blank

Meracik Kolaborasi di Pusat Pergerakan: Bupati Maros dan Gowa Diskusi Kebijakan Publik Bertajuk Ngopi Awal Tahun

blank

KAMERA MAKASSAR – Di sela-sela hiruk pikuk peresmian Sun Squad Institute di Kecamatan Mamajang, sebuah wacana substansial tentang masa depan Sulawesi Selatan sedang diracik. Bukan di ruang rapat yang kaku, melainkan dalam sebuah diskusi kebijakan publik yang bertajuk “Ngopi Awal Tahun”. Suasana yang akrab tak mengurangi kedalaman pembahasan, justru menjadi jembatan antara kebijakan elite dan aspirasi publik. Di sinilah, Bupati Maros, Dr. H. A. S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., bersama Bupati Gowa, Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, S.E., M.M., dan narasumber lainnya, duduk bersama sebagai bentuk nyata kehadiran pemerintah yang responsif dan visioner.

Fokus utama diskusi ini bukanlah persoalan rutin, melainkan sebuah peta strategi yang menggugah: kolaborasi Maros dan Gowa sebagai wilayah penyangga strategis IKN Nusantara. Keputusan pemindahan ibu kota negara bukan sekadar peristiwa di Kalimantan Timur; gelombang ekonominya, arus migrasinya, dan kebutuhan logistiknya akan menciptakan efek riak yang kuat hingga ke titik-titik sentral di Indonesia Timur, dan Sulsel adalah salah satu pelabuhan utamanya.

“Kita tidak boleh menjadi penonton. IKN adalah momentum sejarah yang harus kita manfaatkan,” ujar Bupati Chaidir Syam dengan nada yang tegas namun penuh harapan. “Maros dan Gowa adalah dua tetangga yang tak terpisahkan secara geografis dan ekonomi. Jika kita bergerak sendiri-sendiri, kita hanya akan menjadi korban dari perubahan. Tapi jika kita bersinergi, kita bisa menjadi arsitek dari kemakmuran baru di Sulsel.”

Chaidir Syam menggarisbawahi tiga pilar kolaborasi utama. Pertama, integrasi infrastruktur. Ini bukan hanya tentang menyambungkan jalan protokol, tetapi merancang ekosistem logistik terpadu yang menghubungkan Bandara Sultan Hasanuddin, Pelabuhan Garongkong, dan jaringan industri di kedua daerah. Dengan infrastruktur yang mulus, Maros dan Gowa dapat menjadi lumbung pangan dan pusat pengolahan hasil bumi yang andal untuk memenuhi kebutuhan IKN dan kawasan timur Indonesia.

Kedua, sinergi ekonomi hilir. Bupati Maros menyoroti potensi Maros sebagai sentra pertanian dan pangan, sementara Gowa memiliki keunggulan dalam pariwisata budaya dan pendidikan. “Bayangkan, produk pertanian Maros diekspor melalui jalur logistik yang kita bangun bersama, sementara Gowa menjadi destinasi wisata dan edukasi bagi pejabat atau profesional yang berkunjung ke IKN. Ini adalah siklus ekonomi yang saling menguntungkan,” jelasnya.

Sementara itu, Bupati Gowa, Dr. Hj. Sitti Husniah Talenrang, menambahkan pilar ketiga yang tak kalah krusial: pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang kolaboratif. “Peluang IKN akan sia-sia jika SDM kita tidak siap. Kami di Gowa, bersama Maros, bisa merancang program vokasi bersama, beasiswa riset terkait kebutuhan IKN, dan memanfaatkan lembaga-lembaga baru seperti Sun Squad Institute ini sebagai inkubator inovasi bagi pemuda kita,” ujarnya.

Acara “Ngopi Awal Tahun” ini sendiri adalah sebuah pernyataan. Memilih lokasi di sebuah lembaga yang baru diresmikan di tengah kota, bukan di gedung pemerintahan, menunjukkan keinginan untuk menanamkan ide-ide pembangunan diakar rumput. Diskusi kebijakan yang seharusnya kaku menjadi lebih hidup, lebih relevan, dan lebih mudah diakses oleh masyarakat yang hadir.

Keberadaan dua kepala daerah sebagai narasumber utama dalam satu forum adalah sinyal kuat bahwa ego sektoral mulai dikesampingkan. Mereka tidak lagi mengukur keberhasilan pembangunan secara linear dan terisolasi, tetapi memandangnya sebagai sebuah jaringan yang saling terkait. Maros tidak akan kuat tanpa Gowa, dan sebaliknya. Bersama, mereka membentuk poros daya saing baru yang siap menyambut era pasca-IKN.

Akhirnya, secangkir kopi di acara itu bukanlah sekadar minuman. Ia adalah simbol dari sebuah peracikan strategi—perpaduan antara kebijakan yang berwibawa, kebersamaan yang tulus, dan keberanian untuk menatap masa depan. Dari atas meja diskusi di Mamajang, Bupati Chaidir Syam dan Bupati Sitti Husniah Talenrang sedang menunjukkan bahwa bentuk pemerintahan yang paling substansial adalah yang mampu bercerita, mendengar, dan terlebih lagi, yang mampu merancang masa depan bersama, satu tegukan kopi dalam satu waktu.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: