blank

Menyerap Aspirasi Warga Turikale: Dari Persoalan Zonasi Sekolah Hingga Ancaman Banjir, Patarai Amir Siap Kawal di DPRD Sulsel

blank

KAMERA MAROS – Antusiasme masyarakat memenuhi Lingkungan Sanggalea, Kelurahan Taroada, Kecamatan Turikale, Kabupaten Maros. Ratusan warga bersama para tokoh lokal berkumpul dalam suasana hangat namun penuh semangat untuk menghadiri kegiatan Reses Masa Sidang III Tahun 2026/2027 yang digelar oleh Anggota DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, H. A. Patarai Amir, S.E., M.I.Kom.

Kegiatan serap aspirasi ini tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi formal, melainkan panggung terbuka bagi rakyat untuk menyuarakan secara langsung berbagai keluh kesah dan harapan mereka. Turut hadir dalam momen penting tersebut Camat Turikale, Lurah Taroada, jajaran Ketua RT dan RW, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, hingga tokoh perempuan yang mewakili beragam elemen warga.

Pendidikan, Ekonomi Rakyat, dan Polemik Zonasi

Dalam sesi dialog interaktif yang berlangsung dinamis, isu pendidikan dan penguatan ekonomi warga menjadi salah satu sorotan utama. Bapak Ikbal, salah seorang warga yang hadir, menyampaikan aspirasinya terkait perlunya perhatian serius pemerintah terhadap pelaksanaan Program Sekolah Rakyat dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tak hanya itu, ia juga mendorong penguatan Koperasi Merah Putih agar geliat ekonomi lokal dapat tumbuh dan manfaatnya dirasakan secara merata oleh masyarakat Kecamatan Turikale.

Di sektor pendidikan menengah, keluhan tajam disampaikan oleh Bapak Suryani. Ia menyoroti penerapan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA. Menurutnya, aturan zonasi saat ini justru kerap menjadi tembok penghalang bagi anak-anak di Kecamatan Turikale untuk mengecap pendidikan di sekolah negeri.

“Masih banyak anak-anak kami yang kesulitan masuk SMA negeri karena terbentur aturan zonasi. Kebijakan ini butuh evaluasi mendalam agar ada keadilan bagi seluruh calon siswa,” tegas Suryani di hadapan wakil rakyat tersebut.

Infrastruktur Buruk dan Ancaman Banjir Musiman

Tidak hanya masalah pendidikan dan ekonomi, persoalan fisik lingkungan juga menjadi polemik hangat. Ibu Ramlah, mewakili suara kaum perempuan, meluapkan kekhawatirannya terkait kondisi infrastruktur di wilayah Turikale.

Ia mengungkapkan bahwa sejumlah ruas jalan utama dan pemukiman berada dalam kondisi rusak parah dengan elevasi yang terlalu rendah. Buruknya sistem drainase dan irigasi yang tak terawat memperparah keadaan, sehingga setiap kali musim hujan tiba, wilayah mereka kerap diterjang banjir. Penanganan komprehensif dari pemerintah provinsi dinilai sangat mendesak sebelum dampak buruk yang lebih besar terjadi.

Komitmen Kawal Aspirasi hingga Tingkat Provinsi

Mendengar secara seksama setiap luapan suara warga, H. A. Patarai Amir menegaskan komitmennya untuk membawa seluruh persoalan tersebut ke meja pembahasan DPRD Provinsi Sulawesi Selatan. Pria yang dikenal dekat dengan konstituennya ini memastikan bahwa aspirasi warga tidak akan berhenti sebagai catatan di atas kertas belaka.

“Reses adalah wadah paling murni untuk mendengar langsung detak jantung dan suara masyarakat. Seluruh masukan hari ini—baik isu pendidikan, infrastruktur jalan dan banjir, hingga pemberdayaan ekonomi—akan kami kawal ketat. Kami akan perjuangkan agar hal ini menjadi prioritas perhatian pemerintah provinsi serta instansi teknis terkait,” ujar Patarai Amir disambut tepuk tangan warga.

Ia juga berpesan agar masyarakat tidak berhenti sampai di sini. Patarai Amir mengajak seluruh warga Turikale untuk terus aktif mengawal jalannya pembangunan, kritis terhadap kebijakan, dan selalu membuka ruang komunikasi dengan para wakilnya di parlemen.

Momen Reses Masa Sidang III ini pun ditutup dengan optimisme baru. Pertemuan tersebut berhasil membuktikan bahwa fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan DPRD Sulsel dapat berjalan efektif ketika dibangun di atas fondasi komunikasi yang jujur dan terbuka antara rakyat dan wakilnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: