KAMERA MAROS – Pesisir sering kali dipandang hanya sebagai batas daratan dan lautan, sebuah ruang rekreasi
tempat angin berhembus bebas. Namun, bagi masyarakat yang hidup di sepanjang garis pantai Kabupaten Maros, pesisir adalah ruang juang yang penuh dengan dinamika ekologis dan sosial. Di sanalah benteng alam berdiri kokoh menantang ombak, dan di sana pula para nelayan tradisional mempertaruhkan nyawa di tengah ketidakpastian iklim yang kian
mengkhawatirkan.
Berangkat dari kesadaran tersebut, kami, mahasiswa Semester II Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Muslim Maros (UMMA), bergerak turun langsung ke lapangan. Langkah kaki ini diarahkan menuju ke Ampekale, sebuah desa di Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Langkah ini bukan sekadar untuk memenuhi tuntutan tugas proyek mata kuliah Ilmu Lingkungan dan Kearifan Lokal, melainkan sebuah pengejawantahan nyata dari visi besar kampus kami: menjadi universitas pelestari lingkungan dan kearifan lokal.
Dari hasil pengamatan, wawancara, dan interaksi langsung dengan alam pesisir Desa
Ampekale, kami menemukan potret kontras yang menuntut perhatian bersama.

Mangrove Ampekale: Benteng Mekanis dan Pengatur Suhu Alami Data lapangan yang kami himpun di Desa Ampekale menegaskan bahwa hutan mangrove bukan sekadar sekumpulan pohon yang tumbuh di lumpur asin. Secara mekanis, mereka adalah “pahlawan tanpa tanda jasa” yang menjaga kedaulatan daratan Maros dari abrasi.
Melalui struktur akar-akarnya yang tumbuh dengan sangat rapat dan padat, mangrove di
wilayah Bontoa ini bekerja memperlambat arus air laut. Jaringan akar ini mencengkeram
sedimen bumi, secara efektif menekan risiko pengikisan pantai yang perlahan bisa mengikis
ruang hidup manusia. Lebih jauh lagi, vegetasi ini bertindak sebagai peredam energi
gelombang; hantaman ombak besar yang datang dari laut lepas diurai kekuatannya secara bertahap sebelum sempat menyentuh bibir pantai dan pemukiman warga.
Tidak hanya memberikan perlindungan fisik, hutan mangrove Desa Ampekale juga menawarkan kenyamanan termal (mikroklimat) yang luar biasa. Saat kami melakukan pengamatan pada
siang hari yang terik, udara di area terbuka atau di pinggiran gazebo pesisir terasa sangat
panas dan menyengat akibat pantulan langsung matahari. Namun, atmosfer berubah drastis ketika kami melangkah masuk ke dalam area tutupan pohon-pohon mangrove. Udara seketika berubah menjadi sangat sejuk, rindang, dan dingin.
Fenomena ini membuktikan bahwa keragaman spesies mangrove di lokasi tersebut berfungsi
sebagai sistem pendingin ruangan alami berskala mikro. Keberadaan keanekaragaman hayati ini adalah bukti kekayaan alam pesisir Bontoa yang wajib dijaga kelestariannya dari
tangan-tangan eksploitatif.
Nestapa di Laut Lepas: Saat Perubahan Iklim Mengikis Pendapatan Nelayan Bontoa
Namun, cerita dari pesisir Ampekale tidak melulu soal keindahan ekologis. Sesuai dengan
esensi mata kuliah yang kami pelajari—yang menekankan interaksi manusia dengan
lingkungannya—kami juga menangkap getir kehidupan komunitas nelayan tradisional setempat yang kian terhimpit oleh anomali cuaca global. Perubahan iklim bukan lagi sekadar narasi di jurnal-jurnal ilmiah, melainkan ancaman nyata yang dihadapi para nelayan Maros setiap kali mereka menghidupkan mesin perahunya.
Data di lapangan menunjukkan betapa tingginya risiko keselamatan yang harus dipertaruhkan oleh para nelayan saat ini. Perubahan iklim memicu kemunculan cuaca ekstrem, seperti badai
di tengah laut yang kerap datang secara tiba-tiba tanpa bisa diprediksi oleh kearifan tradisional membaca tanda-tanda alam yang biasanya mereka gunakan.
Dalam banyak situasi darurat, para nelayan sering kali terjebak. Mereka terpaksa bertahan di tengah kepungan ombak dan badai di laut lepas, menunggu berjam-jam hingga situasi mereda demi bisa pulang ke daratan Bontoa dengan selamat. Pilihan yang mereka miliki sangat tipis: bertaruh nyawa di tengah laut, atau pulang dengan tangan hampa.
Ketidakpastian ini berbanding lurus dengan kemerosotan ekonomi domestik mereka. Karena cuaca yang tidak menentu, usaha melaut kini menjadi spekulasi yang tidak pasti. Frekuensi melaut yang menurun drastis secara otomatis memotong volume hasil tangkapan. Akibatnya, pendapatan nelayan Desa Ampekale merosot tajam, menciptakan siklus kemiskinan baru yang
mengancam kesejahteraan keluarga mereka.
Kesimpulan: Refleksi Akademis dari Menara Gading ke Akar Rumput
Turunnya mahasiswa Semester II PBSI UMMA ke Desa Ampekale menjadi sebuah refleksi
penting bahwa insan akademis tidak boleh hanya duduk diam di dalam ruang kelas atau
bersembunyi di balik menara gading teori. Bahasa dan sastra memang menjadi disiplin ilmu utama kami, namun melalui lensa Ilmu Lingkungan dan Kearifan Lokal, kami diajar untuk menyuarakan jeritan lingkungan dan kemanusiaan lewat narasi yang berbasis data nyata.
Hasil riset lapangan ini membawa pesan kuat bagi kita semua: konservasi dan restorasi
berbagai jenis variasi mangrove di Kabupaten Maros mendesak untuk diperluas demi menjaga ekosistem pesisir. Di saat yang sama, kebijakan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim harus segera dirancang untuk melindungi para nelayan lokal.
Menjaga mangrove adalah menjaga daratan kita; mendengarkan suara nelayan adalah cara
kita merawat nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi ruh dari Universitas Muslim Maros.
Keberlanjutan alam Maros ada di tangan kepedulian kita hari ini.






