Kamera Makassar ,- Dari balik pintu kayu ukir yang kokoh di Baruga Asta Cuta, suara itu terdengar tegas dan jelas, memotong kesunyian ruang yang dipenuhi para pemimpin. Itu adalah suara Menteri Tito Karnavian, sebuah suara yang tidak hanya mengisi ruang jabatan Gubernur Sulsel tetapi juga menyusup ke dalam benak setiap Bupati dan Wali Kota yang hadir. Di antara mereka, duduk dengan penuh perhatian, adalah Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin. Ia menyimak setiap kata, setiap penekanan, tentang sebuah mantra yang sering diucapkan namun tak selalu mudah diwujudkan: sinergi .

Pertemuan tertutup itu bukan sekadar formalitas. Di bawah sorotan lampu kristal, Tito Karnavian melukis peta jalan pemerintahan yang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Provinsi, kabupaten, dan kota merupakan satu kesatuan organik; jika satu bagian kaku, seluruh tubuh akan limbung. Ia bukan hanya pertemuan kekompakan, tetapi merancang suatu mekanisme untuk memastikannya: evaluasi empat bulanan . Sebuah forum brainstorming yang rutin, bukan lagi sekadar laporan, melainkan ruang kreatif untuk memecahkan kebuntuan dan memperluas strategi bersama. Pesan kedua yang ditegaskan adalah fondasi dari segala pembangunan: stabilitas keamanan. Mendagri mengingatkan perlunya kewaspadaan yang aktif, sebuah jaring deteksi dini yang ditenun melalui komunikasi yang intim dengan tokoh masyarakat dan soliditas Forkopimda. Ini adalah strategi pencegahan, sebuah langkah untuk mengatasi masalah sebelum membesar, sebelum api kecil menghabiskan hamparan rumput yang kering.
Lalu, giliran Wali Kota Makassar merespons. Munafri Arifuddin bukan hanya menyambut dengan baik; ia menerjemahkan Arahan itu dalam bahasa aksi. Dengan nada yang pasti namun bersahaja, ia menegaskan komitmen Pemkot Makassar untuk tidak hanya menjadikan Makassar sebagai kota yang kuat sendiri, melainkan sebagai mitra yang aktif dan Andal bagi provinsi dan seluruh kabupaten/kota se-Sulsel. Visinya konkrit. Bagi Pak Munafri, sinergi itu bukan retorika. Ia adalah alat untuk mencapai tujuan riil: menjaga keamanan yang nyaman bagi warganya, menekan inflasi yang kerap menyulitkan rakyat kecil, meningkatkan kualitas belanja pemerintah agar setiap rupiah bermakna, serta membuka jalan lebar bagi sektor swasta dan UMKM untuk bernapas dan bertumbuh. “Semua ini pada akhirnya bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya, mengingatkan bahwa seluruh mesin pemerintahan hanya punya satu tujuan akhir: rakyat.
Sementara itu Kadis Kominfo Makassar, Dr. Muhammad Roem, S.STP., M.Si, memaparkan sebuah terobosan: Program Lontara Satu Kata Satu App . Di hadapan Mendagri dan Wali Kota, ia menjelaskan bagaimana aplikasi ini dirancang untuk menyatukan layanan, informasi, dan keluhan masyarakat dalam satu platform tunggal. Sebuah aplikasi yang tidak hanya pintar secara teknologi, namun juga mengusung semangat kebersamaan dan kemudahan akses, justru mencerminkan semangat sinergi yang digaungkan Mendagri.
Pertemuan di Baruga Asta Cuta pada hari itu pun berakhir. Namun, yang tertinggal bukan hanya kenangan atau berita di media. Yang tertinggal adalah sebuah cetak biru kolaborasi. Sebuah komitmen yang diungkapkan dalam ruang tertutup, namun dampaknya diharapkan akan terasa di setiap sudut kota Makassar dan wilayah Sulawesi Selatan, dari pusat pemerintahan hingga ke warung-warung kopi tempat perjuangan UMKM, menunggu terealisasinya kata ‘sinergi’ menjadi aksi nyata.






