Kamera Maros,- Suasana meriah tatkala pintu megah Perpustakaan Pusat Kreatif Maros dibuka pada Senin, 17 November 2025. Festival Literasi Maros yang meriah telah resmi dimulai, menandai bukan sekadar perayaan buku, tetapi juga bukti nyata bagaimana masyarakat dapat bersatu untuk mengubah masa depannya melalui kekuatan literasi.

Inti acara ini adalah momen kebanggaan: Hj. Ulfiah Nur Yusuf Chaidir, SS , Bunda Literasi Kabupaten Maros, berdiri tegak saat menerima penghargaan bergengsi dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sulawesi Selatan . Penghargaan bernomor 594.3/37/DISPUS-ARSIP ini merupakan pengakuan atas upaya beliau yang tak kenal lelah dalam membangun ekosistem literasi yang berpusat pada keluarga dan anak—sebuah gerakan yang menjadikan Maros sebagai mercusuar kemajuan dalam lanskap literasi Indonesia.
Sebuah Penghormatan atas Dedikasi
Dengan suara hangat, Dr. Muhammad Ichsan Mustari, M.HM. , Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi, memuji duo dinamis di balik kesuksesan Maros: Bupati Chaidir Syam dan Bunda Literasi Ulfiah . “Penghargaan ini merupakan simbol apresiasi terdalam kami atas dedikasi mereka dalam menjadikan literasi sebagai gerakan budaya,” ujarnya. Tepuk tangan meriah, sebuah ungkapan rasa syukur bagi para pemimpin yang telah mewujudkan visi menjadi tindakan nyata.

Acara ini mempertemukan komunitas literasi, sekolah, perpustakaan, hingga pemerintah desa dalam satu ruang gerak bersama
Festival Literasi Maros berlangsung selama tiga hari, hingga 19 November 2025, dipusatkan di Creative Centre Maros dan dibuka langsung oleh Bupati Maros, Chaidir Syam.
Kegiatan yang dihadirkan mencakup pameran literasi, peluncuran buku, diskusi, serta berbagai lomba untuk masyarakat.
Dalam sambutannya, Chaidir Syam memaparkan pencapaian Kabupaten Maros yang kini memiliki indeks kegemaran membaca sebesar 90,94 persen. Angka itu masuk kategori sangat tinggi berdasarkan penilaian Perpustakaan Nasional RI.
“Ketika kita membangun literasi, berarti kita membangun sumber daya manusia. Dan saat SDM kita kuat, kita sedang menjaga generasi kita ke depannya,” ujar Bupati.
Hasil tersebut didukung gerakan literasi desa, penguatan peran Bunda Baca, hingga pojok baca di berbagai titik.
Saat ini, sebanyak 59 desa di Maros telah mengembangkan TPBS (Taman Pustaka Berbasis Sosial) sebagai ruang membaca sekaligus pusat belajar masyarakat.
Ketua Dprd Maros Gemilang Pagessa Festival Literasi Maros ini menjadi momentum memperluas jejaring literasi dan memperkuat budaya membaca di seluruh wilayah. Pemerintah daerah berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan ekosistem literasi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan kolaborasi multipihak, Festival Literasi Maros menegaskan komitmen daerah dalam memajukan literasi sebagai fondasi penguatan sumber daya manusia dan pembangunan sosial






