KAMERA MAROS – Pada Senin, 31 Agustus 2026, Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros, saksi bisu sebuah pemandangan yang tak biasa. Di tengah lapangan, berbaris rapi 20 unit sepeda motor semi trail. Kendaraan roda dua bertubuh jangkung itu bukan sekadar inventaris kantor biasa; mereka adalah “kuda besi” pahlawan tanpa tanda jasa yang siap mengantar asa menuju bilik-bilik kelas di ujung tebing dan puncak gunung.
Bupati Maros, Chaidir Syam, berdiri di samping barisan motor tersebut dengan senyum optimis. Penyerahan ini bukan sekadar seremoni pengadaan barang, melainkan wujud nyata kehadiran pemerintah di wilayah-wilayah yang selama ini terisolasi oleh bentang alam.
“Misalnya kalau di Mallawa, SD di Wanawaru, kemudian di Tompobulu yang kemarin viral sekolah kolong, SD Tanete Bonto Parang, kemudian di Camba ada Holiang, ada Benteng,” sebut Chaidir, merinci titik-titik terjauh yang selama ini menjadi ujian kesabaran harian para pendidik.
Kecamatan Mallawa, Tompobulu, dan Camba memang dikenal memiliki bentang alam pegunungan yang dramatis. Indah dipandang dari kejauhan, namun menantang maut bagi siapa saja yang harus melintasinya setiap hari. Akses jalan yang terjal, berbatu, berlumpur saat musim hujan, serta jurang di sisi kiri-kanan membuat kendaraan konvensional kerap menyerah.
Di sinilah urgensi dari kebijakan yang digagas Pemkab Maros lahir. Melalui Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Maros, Asri Rajab, diungkapkan bahwa pengadaan 20 unit motor semi trail ini murni menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Maros senilai Rp800 juta. Sebuah investasi kemanusiaan dan pendidikan yang, jika dipikir ulang, tidak ternilai harganya demi masa depan anak-anak di pelosok.
Cerita di balik layar dari para kepala sekolah penerima bantuan semakin mempertegas betapa krusialnya kendaraan ini. Zainal Bakri, Kepala SDN 237 Labongko, Kecamatan Mallawa, menarik napas panjang saat menceritakan medan yang harus ia dan guru-gurunya taklukkan demi mengajar. Tanjakan curam dan posisi sekolah yang menempel di kawasan tebing menjadi menu sehari-hari.
Hal senada diungkapkan Kaspan, Kepala SD 88 Sabantang, Kecamatan Tompobulu. Menuju ke sekolahnya adalah sebuah Ekspedisi mini. Ia harus menempuh jarak sekitar 31 kilometer dari kaki gunung, melewati jalanan yang berkelok-kelok tajam dan tanjakan yang menguji ketahanan mesin sekaligus nyali pengendara.
Sebelum ada motor semi trail ini, tak jarang para guru harus berjalan kaki berjam-jam atau memacu motor bebek biasa yang sering kali rontok di tengah jalan akibat tidak sanggup menahan beratnya medan pegunungan. Semangat mengajar sering kali diuji bukan hanya oleh kerumitan kurikulum, melainkan oleh roda motor yang selip di kubangan lumpur atau rantai yang putus di tengah hutan.
Kini, dengan hadirnya 20 unit motor semi trail ini, beban di pundak para guru sedikit terasa ringan. Deru mesin trail yang tangguh di Lapangan Pallantikang hari itu seolah menjadi simfoni pembuka harapan baru. Bahwa pendidikan berkualitas bukan hanya milik anak-anak di perkotaan yang mulus jalannya, tetapi juga hak anak-anak di Wanawaru, Tanete Bonto Parang, Holiang, dan Benteng.
Di balik debu jalanan pegunungan Maros yang kelak diterobos oleh motor-motor baru ini, ada pelita pengetahuan yang takkan pernah padam—dinyalakan oleh para guru tangguh yang kini punya “kuda besi” sepadan untuk menaklukkan alam demi mencerdaskan bangsa.


