Maros. Kameraliputan.com.,- Anggota DPRD Maros, Muhammad Yusuf “Sarro” menyoroti tingginya angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Maros.
Data dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, ada 600 anak tidak sekolah. Angka tersebut masih mungkin akan bertambah karena proses pendataan belum selesai.
“Saya merasa prihatin dengan angka anak putus sekolah. Hal tersebut harus menjadi pekerjaan rumah bagi dinas terkait dan kita semua,” kata Yusuf, Minggu, 7 Januari 2024.
Legislator Nasdem itu menambahkan, pemerintah daerah perlu mengetahui alasan mengapa anak-anak tersebut tidak bersekolah.
“Kalau misalnya mereka tidak bersekolah dengan alasan ekonomi, pemerintah harus turun tangan,” tutupnya.
Bupati Maros, Chaidir Syam sebelumnya juga menegaskan, seluruh anak usia 7-18 tahun harus kembali mengenyam pendidikan.
Makanya saat ini pihaknya sedang melakukan pendataan anak putus sekolah.
Sementaran itu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Maros, Andi Patiroi mengatakan, ada berbagai faktor yang mempengaruhi anak tidak sekolah.
“Faktor ekonomi paling mendominasi. Biasanya anak tersebut ikut sama orang tuanya merantau,” katanya.
Kamudian letak domisili dengan sekolah juga cukup jauh.
Selain melakukan pendataan, pihaknya juga saat ini membuat kelas jarak jauh.
“Ada beberapa lokus yang sudah kami rampungkan datanya, seperti di Desa Timpuseng, kami akan ikutkan paket B dan C. Di Tompobulu juga sudah ada kelas jauh,” jelas Patiroi.







