MAROS, Kameraliputan.com – Langit di atas Kecamatan Moncongloe tampak tak berkesudahan meluruhkan air matanya. Selama sepekan terakhir, hujan deras tanpa henti telah mengubah sebagian ruas jalan dan permukiman warga menjadi kolam dadakan dengan kedalaman air yang mengkhawatirkan, mulai dari 30 hingga 50 sentimeter. Titik terparah terpapar jelas di Dusun Pamanjengan, Desa Moncongloe Induk, yang juga merupakan bagian dari jalur alternatif vital Poros Moncongloe–Makassar.
Kepulan air yang menggenang bukan sekadar pemandangan visual yang menyedihkan, namun juga disruptor nyata bagi aktivitas sehari-hari. Para pengendara terpaksa merayap perlahan, menarikan tarian hati-hati di atas aspal yang terendam, demi menghindari kerusakan pada kendaraan mereka atau terjebak lebih dalam. “Kalau lewat sini memang harus pelan-pelan, airnya tinggi sekali. Hampir tiap tahun banjir di sini, tapi belum ada penanganan yang jelas,” keluh Beni, salah seorang pengguna jalan, di tengah kepungan genangan air yang dingin. Keluhan Beni mencerminkan rasa frustrasi yang merayap di benak banyak warganya, sebuah siklus tahunan yang belum tersentuh solusi berkelanjutan.
Muhammad Iqbal, Kepala Desa Moncongloe, membedah akar masalah ini lebih dalam. Ia menjelaskan bahwa banjir kali ini bukan semata-mata disebabkan oleh tingginya intensitas hujan. “Kalau di samping kantor desa itu sekitar 30 sampai 50 cm, dan di permukiman sekitar 30 cm. Penyebabnya bukan cuma hujan, tapi drainase yang rusak dan sampah kiriman di bawah jembatan yang menyumbat,” ungkapnya. Tumpukan material sampah yang menyumbat saluran air di bawah jembatan menjadi biang keladi yang memperparah kondisi. Koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Maros telah dilakukan, sebuah langkah awal yang krusial untuk mengharapkan normalisasi saluran air. Warga, dengan harapan yang membuncah, menanti perbaikan yang dapat memutus rantai banjir tahunan ini dan mengembalikan kelancaran aktivitas mereka.
Sementara menunggu penanganan struktural, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maros telah mengambil langkah antisipatif. Kepala BPBD Maros, Towadeng, mengumumkan penetapan status siaga bencana dan pengoperasian posko 24 jam sejak sepekan terakhir. Sebanyak 30 personel disiagakan setiap hari dalam dua sif, memastikan respons cepat jika bencana susulan terjadi. “Kami sudah memasuki kondisi siaga bencana. Sesuai rilis BMKG, mulai 11 November ini sudah masuk puncak awal musim hujan. Karena itu kami imbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama terhadap potensi angin kencang dan pohon tumbang,” tegas Towadeng.
Upaya mitigasi pun digalakkan. Pemangkasan pohon yang rawan tumbang dilakukan di sepanjang jalur strategis, mulai dari Poros Makassar–Maros hingga Maros–Bone. BPBD Maros juga telah memetakan wilayah-wilayah rawan bencana, mengkategorikan Camba, Cenrana, dan Mallawa sebagai daerah rawan longsor, sementara Maros Baru, Lau, dan Bontoa menjadi hotspot banjir. “Wilayah pesisir seperti Maros Baru hampir setiap tahun terdampak banjir. Karena itu kami terus melakukan pemantauan rutin dan sosialisasi kepada warga,” tambahnya, menggarisbawahi pentingnya kesiapsiagaan masyarakat.
Dari sisi kesiapan peralatan, BPBD Maros menyatakan optimisme. Delapan perahu polyteling dan dua perahu karet telah siap sedia untuk evakuasi. “Untuk ukuran kabupaten, ketersediaan peralatan kita termasuk cukup besar. Tapi pengalaman banjir Februari lalu membuat kita sadar perlunya penambahan peralatan, terutama untuk menjangkau perumahan di area dengan arus deras,” ujar Towadeng, menyiratkan pelajaran berharga dari kejadian di masa lalu yang mendorong peningkatan kapasitas.
Lebih canggih lagi, BPBD Maros mengoperasikan tiga alat pendeteksi bencana yang terintegrasi langsung dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Alat-alat ini memonitor potensi banjir di Sungai Maros (Hulu Pakere), angin kencang di Tanralili, dan aktivitas gempa bumi di kantor BPBD Maros. “Semua alat ini terkoneksi dengan BMKG. Jika ada peningkatan curah hujan atau potensi bencana, akan langsung mengirimkan sinyal ke kami,” pungkasnya, menggarisbawahi peran teknologi dalam memperkuat sistem peringatan dini.
Kisah Moncongloe saat ini bukan hanya tentang genangan air yang merendam, tetapi juga tentang upaya kolaboratif antara warga, pemerintah desa, dan badan penanggulangan bencana. Ini adalah cerita tentang kesadaran akan kerentanan, tentang upaya mitigasi yang terus menerus, dan tentang harapan akan masa depan yang lebih aman, di mana deru hujan tak lagi sinonim dengan ketakutan akan banjir yang tak kunjung usai.







