Close Menu
KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah

    Agustus 12, 2026

    Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 

    Agustus 8, 2026

    Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi

    Agustus 8, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Technology
    • Gaming
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    Subscribe
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • PEMERINTAH
    • NASIONAL
    • POLITIK
    • NASIONAL
    • DAERAH
    Beranda » Pemuda Bisa Membangun Kualitas Pendidikan Indonesia, di Tengah Guru Gaptek dan Belajar Jarak Jauh
    DAKWAH

    Pemuda Bisa Membangun Kualitas Pendidikan Indonesia, di Tengah Guru Gaptek dan Belajar Jarak Jauh

    blankBy Desember 12, 2020
    Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram Email
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    Dalam dunia pendidikan, pemuda adalah salah satu pemeran utama untuk bisa membuat dunia pendidikan Indonesia lebih terasa progresif dan berwarna. Karena, dalam membangun mutu atau kualitas pendidikan itu, kita membutuhkan banyaknya fresh spirits yang hanya dimiliki oleh para pemuda. Bukan hanya fresh spirits yang kita butuhkan, kita pun butuh gagasan-gagasan kreatif-inovatif yang diracik sendiri oleh tangan-tangan para pemuda. Tanpa adanya campur tangan para pemuda, pendidikan Indonesia akan terasa jemu dan semu. Padahal, pendidikan harus dikemas dan disajikan dalam bentuk yang menarik dan asyik.

    Sejak merebaknya virus Covid-19, dunia pendidikan harus menghentikan proses pembelajaran tatap muka dengan terpaksa. Dengan adanya permasalahan tersebut, pemerintah khususnya Kemendikbud memutar-balik otak untuk bisa menemukan solusi yang bisa diterapkan dengan efektif. Pada akhirnya, Kemendikbud menerapkan kebijakaan Pembelajaran Jarak Jauh atau biasa disingkat dengan “PJJ”. Dengan diterapkannya PJJ ini, semua pihak mau tidak mau harus bisa menyesuaikan diri dengan sistem yang ada, baik itu para pengajar ataupun para pembelajar. Akhirnya, kita harus bisa menguasai dan paham tentang adanya digitalisasi pendidikan yang sudah diterapkan.

    Setelah kita melakukan PJJ, ternyata masih banyak sub-sistem yang harus segera diperbaiki dari PJJ itu sendiri. Baik itu tingkat efektivitas proses pembelajaran, sarana-prasarana yang tak dimiliki oleh semua orang dan peran orang tua dalam melakukan proses pendidikan di rumahnya masing-masing. Semua permasalahan itu, haruslah menjadi perhatian kita bersama dalam meningkatkan efektivitas PJJ. Kita, sebagai pemuda tak boleh menyikapi semua permasalahan yang ada dengan apatis-destruktif. Tetapi, kita harus senantiasa bisa terus menyikapi semua permasalahan dengan kritis-transformatif. Karena, semua permasalahan hadir bukan untuk menambah beban yang diemban. Tetapi, permasalahan hadir untuk bisa kita kalahkan dan melaju cepat meraih indahnya kemenangan.

    Dalam PJJ, ada beberapa permasalahan besar yang harus segera diselesaikan. Semua permasalahan bisa cepat terselesaikan, jika semua pihak saling bekerja sama dan terus saling bergandeng tangan dalam meraih kemenagan. Setidaknya, ada empat permasalahan yang harus cepat diselesaikan.

    Baca:  Meninggal dalam Keadaan Mabuk, Jenazah Ini Jasadnya Dililit Ular

    Guru yang Gaptek

    Permasalahan pertama ini, menjadi suatu permasalahan yang akan berakibat fatal jika terus didiamkan. Karena, semua proses pembelajaran tergantung pada kualitas para pengajar dengan metode yang diberikan. Dalam menjalankan PJJ dengan efektif, para pengajar pun harus bisa menguasai dan paham akan digitalisasi pendidikan itu sendiri. Tanpa ada pemahaman dan penguasaan yang mumpuni, proses transfer ilmu pun tak akan pernah bisa tersampaikan dengan baik. Sekarang, kita berada di hybrid era yang terus memacu diri kita untuk senantiasa hidup berdampingan dengan teknologi, termasuk dalam menjalankan roda pendidikan Indonesia.

