MAROS, Kameraliputan.com – Di bawah langit Maros yang memutih, bagai sebuah lukisan yang catnya mengering dan retak di bawah terik matahari. Sudah berminggu-minggu, sumur-sumur yang menjadi nadi kehidupan kini hanya menyisakan lumpur pecah dan bisu. Ibu Fatimah, dengan tatapan kosong, memandangi ember-ember kosong yang berjejer di halaman rumahnya, seolah menanti jawaban dari langit yang enggan meneteskan rahmat. Debu kekeringan tak hanya menyelimuti jalanan, tapi juga menyesakkan dada warga, mengikis harapan sedikit demi sedikit.
Namun, secercah janji akhirnya tiba, menyebar dari mulut ke mulut bagai embusan angin sejuk. Pada Kamis pagi, 4 September 2025, di halaman kantor BPBD Maros, di bawah pimpinan Bupati Chaidir Syam, Satuan Tugas (Satgas) Penyaluran Air Bersih resmi dilepas. Itu bukan sekadar upacara seremonial, melainkan deklarasi perang terhadap kekeringan yang telah melanda enam kecamatan: Bontoa, Marusu, Maros Baru, Lau, Turikale, dan Mandai.
“Sudah ada 32 desa dan kelurahan terdampak,” suara Bupati Chaidir Syam bergema, menguraikan skala bencana yang begitu nyata bagi Ibu Fatimah dan ribuan lainnya. “Dengan hampir 20 ribu kepala keluarga atau sekitar 120 ribu jiwa.” Angka-angka itu, di mata Ibu Fatimah, adalah wajah-wajah letih tetangganya, tangisan anak-anak yang kehausan, dan harapan yang digantungkan pada setiap tetes air.
BPBD Maros segera bertindak, menyiapkan empat unit tangki air yang akan beroperasi setiap hari, menjadi penyelamat yang dinanti. Jika itu belum cukup, Pemkab Maros bahkan telah menggandeng PDAM dan Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) untuk turut serta. Bantuan tak hanya datang dari pemerintah, namun juga dari pihak eksternal seperti Angkasa Pura dan Palang Merah Indonesia (PMI), menunjukkan solidaritas yang kuat di tengah kesulitan. Bahkan, di beberapa area di Bontoa, secercah lega sudah terasa berkat suplai air bersih dari booster PDAM.
Kabupaten Maros ketegangan pagi itu berubah menjadi kerumunan yang penuh harap saat auman mesin yang asing mulai terdengar dari kejauhan. Sebuah truk tangki air, berwarna biru laut dengan lambang BPBD, perlahan memasuki desa. Ember-ember plastik yang tadinya kosong kini diangkat tinggi-tinggi, sorakan lirih terdengar, dan senyum tipis mulai mengukir wajah-wajah yang lama termakan kekhawatiran. Ibu Fatimah, dengan langkah tertatih, membawa dua ember terbesar miliknya, bergabung dalam antrean panjang yang tertib.
Air. Dingin, jernih, mengalir deras dari selang tangki. Bukan hanya mengisi ember, tapi juga mengisi kembali semangat yang hampir padam. Anak-anak kecil berlarian, menyentuh genangan air dengan jari-jari mungil mereka, seolah tak percaya. Ini bukan sekadar air; ini adalah kehidupan yang kembali, setidaknya untuk hari ini.
Mantan Ketua DPRD Maros itu menegaskan, upaya penanganan ini bukan hanya solusi jangka pendek. Pemkab juga menyiapkan strategi jangka panjang yang lebih ambisius. Sebuah studi kelayakan sedang berjalan untuk meningkatkan kapasitas instalasi pengolahan air (IPA) utama. “Di IPA Bantimurung, saat ini debitnya hanya 120 liter per detik. Ke depan harus ditingkatkan menjadi 200 liter per detik,” jelas Chaidir Syam. Sementara IPA Pattontongan menghadapi keterbatasan air baku, potensi pembangunan IPA baru di Masale sedang dalam proses kajian mendalam. Ini adalah janji masa depan, bahwa krisis seperti ini tidak akan terulang dengan skala yang sama.
Kepala BPBD Maros, Towadeng, menambahkan detail penting. Pihaknya telah menyiapkan anggaran sekitar Rp30 juta untuk penyaluran air bersih tahun ini, namun data resmi dari desa atau kelurahan adalah kunci. “Dasarnya adalah laporan dari desa atau kelurahan. Setelah itu baru bisa kami tindak lanjuti,” ujarnya, menekankan pentingnya koordinasi dari tingkat paling bawah.
Saat senja mulai merayap, meninggalkan langit Maros dengan semburat jingga, Ibu Fatimah mengisi kembali tempayan di dapurnya. Air bersih itu akan cukup untuk minum, memasak, dan sedikit mencuci. Kekeringan belum sepenuhnya pergi, dan tantangan masih membayangi. Namun, dengan setiap tetes air yang disalurkan, dengan setiap janji solusi jangka panjang yang sedang dirajut, ada harapan yang kembali mengalir di Maros. Harapan bahwa suatu hari nanti, langit dan bumi akan kembali berbagi rahmat, dan sumur-sumur takkan lagi bisu.


