KAMERA PANGKEP – Di ujung hari yang panjang, di bawah langit Sulawesi Selatan yang mulai dibungkus malam, sebuah bunyi langkah pelan terdengar di jalur setapak menuju Posko Disaster Victim Identification (DVI). Sepatu bot bercat cokelat, penuh tanah dan lumut, melangkah hati-hati. Di antara mereka, terbentang tandu sederhana—di situlah tubuh korban kedua, yang sebelumnya hilang di dalam genggaman jurang, kini kembali ke pangkuan tanah datar.
Tim SAR gabungan TNI-Polri, didukung oleh berbagai unsur terkait, berhasil menyelesaikan salah satu operasi evakuasi paling menegangkan di awal 2026: menarik korban dari kedalaman tebing Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, yang mencapai ratusan meter dan dikenal sebagai “mulut bumi yang tak pernah bersuara kembali”.
Evakuasi dimulai pukul 10.00 Wita, ketika sinar matahari baru mulai membakar punggung tim yang telah bersiap sejak subuh. Misi ini bukan sekadar soal teknik, tetapi ujian nyata dari keberanian, ketahanan, dan kerja sama. Tebing Bulusaraung, setinggi kurang lebih 300 meter, menjulang seperti tembok raksasa yang dipahat oleh waktu dan alam liar. Di bawahnya, hutan belantara dan jurang dalam menanti siapa pun yang kehilangan pijakan.
Tim SAR harus menuruni dinding tebing secara perlahan, menggunakan tali statik dan teknik rappelling (menuruni tebing dengan sistem tali dan descender). Angin dingin menyapu wajah mereka, sementara batu-batu licin akibat embun pagi menambah risiko setiap langkah. Bukan hanya medan, tapi juga waktu yang terus bergerak menjadi musuh terselubung.
“Kami bukan sekadar turun. Kami menelusuri titik-titik tanpa jejak, mencari sisa harapan yang mungkin terlepas,” kata seorang anggota SAR yang enggan disebut namanya, sambil membersihkan tangan dari tanah dan getah pohon.
Setelah hampir tujuh jam bergulat dengan gravitasi dan ketakutan, pukul 17.15 Wita, tim berhasil menjangkau puncak Gunung Bulusaraung kembali—bersama korban kedua dalam kondisi yang membuat hati teriris. Tapi tugas belum usai. Dari puncak, mereka harus kembali menuruni jalur tambahan sejauh 200 meter menuju jalur evakuasi darat, di mana kendaraan dan tenaga medis telah siap menunggu.
Di tengah kemalaman, dengan lampu senter sebagai satu-satunya penerang, rombongan kecil itu melanjutkan perjalanan. Tidak ada sorak-sorai. Hanya bisikan pelan, petunjuk teknis, dan napas yang tersekat oleh medan yang tak bersahabat. Namun, di tengah kesunyian, ada satu hal yang terasa jelas: misi ini bukan tentang menang atau kalah. Ini tentang martabat.
“Kami utamakan keselamatan seluruh personel,” ujar AKP Syarifuddin Mado dari Direktorat Samapta Polda Sulawesi Selatan, kepada awak media Selasa malam. Ia menjelaskan bahwa operasi digelar secara bertahap, menghindari tindakan gegabah meskipun tekanan waktu begitu besar.
“Medan sangat terjal, penuh risiko. Satu kesalahan kecil bisa memakan korban lebih banyak. Kami bekerja sesuai prosedur, dengan hati yang waspada dan tangan yang terlatih,” lanjutnya, seraya menepuk bahu seorang rekan yang baru kembali dari medan.
Pukul 22.20 Wita, tubuh korban tiba di Posko DVI. Tugas Tim SAR berakhir, tapi cerita kemanusiaan baru saja dimulai. Kini, para ahli identifikasi bekerja dalam diam, menggabungkan teknologi dan kepekaan untuk memastikan korban dikembalikan kepada keluarga dengan identitas dan kehormatan yang utuh.
Gunung Bulusaraung diam. Tebingnya tetap kokoh, gelap, dan menakutkan. Tapi pada 20 Januari 2026, gunung itu menyaksikan sesuatu yang luar biasa: manusia-manusia biasa yang memilih turun ke jurang bukan untuk menaklukkan alam, tapi untuk mengingatkan kita semua—bahwa bahkan di tempat paling kelam, cahaya kemanusiaan masih bisa ditemukan, satu tali, satu langkah, satu napas pada satu waktu.
Mereka yang turun ke tebing, bukan demi pujian.
Mereka turun, karena ada yang perlu dibawa pulang.







