir di arsip pemerintah, tapi menjelma menjadi kebijakan yang nyata. Sebab, seperti kata Hafidz, setiap anak berhak atas pendidikan yang tuntas, dan seperti kata Mutmainnah, keadilan adalah hak setiap insan, tak peduli berapa pun usianya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: