blank

Raungan di Pagi Hari: Ketika Tukamasea Diuji Angin Puting Beliung

blank

MAROS, Kameraliputan.com – Langit di atas Desa Tukamasea, Kecamatan Bantimurung, masih bermanja dengan bias mentari yang hangat. Aktivitas warga sudah menggeliat; bau kopi dan gorengan tersaji di meja-meja sederhana, diiringi suara ayam berkokok dan tawa anak-anak yang bersiap berangkat mengaji. Nenek Salma, dengan rambut memutih dan punggung sedikit bungkuk, menikmati secangkir teh di beranda rumah kayunya, tak jauh dari kandang ternak miliknya. Hari itu menjanjikan kedamaian seperti biasanya.

Namun, sekitar pukul 09.40 Wita, sebuah hening yang ganjil tiba-tiba menyelimuti desa. Burung-burung berhenti berkicau, daun-daun tak lagi gemerisik. Kemudian, gemuruh itu datang. Bukan gemuruh guntur yang biasa, melainkan raungan dahsyat yang semakin memekakkan telinga, seolah ada kereta raksasa yang melaju kencang di atas kepala.

Nenek Salma tersentak. Ia melongok ke luar, dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Di kejauhan, ia melihat dinding gelap berputar-putar, bergerak cepat mendekati permukiman mereka. “Angin puting beliung!” teriaknya panik, suaranya tenggelam dalam deru angin yang kini terdengar seperti lolongan binatang buas.

Dalam hitungan detik, Desa Tukamasea adalah mimpi buruk yang hidup. Angin kencang itu menghantam tanpa ampun. Suara kayu patah, seng bergesekan, dan batu bata berjatuhan menjadi melodi mengerikan yang memenuhi udara. Atap-atap rumah terangkat paksa dari fondasinya, beterbangan seperti kertas disapu badai. Dinding-dinding roboh tak berdaya, memuntahkan isi rumah ke luar.

Nenek Salma buru-buru meraih cucunya yang masih kecil, berhamburan keluar rumah bersama warga lain, mencari perlindungan di tempat terbuka yang mereka anggap lebih aman, meski ketakutan merenggut akal sehat. Mereka hanya bisa menyaksikan rumah-rumah yang dibangun dengan keringat bertahun-tahun, kini luluh lantak dihempas kekuatan alam yang tak terlihat. Kandang ternak miliknya ambruk dalam sekejap, menyisakan puing dan jeritan hewan yang ketakutan. Gedung TPA setempat, yang baru saja direnovasi, tak luput dari terjangan.

Ketika raungan itu mereda, sekitar pukul 09.45 Wita, dan puting beliung itu berlalu secepat ia datang, hanya menyisakan desah angin dan keheningan mencekam. Warga perlahan keluar dari persembunyian mereka, napas lega bercampur isak tangis. Tidak ada korban jiwa. Sebuah mukjizat di tengah puing-puing yang berserakan.

Namun, pemandangan di hadapan mereka adalah puing. Belasan rumah dan bangunan rusak parah. Atap-atap berserakan hingga ratusan meter, dinding-dinding hanya menyisakan kerangka, dan beberapa bagian dapur hancur tak berbentuk. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah, angka yang begitu besar bagi masyarakat desa.

Tak lama berselang, sirine kendaraan terdengar. Personel Polsek Bantimurung yang dipimpin Kapolsek AKP Siswandhy, S.Sos, langsung bergerak cepat menuju Dusun Manarang dan Dusun Bontokappong, dua wilayah yang paling parah terdampak di Desa Tukamasea. Dengan sigap, petugas membantu mengevakuasi material rusak, mendata seluruh bangunan yang terdampak, dan memastikan kondisi warga.

“Setelah menerima laporan dari warga, kami langsung bergerak ke lokasi untuk memastikan kondisi masyarakat dan melakukan pendataan kerusakan. Prioritas kami adalah keselamatan warga serta memastikan penanganan awal berjalan cepat dan tepat,” ujar AKP Siswandhy, sembari mengarahkan anggotanya.

Di tengah puing dan debu, sebuah cahaya mulai berpendar. Tangan-tangan warga saling membantu mengangkat reruntuhan, berbagi makanan, dan menenangkan satu sama lain. Polsek Bantimurung pun telah berkoordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan untuk langkah penanganan lanjutan, mulai dari bantuan darurat hingga rencana rehabilitasi. Hingga kini, petugas masih melakukan pemantauan di Desa Tukamasea, memastikan situasi tetap aman pasca-kejadian.

Puting beliung mungkin telah merenggut banyak, meratakan mimpi dan kerja keras. Namun, ia gagal merenggut hal yang paling berharga: semangat juang dan ikatan persaudaraan warga Tukamasea yang kini bangkit, siap membangun kembali dari puing, lebih kuat dari sebelumnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: