KAMERA LIPUTAN.,Buku saku berjudul MUSTIKA INDONESIA yang terdiri dari kumpulan “kalimat sakti” Presiden Prabowo Subianto harus dimaknai sebagai cara publik mencintai sekaligus mengawal Prabowo sebagai pemimpin yang dicintainya.
Hal itu disampaikan Bupati Maros, Dr. H.A.S Chaidir Syam ,S.I.P, M.H , dalam bedah buku di Maros, minggu (10/04/2026)
Menurut Chaidir, setidaknya, ada dua kepentingan besar yang membuat buku ini sangat bermanfaat, baik bagi Presiden Prabowo maupun bagi masyarakat. Pertama, buku ini dapat menjadi kompas moral bagi generasi muda. Terutama, di tengah zaman yang serba cepat, gaduh, dan sering kehilangan arah nilai, generasi muda membutuhkan pegangan yang ringkas, mudah dibaca, tetapi sarat makna.
Generasi muda sekarang, kata Chaidir, tak terlalu suka dengan buku-buku tebal yang bikin jidatnya mengernyit. Mereka butuh buku-buku yang ringkas dan mudah dipahami. Disamping, tentu saja, mereka juga membutuhkan inspirasi, keteguhan, dan orientasi moral.
“Jika buku ini mengandung pesan tentang cinta tanah air, keberanian, pengabdian, kedisiplinan, persatuan, dan tanggung jawab terhadap bangsa, maka buku ini punya fungsi yang lebih tinggi daripada sekadar kumpulan kutipan. Ia juga bisa menjadi pengantar nilai bagi mereka agar tak tercerabut dari akar kebangsaan,” ungkapnya.
Kedua, lanjut bupati yang juga kader PAN itu, buku ini juga penting sebagai pengingat moral bagi Presiden Prabowo Subianto sendiri. Seorang pemimpin besar seperti Prabowo pasti memiliki kesadaran dan kesediaan untuk dikawal dan diingatkan. Termasuk, mengingatkan dan mengawal kata-kata yang pernah diucapkannya.
Dalam konteks itulah, menurut Chaidir, buku saku ini memiliki nilai demokratis yang sehat. Ia bukan hanya memuliakan ucapan, tetapi juga menjaga agar ucapan itu tetap hidup dalam ingatan publik.
Dengan demikian, tegas dia, buku ini bisa menjadi semacam cermin, bahwa setiap janji, tekad, dan pesan kebangsaan yang pernah disampaikan tidak hilang ditelan waktu, melainkan terus dikawal oleh rakyat.
Chaidir berpendapat, pengawalan itu sebagai bentuk kecintaan sekaligus dukungan rakyat kepada pemimpinnya. Apalagi, dalam konteks hari ini, Presiden Prabowo dengan sederet misi suci dan program mulianya sangat membutuhkan dukungan rakyat.
Terkait dengan pilihan bentuk dan format buku lebih kecil dengan kemasan artistik yang full color di setiap halamannya, kata Chaidir, justru harus dilihat sebagai salah satu kelebihannya dari sebuah buku saku.
“Bentuknya kan kecil. Tetapi, daya ingatnya bisa besar. Ukurannya ringkas, tetapi maknanya bisa panjang. Ia dapat masuk ke tangan pelajar, mahasiswa, guru, aktivis, aparat pemerintah, hingga masyarakat umum,” tandasnya.
Dari situlah, Chaidir menegaskan, buku ini berpotensi menjadi medium pendidikan publik yang sederhana namun efektif. Ia meyakini, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu melahirkan pemimpin, tetapi juga bangsa yang mampu mencatat, merawat, dan menguji pikiran para pemimpinnya.
Karena itu, Chaidir mengingatkan, bedah buku ini perlu dipahami sebagai bagian dari budaya literasi kebangsaan. Kita tidak sekadar sedang membahas sosok Prabowo sebagai pribadi atau Presiden, tetapi juga sedang membahas bagaimana gagasan seorang pemimpin dipertemukan dengan harapan rakyat.
“Saya berharap, buku saku ini tidak berhenti sebagai karya simbolik atau koleksi seremonial semata. Buku ini harus hidup dalam diskusi, dalam ruang-ruang pendidikan, dalam komunitas anak muda, dan dalam percakapan tentang masa depan Indonesia,” tutupnya.







