blank

Bupati Maros Gagas Transformasi Digital Kesehatan, Studi Tiru Implementasi SIMRS ke RSJP Paramarta Bandung

blank

BANDUNG, Kameraliputan.com – Dalam langkah strategis mempercepat digitalisasi layanan kesehatan di Kabupaten Maros, Bupati Maros, Dr. H. A. S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., bersama rombongan pejabat setingkat kepala dinas, direktur rumah sakit, serta tim IT kesehatan daerah, melakukan kunjungan kerja dan studi tiru ke Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJP) Paramarta Bandung. Kunjungan ini merupakan bagian dari rangkaian persiapan penerapan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) Transmedic di RSUD Camba, yang diharapkan menjadi garda terdepan layanan kesehatan digital di Sulawesi Selatan.

Diterima secara hangat oleh Direktur RSJP Paramarta, dr. Jimmy Agung Pambudi, M.Kes., kunjungan ini bukan sekadar agenda protokoler, melainkan langkah nyata Maros dalam merancang masa depan kesehatan yang lebih cerdas, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.

Menuju Pelayanan Tanpa Batas: Maros Belajar dari Keberhasilan Bandung

RSJP Paramarta Bandung menjadi destinasi utama karena keberhasilannya menerapkan SIMRS Transmedic secara menyeluruh—sebuah sistem yang tidak hanya mengelola data medis, tetapi juga mengintegrasikan semua aspek operasional rumah sakit: dari pendaftaran pasien secara online, rekam medis elektronik (e-RME), manajemen farmasi digital, hingga sistem penagihan otomatis dan dashboard monitoring kinerja real-time.

“Kami datang bukan untuk meniru begitu saja, tapi untuk memahami esensi di balik keberhasilan digitalisasi,” ujar Bupati Chaidir Syam dalam sambutannya. “Di era sekarang, layanan kesehatan yang lambat dan manual bukan hanya merepotkan, tapi juga berisiko. Digitalisasi bukan lagi pilihan—ia adalah kebutuhan mutlak.”

Bupati menambahkan bahwa RSUD Camba, sebagai salah satu rumah sakit rujukan utama di wilayah pegunungan Maros, memiliki tantangan tersendiri—termasuk aksesibilitas dan keterbatasan infrastruktur. Namun, justru karena alasan itulah transformasi digital harus dikebut. “Pasien di Camba juga berhak mendapatkan layanan secepat dan seakurat di kota besar. Dengan SIMRS, data rekam medis bisa tersimpan aman, transaksi bisa dilacak, dan waktu tunggu pasien bisa ditekan hingga 70%,” jelasnya.

Melihat Langsung Jalannya Mesin Digital Kesehatan

Dalam sesi on-site demonstration, rombongan Maros diajak melihat langsung pusat kendali digital RSJP Paramarta—suatu ruangan dengan monitor besar yang menampilkan grafik real-time jumlah pasien, ketersediaan tempat tidur, antrean rawat jalan, bahkan prediksi beban kerja tim medis. “Ini sangat impresif,” komentar dr. Rina Fitriani, Direktur RSUD Camba. “Bayangkan jika kita bisa memprediksi rush hour di IGD atau mengetahui stok obat hampir habis hanya dari satu layar. Kita bisa bertindak lebih proaktif, bukan reaktif.”

Tim IT dari Maros pun turut melakukan deep discussion dengan tim RSJP Paramarta terkait tantangan teknis: masalah bandwidth, pelatihan SDM, keamanan data, hingga strategi sosialisasi kepada petugas dan masyarakat. “Kami belajar bahwa suksesnya digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi juga budaya kerja dan kesiapan mental,” kata Ahmad Fadhil, Koordinator IT Dinas Kesehatan Maros.

Visi Jangka Panjang: Layanan Kesehatan yang Ramah dan Cerdas

Menurut Bupati Chaidir Syam, adopsi SIMRS di RSUD Camba hanyalah awal dari transformasi besar. Dalam rencana lima tahun ke depan, Pemkab Maros berkomitmen untuk mengembangkan ekosistem kesehatan digital yang terhubung antara puskesmas, klinik, hingga rumah sakit daerah. Dengan sistem terintegrasi, pasien cukup sekali mendaftar—dan datanya bisa diakses lintas fasilitas kesehatan tanpa perlu mengulang berkas.

“Kita ingin warga Maros merasa bahwa layanan kesehatan itu seamless—mulai dari desa hingga kota. Digitalisasi harus menyentuh rakyat kecil, bukan hanya orang kaya di kota,” tegasnya.

Rencana ini juga akan menyentuh aspek kemanusiaan: pasien lansia dan masyarakat di daerah terpencil akan didampingi oleh petugas digital navigator yang membantu mereka menggunakan layanan digital tanpa merasa tertinggal.

Catatan Akhir: Sebuah Awal yang Menjanjikan

Kunjungan kerja ke RSJP Paramarta Bandung mungkin hanya berlangsung sehari, namun dampaknya bisa dirasakan selama puluhan tahun ke depan. Bagi Maros, ini bukan sekadar kehadiran teknologi baru, tapi pernyataan politik: bahwa pemerintah daerah serius menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses cepat, adil, dan tanpa birokrasi yang melelahkan.

Dengan dukungan kuat dari Bupati dan pembelajaran langsung dari rumah sakit unggulan, RSUD Camba diproyeksikan segera menjadi pioneer rumah sakit digital di kawasan Timur Indonesia.

Saat layar menyala, pelayanan pun mulai berdetak dalam ritme baru—cepat, hati-hati, dan penuh harapan.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: