Close Menu
KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah

    Agustus 12, 2026

    Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 

    Agustus 8, 2026

    Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi

    Agustus 8, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Technology
    • Gaming
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    Subscribe
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • PEMERINTAH
    • NASIONAL
    • POLITIK
    • NASIONAL
    • DAERAH
    Beranda » Pernikahan Anak Terjadi Akibat Stigma Peran Domestik Perempuan
    DAKWAH

    Pernikahan Anak Terjadi Akibat Stigma Peran Domestik Perempuan

    blankBy Desember 7, 2020
    Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram Email
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    Pernikahan anak atas alasan ekonomi masih terjadi di Indonesia. Padahal anak juga memiliki mimpinya sendiri. Mengapa pernikahan anak selalu dianggap menjadi solusi atas persoalan ekonomi? Fenomena ini terjadi akibat stigma peran domestik perempuan.

    Nayla, 17 tahun, baru saja pulang sekolah menggunakan turun dari angkutan kota. Ia menyusuri gang yang padat dan sempit di tengah kota metropolitan. Rambutnya tampak acak-acakan setelah seharian sekolah. Wajahnya pun terlihat lelah setelah belajar semalaman untuk try out UTBK hari itu. Seragam putih abu-abu yang dikenakannya mulai tampak kusut.

    Di balik kekusutan itu, Nayla bangga dengan dirinya yang mampu mengerjakan soal try out hari itu dengan mudah. Kelulusan sebentar lagi dan tes masuk perguruan tinggi semakin dekat. Dengan nilai try out-nya yang selalu baik, ia percaya diri untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi sesuai bidang yang diminatinya.

    Meski tidak datang dari keluarga berada, ia yakin dengan semangatnya, ia dapat menggapai mimpi.

    Impian yang sudah tampak di depan mata kandas begitu ia masuk ke rumah. “Nak, karena kondisi perekonomian keluarga kita, kamu akan menikah setelah lulus,” kata ibunya. Ucapan yang lirih tersebut membuatnya terguncang. Tangisnya pun pecah. Berulang kali ia bertanya-tanya alasannya. “Mengapa, Bu? Aku mau kuliah, bukan menikah!” kata Nayla.

    Baca:  Di Munas MUI, Jokowi Ingatkan Hakikat Dakwah

    Akan tetapi, pendirian sang ibu tak sedikitpun goyah. “Ada orang kaya yang mau melamarmu. Lagipula, perempuan tidak perlu kuliah. Yang penting kamu tahu cara mengurus rumah,” kata ibunya.

    Dilansir dari unicef.org, Indonesia adalah negara dengan angka perkawinan anak tertinggi kedelapan di dunia. Satu dari sembilan perempuan menikah di bawah 18 tahun. Hal ini salah satunya disebabkan oleh stigma masyarakat terhadap perempuan yang hanya berperan mengurus rumah tangga.

    Cerita Nayla ini masih jamak dijumpai. Di Indonesia, pandangan perempuan tak perlu berpendidikan tinggi masih dipegang erat oleh sekelompok masyarakat. Tidak hanya di pedesaan, di kota besar pun pandangan tersebut masih ada yang biasanya didorong oleh faktor ekonomi. Stigma bahwa perempuan hanya bertanggung jawab mengurus rumah akhirnya membuat pandangan tersebut makin diyakini.

    Baca:  Rijalul Ansor Maros : Yasinan Dan Tahlilan Mengenang Wafatnya KH. Chalid Mawardi

    Stigma peran perempuan yang identik dengan urusan rumah menampilkan seolah-olah jika perempuan melakukan hal lain, contohnya mencapai pendidikan setinggi-tingginya, dianggap melanggar kodrat. Peran perempuan yang “hanya” mengurus rumah tangga kemudian dipergunakan sebagai alasan berbagai pihak untuk mengonstruksi perempuan sebagai makhluk yang lemah. Akibatnya, tugas domestic rumah tangga pun kerap diasosiasikan sebagai tugas perempuan saja.

    Coba seandainya Nayla adalah laki-laki, pernikahan anak mungkin urung terjadi. Ia tidak mungkin dipaksa menikah setelah lulus SMA untuk membantu perekonomian keluarga. Mungkin saja solusinya ia diminta ikut bekerja. Pertanyaannya, mengapa Nayla tidak disuruh bekerja? Mengapa pernikahan anak dianggap sebagai solusi?