    Kenyataannya, masih banyak guru yang gaptek dalam menjalani PJJ. Padahal, PJJ itu dijalankan dengan basis digital, yang jelas-jelas harus bisa dikuasai oleh para pengajar. Semua materi pembelajaran mau tak mau harus bisa dikembangkan lewat platform-platform media yang banyak digunakan oleh para pembelajar.  Tak bisa para pengajar memaksakan diri untuk kembali menerapkan metode yang terkesan sangat kolot bagi kacamata para pembelajar. Semua metode yang kolot harus bisa bertransformasi menjadi metode yang kontemporer, sesuai dengan thinking platform para pembelajar itu sendiri.

    Dengan adanya permasalah tersebut, menjadi PR besar bagi pemerintah agar bisa memberikan edukasi digital yang diberikan kepada seluruh pengajar yang ada di penjuru nusantara. Dan edukasi tersebut, jangan hanya berhenti pada satu waktu, tetapi berikanlah edukasi digital dengan intens kepada para pengajar. Bentuknya, tak mesti melulu seminar, tetapi bisa dalam bentuk mentoring eksklusif dari para ahli yang ada disetiap daerahnya.

    Orang Tua: Jadi Guru Dadakan

    Selain permasalahan guru yang gaptek, peran orang tua sebagai pengganti guru di rumah pun jadi permasalahan. Pasalnya, semenjak PJJ berlangsung, para orang tua mendadak menjadi guru yang kebingungan membantu anak-anaknya dalam melakukan proses pembelajaran. Hal ini, akan menjadi bencana besar jika tidak ada inisisasi yang dilakukan oleh para orang tua, karena belum semua anak bisa belajar dengan mandiri pasti ada aja anak yang harus memang dibimbing secara intens dalam proses pembelajaran. Tetapi, disinilah tantangannya bagi para orang tua, bagaimana mereka bisa memposisikan diri untuk membantu anak-anaknya paham akan materi-materi pelajaran yang diajarkan.

    Baca:  Ishlāh dalam Al-Qur’an: Upaya Mengatasi Elegi Konflik Sosial

    Para orang tua seharusnya bisa multi-tasking mengerjakan pekerjaan domestik dan kantor sekaligus mengontrol anak-anaknya dalam mengikuti proses PJJ itu sendiri. Harus ada manajemen waktu yang baik bagi para orang tua dan harus  memberikan waktu khusus untuk bisa mengontrol anak-anaknya. Dan disini, pihak sekolah pun harus bisa saling berkolaborasi dengan para orang tua di rumah, bagaimana caranya antara pengajar dan orang tua bisa saling bersinergi dalam menyukseskan proses PJJ.

    Fasilitas yang Kurang Memadai

    Permasalahan ini, tak kalah fatal dengan permasalahan sebelumnya, semenjak PJJ diberlakukan ternyata tak semua daerah bisa mengikutinya dengan baik. Terkhusus, bagi teman-teman kita yang berada di daerah 3T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar). Banyak dari kalangan menengah-kebawah yang tak mampu untuk membeli paket internet, bahkan ada yang tak memiliki device untuk mengikuti PJJ, karena daerah 3T ini adalah daerah yang notabenenya memang jarang diperhatikan dan jauh dari pantauan pemerintah itu sendiri.

    Tetapi, sebenarnya pemerintah pusat bisa memberdayakan semua kepala daerah untuk bisa memfasilitasi warga yang kurang mampu untuk memiliki fasilitasnya sendiri. Misalnya, membuat balai atau saung khusus bagi para pelajar yang kurang mampu dengan disediakan juga sebuah proyektor sekaligus layarnya untuk bisa menampilkan materi pelajaran yang akan diajarkan. Hal itu akan lebih relate dibanding pemerintah membelikan fasilitas kepada masing-masing pelajar yang kurang mampu.

