MAROS, Kameraliputan.com – Selasa pagi itu (2/9/2025), disinari oleh cahaya yang berbeda. Bukan hanya cahaya mentari yang menyembul dari balik perbukitan karst, tetapi cahaya spiritual dan kebersamaan yang memancar dari jantung kota Turikale. Di Masjid Al-Markaz, yang berdiri kokoh di poros penghubung Maros dan Makassar, ratusan hati berkumpul untuk merayakan sebuah kelahiran agung: Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 Hijriah.
Suasana khidmat seketika menyergap setiap jamaah yang memasuki pelataran masjid. Sekitar tiga ratus orang, sebuah lautan hikmat yang tenang, duduk bersaf-saf. Mereka bukan hanya dari kalangan biasa; hadir dalam satu barisan, pimpinan daerah yang menyatu dengan rakyat. Bupati Chaidir Syam, Wakil Bupati, Ketua DPRD, hingga pimpinan TNI-Polri duduk bersimpuh, melucutkan sejenis jabatan dan seragam di hadapan misi kemanusiaan Sang Nabi. Mereka hadir bukan sebagai pemimpin yang diistimewakan, melainkan sebagai hamba yang merindukan teladan.
Keistimewaan pagi itu semakin lengkap dengan kehadiran para penjaga masa depan: elemen-elemen kepemudaan. Dari Kiwal Garuda Hitam, PMII, GP Ansor, hingga SAPMA PP, mereka hadir membawa semangat baru. Mereka adalah bukti nyata bahwa pesan Nabi Muhammad bukanlah cerita usang dalam kitab, tapi sebuah api yang harus terus ditransfer ke generasi penerus.

Puncak dari ritus spiritual itu adalah suara lembut namun penuh wibawa yang memancar dari mimbar. Habib Zein Asfar, sang penceramah, menyihir seluruh jamaah dengan wejangannya. Ia berbicara tentang malam kelahiran sang bayi yatim di Mekah yang gelap, yang membawa fajar bagi peradaban dunia. Ia mengajak setiap diri untuk bercermin, merenungi sejauh mana cahaya itu telah menyentuh hati dan tindakan sehari-hari. Pesannya jelas: mengenang Nabi bukan sekadar ritual, tapi sebuah dekonstruksi diri untuk menjadi lebih baik.
Namun, peringatan tahun ini memiliki makna yang lebih dalam, sebuah resonansi yang sangat relevan dengan denyut nadi bangsa. Di tengah maraknya berita tentang aksi unjuk rasa yang berujung ricuh di berbagai daerah, Maros memilih jalan lain. Mereka tak hanya berkhotbah tentang damai, mereka mendeklarasikannya.
Dipimpin oleh Abustan dari GP Ansor Maros, dengan didampingi seluruh Forkopimda dan perwakilan organisasi pemuda, sebuah ikrar kebangsaan dibacakan. Setiap kata adalah penegasan: komitmen menjaga persatuan, menolak provokasi dan ujaran kebencian, mengutamakan musyawarah, dan dukungan penuh pada pemerintah serta TNI-Polri. Deklarasi itu bukan sekadar seremonial; ia adalah tameng kolektif, sebuah kesepakatan sosial untuk melindungi keharmonisan yang telah dibangun.
Kepala Kemenag Maros, Dr. H. Muhammad, menggarisbawahi hal ini. “Nabi Muhammad SAW adalah rahmat bagi seluruh alam,” tegasnya. “Bukan untuk satu golongan, bukan untuk satu suku, tetapi untuk semesta. Kita diajarkan untuk menebarkan cinta kasih dan menjunjung tinggi nilai toleransi.” Kalimat itu menggema, mengingatkan bahwa esensi dari agama adalah kasih sayang, bukan kebencian.
Bupati Chaidir Syam menyambut hangat ikrar damai ini. Ia melihatnya sebagai langkah strategis dan proaktif. “Mari kita jaga ketertiban ini bersama, dan bersama-sama membangun daerah kita,” ajaknya, khususnya kepada para pemuda yang menjadi tulang punggung bangsa.
Pesan damai ini bergema kembali melalui wejangan Ipda Hilal, Dai Polri, yang menekankan pentingnya membentuk akhlak mulia mulai dari lingkungan keluarga. Sementara Ketua PHBI, Farid Wajedi, menutup rangkaian cerita dengan mengajak umat untuk tak hanya mengenang, namun benar-benar meneladani akhlak Sang Nabi.
Sebelum kegiatan ditutup dengan doa yang dipimpin KH. Syamsul Khalik dari MUI, Kabag Kesra Maros, Andi Darmawan, menyampaikan apresiasi. Acara yang diinisiasi Bagian Kesra ini berjalan aman dan tertib hingga pukul 11.57 WITA, tepat sebelum waktu Zuhur tiba.
Hari itu, Maros tidak hanya memperingati sebuah peristiwa sejarah. Mereka menghidupkannya. Mereka membuktikan bahwa spirit Nabi Muhammad—spirit persatuan, toleransi, dan kedamaian—masih sangat hidup dan menjadi oase di tengah gurun konflik. Dari poros Maros-Makassar, mereka mengirimkan pesan kepada seluruh negeri: bahwa cahaya dari kelahiran Nabi yang sederhana itu, jika dirawat dengan benar, akan tetap mampu menerangi jalan menuju Indonesia yang lebih rukun dan bermartabat.