    Hal itu tidak lain disebabkan oleh konstruksi masyarakat terhadap citra perempuan yang dianggap bergantung laki-laki sebagai pencari nafkah, sementara perempuan mengurus rumah tangga. Mengurus rumah tangga dianggap lebih mudah dibanding mencari nafkah. Kondisi ini membuat perempuan ditempatkan sebagai second sex yang tidak mandiri, harus patuh, dan taat perintah.

    Baca:  Menteri Agama: Tak Ada Satu Ayat Pun di Agama yang Mengobarkan  Kebencian

    Peran dalam rumah tangga sejatinya tidak perlu dikotak-kotakkan hanya sebagai kewajiban perempuan. Normalisasi pembagian peran domestik antara laki-laki dan perempuan dapat menjadi titik perubahan untuk menghilangkan stigma bahwa perempuan hanya patut mengurus rumah tangga. Dengan begitu, alasan pernikahan anak akibat perekonomian keluarga yang rendah seperti kasus Nayla sebelumnya dapat diatasi dengan pikiran yang lebih terbuka.

    Nayla bukanlah satu-satunya perempuan yang gagal meraih mimpi karena stigma peran domestik perempuan. Masih banyak anak-anak perempuan seperti Nayla yang dipergunakan sebagai “alat penyelamat” perekonomian keluarga dengan embel-embel tanggung jawab kodrati. Padahal, kodrat seorang perempuan tidak perlu dicari atau ditentukan oleh lingkungannya. Kodrat perempuan sesungguhnya telah ia genggam sejak lahir.

     

    Tulisan ini adalah hasil karya dari peserta penerima beasiswa mentoring pada program Peaceful Digital Storytelling, pelatihan kampanye cerita baik dan positif bagi siswa SMA yang didukung oleh US Embassy dan Wahid Foundation.

    Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram Copy Link Email
    Previous ArticleKorupsi Bansos Menteri Sosial: Tikus Sudah Menguasai Lumbung!
    Next Article Sufi Ini Masuk Surga karena Menolong Kucing, Bukan karena Ibadahnya

    Berita Lainnya:

    DAKWAH

    Gelombang Dukungan Terus Mengalir Kepada Muh. Ridwan Yusuf Sebagai Calon Ketua Pada Konferwil Ansor Sulsel

    Januari 25, 2026
    DAKWAH

    Maros Siap Sambut Ulama Internasional Syekh Fadi, Fokus Moderasi Beragama untuk Generasi Muda

    Juli 17, 2025
    DAKWAH

    Marjan Massere Hadiri Pembukaan MTQ Antar Dusun Se-Desa Damai Kec.Tanralili

    Maret 7, 2025
    DAKWAH

    Kunjungi Dinas Pertanian, Aliansi Peduli Petani Maros Soroti Penyaluran Alsintan Di Kab.Maros

    November 22, 2024
    DAKWAH

    Rijalul Ansor Maros : Yasinan Dan Tahlilan Mengenang Wafatnya KH. Chalid Mawardi

    Juli 28, 2024
    Pos-pos Terbaru
    • Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah
    • Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 
    • Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi
    • Rangkaian Lomba HKG PKK ke-54 di Maros: Tim Penilai Kunjungi Camba dan Turikale, Disambut Mappadekko hingga Panen Tomat
    • Koni Maros Gelar Rapat Pengurus Dan Doa Bersama
    Top Posts

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026969 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026824 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews
    MAKASSAR

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    RedakturMaret 16, 2026
    PEMERINTAH

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    HTJanuari 30, 2026
    PEMERINTAH

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    HTJanuari 25, 2026
    Most Popular

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026969 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026824 Views
    Our Picks

    Jangkau Warga Rentan, Tim Sitanduk Disdukcapil Maros Jemput Bola Perekaman KTP-el hingga Pematang Sawah

    Agustus 12, 2026

    Gelar Muscab 2026,A.Takdir Terpilih Sebagai Ketua PASI Kabupaten Maros 

    Agustus 8, 2026

    Mubes Ke I LKBH Maros, Ervan Prakasa Sah Terpilih Secara Aklamasi

    Agustus 8, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp
    • Home
    • Technology
    • Gaming
    • Phones
    • Buy Now
    © 2026 KAMERA LIPUTAN by WEBPro.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.