KAMERA MAKASSAR – Sebuah Insiden Yang Terjadi Kepada Aktivis dan kini terguncang oleh aksi kebiadaban yang mengiris hati nurani. Di tengah gemuruh kota yang mulai pulih dari gelombang waktu, muncul luka baru—bukan luka biasa, melainkan bekas cairan kimia pembakar kulit yang disiramkan kepada seorang aktivis KontraS, Andrie Yunus. Aksi penyiraman air keras ini bukan hanya serangan terhadap tubuh, tapi pukulan telak terhadap demokrasi, nurani, dan harga diri bangsa.
Ketua PC PMII Kota Makassar, Muh. Arfiansyah Aris, menyatakan keprihatinan mendalam atas peristiwa yang terjadi. “Ini bukan hanya kriminal biasa. Ini adalah teror yang sistematis terhadap suara kebenaran,” tegasnya dengan nada yang getas namun tegas. Ia menilai tindakan keji tersebut sebagai bentuk kekerasan yang tidak hanya menghancurkan jaringan kulit, tapi juga merusak fondasi kemanusiaan dan ruang demokrasi yang selama ini diperjuangkan oleh banyak orang.
“Penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus bukan sekadar serangan individu. Ini adalah ancaman terhadap seluruh gerakan masyarakat sipil. Ketika satu aktivis diserang, maka seluruh kita—mahasiswa, jurnalis, pekerja HAM—ikut terluka,” tambah Arfiansyah.
Andrie Yunus, dikenal sebagai suara yang tak lekang oleh tekanan, selama ini aktif mengungkap kasus-kasus pelanggaran HAM, menuntut pertanggungjawaban negara, serta membela para korban kebijakan yang kelam. Suaranya bukan sekadar kata-kata, melainkan jerit hati rakyat kecil yang tak punya tempat berlindung. Kini, tubuhnya menjadi medan pertarungan antara teror dan keberanian.
PC PMII Kota Makassar berdiri tegak di garis depan tuntutan keadilan. Mereka menyerukan kepada aparat penegak hukum untuk bekerja transparan, cepat, dan tanpa kompromi. “Kami tidak akan puas dengan pernyataan simpati belaka. Kami butuh keadilan nyata. Pelaku harus diungkap, motif harus terkuak, dan pelindung di balik bayang-bayang kegelapan harus diusut sampai ke akarnya,” tandas Arfiansyah.
Lebih dari itu, peristiwa ini menjadi cerminan betapa rapuhnya ruang sipil di tengah republik yang mengaku demokratis. Intimidasi terhadap aktivis, jurnalis, dan pegiat HAM bukan lagi hal baru, tapi semakin sistematis dan terstruktur. Penyerangan terhadap Andrie adalah alarm merah—peringatan bahwa kebebasan berpendapat sedang dikepung oleh kekuatan-kekuatan yang takut pada kebenaran.
“Negara hadir bukan hanya untuk menjaga ketertiban, tapi juga menjamin bahwa setiap warga negara bisa bernapas bebas tanpa rasa takut. Jika negara gagal melindungi para pejuang HAM, maka legitimasinya pun ikut terbakar—seperti kulit Andrie yang hangus terkena asam,” ujar Arfiansyah, menyampaikan peringatan yang keras namun penuh harapan.
Masyarakat Makassar, dari kampus ke kampung, dari warung kopi hingga ruang-ruang diskusi, kini bersuara dengan satu nada: usut tuntas, jangan diam, jangan takut.
Di tengah panasnya aspal kota, di sela deru motor dan debu jalan, tumbuh semangat baru—semangat yang tak bisa dibakar oleh air keras, karena ia terbuat dari api kebenaran. Andrie mungkin terluka, tapi suaranya makin bergema. Dan bersamanya, PC PMII Kota Makassar berjanji: tidak akan pernah menyerah.
Karena di balik setiap bekas luka, ada janji untuk terus melawan.
Di balik setiap tetes air keras, ada doa untuk keadilan yang tak pernah padam.
Dan di balik dinding-dinding kantor polisi, kita semua berseru: BEBASKAN ANDRIE DARI KETIDAKADILAN. USUT TUNTAS!