    Baca:  Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 143: Menjadi Umat yang Moderat

    Tugas yang Tak Kunjung Membuat Cerdas

    Dengan diberlakukannya PJJ, banyak dari oknum guru yang malah memberikan bermilyaran tugas yang keluar dari layar gadget dan yang terparah para oknum guru tidak memberikan materi pelajarannya. Hal ini, menjadi sebuah permasalahan yang dapat mengganggu kondisi psikis para pelajar. Dengan banyaknya tugas yang diberikan, para pelajar akan merasa sangat terbebani, karena ketika hidup di rumah bukan hanya tugas sekolah saja yang harus dikerjakan, tetapi ada jugatanggung jawab tugas domestik rumahan yang harus dipenuhi.

    Bahkan, beredar berita-berita yang menceritakan tentang seorang pelajar yang bunuh diri akibat stress terus diberikan tugas yang menumpuk. Hal ini, menjadi sebuah indikasi bahwa tugas bukanlah satu-satunya solusi untuk bisa menguji pemahaman atas pelajaran yang telah diajarkan. Karena, kapasitas otak seorang pelajar pun terbatas! Toh, sekirannya tugas hanya bisa membuat banyak murid cemas, mengapa tidak diganti dengan solusi lain yang lebih berbekas?

    Pada akhirnya, kita sebagai pemuda, generasi penerus bangsa haruslah  melek terhadap permasalahan-permasalahan yang telah, sedang atau akan terjadi. Karena, masa depan bangsa tergantung pada kondisi mentalitas dan kapabilitas para pemudanya! Tak bisa kita bersikap egois, terus mengedepankan sisi idealis, tetapi kita lupa untuk memperbaiki sisi realitas.

    Pendidikan Indonesia tak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan jika para pemuda masih terus bermalas-malasan. Para pemuda haruslah menebarkan benih-benih spirit perjuangan. Sekarang, waktunya bagi para pemuda berani untuk unjuk gigi dengan tampil beda, agar kita semua dapat dikenang dan menjadi sejarah yang melegenda!

     

    Tulisan ini adalah hasil karya dari peserta penerima beasiswa mentoring pada program Peaceful Digital Storytelling, pelatihan kampanye cerita baik dan positif bagi siswa SMA yang didukung oleh US Embassy dan Wahid Foundation.

    Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram Copy Link Email
    Previous ArticleAlissa Wahid: Ultra Konservatisme Beragama Berdampak Buruk, Khususnya Bagi Perempuan
    Next Article Humor Abu Nawas: Bisakah Hujan Kita Injak?

    Berita Lainnya:

    DAKWAH

    Gelombang Dukungan Terus Mengalir Kepada Muh. Ridwan Yusuf Sebagai Calon Ketua Pada Konferwil Ansor Sulsel

    Januari 25, 2026
    DAKWAH

    Maros Siap Sambut Ulama Internasional Syekh Fadi, Fokus Moderasi Beragama untuk Generasi Muda

    Juli 17, 2025
    DAKWAH

    Marjan Massere Hadiri Pembukaan MTQ Antar Dusun Se-Desa Damai Kec.Tanralili

    Maret 7, 2025
    DAKWAH

    Kunjungi Dinas Pertanian, Aliansi Peduli Petani Maros Soroti Penyaluran Alsintan Di Kab.Maros

    November 22, 2024
    DAKWAH

    Rijalul Ansor Maros : Yasinan Dan Tahlilan Mengenang Wafatnya KH. Chalid Mawardi

    Juli 28, 2024
    Pos-pos Terbaru
    • Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah
    • Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 
    • Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi
    • Rangkaian Lomba HKG PKK ke-54 di Maros: Tim Penilai Kunjungi Camba dan Turikale, Disambut Mappadekko hingga Panen Tomat
    • Koni Maros Gelar Rapat Pengurus Dan Doa Bersama
    Top Posts

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026969 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026824 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews
    MAKASSAR

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    RedakturMaret 16, 2026
    PEMERINTAH

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    HTJanuari 30, 2026
    PEMERINTAH

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    HTJanuari 25, 2026
    Most Popular

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026969 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026824 Views
    Our Picks

    Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah

    Agustus 12, 2026

    Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 

    Agustus 8, 2026

    Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi

    Agustus 8, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp
    • Home
    • Technology
    • Gaming
    • Phones
    • Buy Now
    © 2026 KAMERA LIPUTAN by WEBPro.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.