KAMERA MAROS, Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax memicu berbagai strategi penghematan di tengah masyarakat. Salah satu aksi nyata yang menarik perhatian datang dari pejabat publik, yakni Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Maros, M. Ferdiansyah. Ia memilih untuk mengayuh sepeda sejauh 20 kilometer dari rumahnya di Kota Makassar menuju tempat kerjanya di Maros demi menekan biaya pengeluaran operasional kendaraan.
Setiap hari Selasa dan Jumat, Ferdiansyah rutin melakukan perjalanan antar-kota tersebut menggunakan moda transportasi ramah lingkungan. Ia bertolak dari kediamannya yang berada di Kelurahan Daya, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, menuju Kantor Bapenda Maros yang berlokasi di Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros.
Mantan Kepala Dinas Pariwisata Maros ini mengungkapkan bahwa kebiasaan bersepeda ke kantor sebenarnya bukanlah hal baru bagi dirinya. Ia telah merintis rutinitas sehat ini sejak tahun 2015 ketika masih mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Maros. Namun, jika dahulu ia hanya bersepeda satu kali dalam sepekan, penyesuaian harga BBM terbaru membuatnya mantap meningkatkan frekuensi gowes menjadi dua kali seminggu.
“Dua kali seminggu saya naik sepeda ke kantor, setiap hari Selasa dan Jumat. Sejak harga BBM mengalami kenaikan, frekuensi bersepedanya memang saya tambah demi efisiensi biaya perjalanan,” ujar Ferdiansyah, Jumat (12/6/2026).
Kombinasi Sepeda dan Skuter Listrik
Selain mengandalkan kekuatan kayuhan sepeda, ayah tiga anak ini juga mulai mengadopsi teknologi kendaraan listrik mikro. Sebagai alternatif moda transportasi hemat energi lainnya, ia mengalokasikan satu hari khusus dalam sepekan untuk berangkat kerja menggunakan skuter listrik. Langkah kombinasi ini dinilai sangat efektif dalam memangkas anggaran transportasi harian.
Ferdiansyah menjelaskan, jika ia menempuh perjalanan pulang-pergi dari rumah menuju kantor menggunakan mobil pribadi atau kendaraan bermotor konvensional, konsumsi BBM jenis Pertamax bisa mencapai sekitar lima liter. Dengan beralih ke sepeda dan skuter listrik, pengeluaran tersebut dapat ditekan secara signifikan. Sementara itu, untuk keperluan mobilisasi kedinasan atau kegiatan lapangan yang mendesak, ia tetap memanfaatkan fasilitas mobil dinas operasional yang selalu bersiap (stand by) di kantor.
Manfaat Kebugaran Fisik dan Manajemen Waktu
Bersepeda sejauh puluhan kilometer lintas kabupaten/kota tentu menuntut manajemen waktu yang sangat disiplin. Agar tidak mengganggu jam pelayanan publik dan dapat tiba tepat waktu, Ferdiansyah harus bersiap dan mulai mengayuh sepedanya sejak pagi buta.
“Saya sudah mulai berangkat pukul 06.00 Wita dari rumah di Daya, dan biasanya tiba di kantor di Turikale sekitar pukul 07.00 Wita,” terangnya. Menurutnya, keputusan berangkat lebih pagi juga membawa keuntungan tersendiri karena ia dapat menghindari sengatan terik matahari serta paparan polusi udara dari kepadatan lalu lintas jalan poros Makassar-Maros.
Menyadari risiko fisik dan tuntutan penampilan sebagai aparatur sipil negara (ASN), Ferdiansyah menyiasatinya dengan membawa seluruh perlengkapan kerja di dalam tas ranselnya. “Kalau naik sepeda saya bawa tas ransel yang berisi baju kerja, alat mandi, dan sepatu. Nanti begitu sampai di kantor, saya bisa langsung bersih-bersih dan berganti pakaian resmi sebelum memulai aktivitas pelayanan,” tambahnya lagi.
Selain berdampak positif terhadap stabilitas kantong dan penghematan energi, ia mengaku aktivitas gowes jarak jauh ini membuat kondisi fisiknya jauh lebih bugar, sehat, serta meningkatkan daya tahan tubuh di tengah padatnya aktivitas kerja







