blank

Suara dari Akar Rumput: Komisi III DPRD Maros Menenun Harapan melalui Musrenbang RKPD 2026

blank

KAMERA MAROS – Februari bukan sekadar bulan penuh curah hujan di Kabupaten Maros; ia adalah bulan penyemaian harapan. Di sepanjang jalan-jalan kecamatan, dari pesisir hingga pegunungan, gema pembangunan mulai ditabuh. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros resmi “menggeber” Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) tahun 2026.

Terhitung sejak awal hingga pertengahan Februari 2026, sebanyak 14 kecamatan di Bumi Butta Salewangang ini secara bergantian menjadi panggung bagi rakyat untuk bersuara. Ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan ritual sakral demokrasi dalam menentukan ke mana arah kemudi pembangunan daerah setahun ke depan.

Tanralili: Titik Temu Eksekutif dan Legislatif

Salah satu denyut nadi Musrenbang yang paling terasa ada di Kecamatan Tanralili. Di sana, suasana hangat menyelimuti pertemuan antara pemangku kebijakan dan warga. Tak tanggung-tanggung, kolaborasi lini depan pemerintahan hadir langsung di tengah masyarakat.

Tampak Wakil Bupati Maros, Muetazim Mansyur, hadir didampingi sejumlah Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kehadiran mereka menunjukkan komitmen eksekutif untuk mendengarkan langsung apa yang menjadi keluhan dan impian warga di tingkat bawah.

Namun, pembangunan tak bisa berjalan pincang hanya dengan satu kaki. Dari sisi legislatif, hadir sosok vokal Ketua Komisi III DPRD Maros, Haeriah Rahman. Kehadiran srikandi parlemen ini membawa pesan penting: bahwa setiap aspirasi warga memiliki pengawal di gedung dewan.

Mencatat Mimpi, Mewujudkan Bukti

Dalam kesempatan tersebut, Haeriah Rahman menekankan betapa krusialnya momen Musrenbang ini. Baginya, Musrenbang adalah pintu resmi yang terbuka lebar bagi masyarakat untuk menyetor “daftar keinginan” pembangunan.

“Ini adalah kesempatan emas bagi kita semua. Musrenbang adalah wadah di mana masyarakat bisa memberi usulan secara langsung. Hal-hal yang disampaikan di sini akan langsung dicatat secara resmi dan kami bawa ke tingkat kabupaten untuk diperjuangkan,” tutur Haeriah dengan nada optimis.

Mulai dari perbaikan drainase, pengaspalan jalan tani, hingga pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis desa, semuanya bermuara di meja Musrenbang ini. Haeriah mengingatkan bahwa partisipasi aktif warga adalah bahan bakar utama mesin pembangunan daerah.

Dua Jalur Aspirasi

Menariknya, Haeriah juga memberikan edukasi politik yang mencerahkan bagi warga yang hadir. Ia menjelaskan bahwa jalur perjuangan aspirasi tidaklah tunggal. Selain melalui Musrenbang yang dikawal oleh pihak pemerintah (kecamatan ke kabupaten), masyarakat juga memiliki “jalur ekspres” melalui wakil rakyat mereka.

“Selain Musrenbang hari ini, bapak dan ibu juga bisa memberikan usulan melalui kegiatan Reses anggota DPRD Maros,” tambahnya.

Pesan ini mempertegas bahwa tidak ada alasan bagi pembangunan untuk tersendat. Jika di Musrenbang sebuah usulan masih harus mengantre dalam skala prioritas daerah, maka jalur Reses bisa menjadi penguat tambahan agar kebutuhan mendesak di masyarakat segera mendapatkan atensi khusus dari anggaran legislatif.

Menuju Maros 2026 yang Lebih Gemilang

Musrenbang RKPD yang digelar maraton di 14 kecamatan ini menjadi bukti bahwa Pemkab Maros ingin membangun dari pinggiran. Dengan kehadiran Wakil Bupati Muetazim Mansyur dan jajaran kepala OPD, sinkronisasi antara kebutuhan lapangan dan ketersediaan anggaran diharapkan bisa bertemu di satu titik temu yang harmonis.

Kini, bola ada di tangan masyarakat. Di sela-sela waktu hingga pertengahan Februari nanti, setiap warga Maros diundang untuk tidak sekadar menjadi penonton, tetapi menjadi arsitek bagi masa depan kecamatannya sendiri. Karena pada akhirnya, pembangunan yang paling berhasil adalah pembangunan yang lahir dari keringat dan ide rakyatnya sendiri.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: