KAMERA MAROS – Dalam upaya nyata mendukung penataan administrasi desa yang lebih modern, akurat, dan transparan, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) Infrastruktur Pekerjaan Umum (PU) Gelombang 116 Universitas Hasanuddin (Unhas) berhasil merampungkan program kerja individu strategis. Program tersebut bertajuk “Digitalisasi Pemetaan Batas Wilayah Dusun di Desa Bonto Matene Melalui Geographic Information System (GIS)”.6/8/2026.

Keberhasilan program ini ditandai dengan prosesi penyerahan peta pemetaan batas wilayah per dusun dalam bentuk hardfile (cetak) berkualitas tinggi kepada Pemerintah Desa Bonto Matene. Acara penyerahan berlangsung khidmat di Kantor Desa Bonto Matene, Maros.
Berdasarkan foto dokumentasi, terlihat momen serah terima peta tersebut. Peta administratif Desa Bonto Matene yang dicetak besar dan dipasangi bingkai rapi diserahkan oleh perwakilan mahasiswa KKN-T Unhas kepada perwakilan Pemerintah Desa Bonto Matene. Tampak dalam foto, Koordinator Desa (Kordes) KKN-T Unhas bersama lima rekan mahasiswa lainnya—yang mengenakan rompi merah khas KKN Tematik Unhas—berfoto bersama Bapak Kepala Desa Bonto Matene (yang mengenakan kemeja batik dan kopiah) di ruang pertemuan kantor desa. Ekspresi kebahagiaan dan apresiasi terpancar dari wajah kedua belah pihak saat memegang peta hasil karya mahasiswa tersebut.
Program digitalisasi wilayah ini dilatarbelakangi oleh krusialnya kepastian batas administratif antar dusun sebagai fondasi utama perencanaan pembangunan desa, alokasi anggaran yang tepat sasaran, hingga optimalisasi tata kelola pelayanan publik. Sebelum adanya program ini, batas-batas antar dusun di Desa Bonto Matene masih mengandalkan acuan lisan turun-temurun dan batas alam informal, yang rentan menimbulkan ketidakjelasan dan potensi konflik di masa depan.
Merespons kondisi tersebut, mahasiswa KKN-T Unhas mengambil inisiatif untuk membuat peta digital berbasis GIS. Teknologi ini memungkinkan dihasilkannya peta spasial dengan presisi tinggi serta mudah diakses dan diperbarui.
Pelaksanaan program dilakukan secara bertahap dan partisipatif. Diawali dengan survei lapangan dan pelacakan batas wilayah bersama tokoh masyarakat, kepala dusun, serta perangkat desa. Data spasial valid yang dihimpun di lapangan kemudian diolah menggunakan perangkat lunak GIS canggih untuk memetakan koordinat, garis batas yang tegas, serta pembagian wilayah tiap dusun secara komprehensif. Hasil akhir dari sistem informasi geografis ini dicetak menjadi peta fisik (hardfile) yang jernih dan detail, siap digunakan oleh aparatur desa.
Koordinator Mahasiswa KKN-T Infrastruktur PU Unhas Gelombang 116 Desa Bonto Matene menyampaikan harapan besar agar program ini menjadi kontribusi nyata akademisi dalam mendorong digitalisasi di tingkat desa.
“Digitalisasi pemetaan batas dusun berbasis GIS ini kami hadirkan agar Desa Bonto Matene memiliki basis data spasial yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Peta cetak yang kami serahkan hari ini bukan sekadar arsip visual, melainkan instrumen vital dalam penyusunan kebijakan pembangunan infrastruktur dan mitigasi potensi konflik batas wilayah di masa depan,” ujarnya penuh semangat.
Pihak Pemerintah Desa Bonto Matene menyambut hangat dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas terselesaikannya peta wilayah tersebut. Kepala Desa Bonto Matene menegaskan bahwa keberadaan peta batas dusun berbasis GIS ini sangat membantu kinerja aparatur desa.
“Kami sangat berterima kasih kepada mahasiswa KKN-T Unhas atas dedikasi dan karyanya. Peta cetak hardfile ini akan langsung kami pasang di ruang rapat desa dan dimanfaatkan sebagai acuan resmi dalam musyawarah perencanaan pembangunan desa (Musrenbangdes) serta penyelesaian urusan administrasi dusun,” tutur Kepala Desa dengan nada bangga.
Melalui keberhasilan program kerja individu ini, mahasiswa KKN-T Infrastruktur PU Gelombang 116 Unhas berharap Desa Bonto Matene dapat terus mengembangkan pemanfaatan teknologi geospasial dalam tata kelola pemerintahan desa. Peta ini diharapkan tidak hanya menjadi produk akhir, tetapi awal dari pengelolaan wilayah yang lebih presisi, efisien, dan modern di Desa Bonto Matene, serta menjadi contoh bagi desa-desa lain di Sulawesi Selatan

