blank

Bupati Chaidir Syam Buka Bimtek Literasi Informasi Perpustakaan Maros, BAK Tekankan Pentingnya ‘Strong Brand’ bagi Aktivis

blank

KAMERA MAROS – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros sukses menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Literasi Informasi yang ditujukan bagi para pustakawan, guru, dan pegiat literasi. Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Bupati Maros, Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., dan berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 19–21 Mei 2026, bertempat di Creative Centre Perpustakaan Daerah Kabupaten Maros.

blank

Bimtek yang diikuti oleh 50 peserta dari berbagai elemen ini menghadirkan dua narasumber utama yang kompeten di bidangnya, yaitu Tokoh Literasi dan Perbukuan Nasional, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), serta Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Maros, Dr. Muhammad Nurjaya, M.Si Dan  Lory HendrajayaJalannya diskusi dipandu dengan dinamis oleh Achmad Takbir Abadi sebagai moderator.

blankSejumlah tokoh dan pegiat literasi tampak hadir dalam ruangan, di antaranya Dr. Khaedir Makkasau, Ketua SMSI Kabupaten Maros Harmin Thomaru, Kepsek Amiruddin, Erni Hendrayani, perwakilan Forum Anak Maros, Relima, serta para pustakawan daerah.

BAK: Aktivis Literasi Harus Punya Spesialisasi dan ‘Strong Brand’

Dalam prolog materinya yang bertajuk “Ledakan Literasi Informasi dan Mindset Etika Digital”, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK) menegaskan bahwa setiap aktivis literasi wajib memiliki karakter dan kekhasan tersendiri dalam menjalankan pengabdiannya di tengah masyarakat.

“Jangan terjebak pada kegiatan-kegiatan generalis tanpa memerhatikan kekhasan spesialis yang mewarnai atribut literasi di berbagai bidang,” tegas BAK yang juga menjabat sebagai Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca Maros.

Menurut BAK, membangun strong brand (citra yang kuat) bukan sekadar agar dikenal publik, melainkan menjadi pondasi penting untuk membangun kepercayaan dan menekan maraknya hoaks serta opini tanpa data. Di tengah ledakan informasi yang masif—yang ia ibaratkan seperti teori Big Bangstrong brand dan konsistensi akan menjadi cahaya penuntun masyarakat agar lebih kritis dan bijak.

“Aktivis literasi harus memiliki strong brand di bidangnya masing-masing. Ada yang bergerak di bidang kerelawanan, perbukuan, pendidikan, pemberdayaan anak, dan lainnya. Ini adalah kombinasi dari kejelasan identitas, konsistensi, dan kepercayaan yang dibangun terus-menerus,” tambahnya.

Menangkal Hoaks Melalui Evaluasi dan Metode SIFT

Sejalan dengan hal tersebut, Ketua Dewan Pendidikan Maros, Dr. Muhammad Nurjaya, M.Si., membawakan materi bertajuk “Evaluasi & Diseminasi Informasi”. Ia menyoroti pentingnya kemampuan tenaga pendidik dan pustakawan dalam menyaring limpahan data di era digital guna menghindari informasi yang bias dan provokatif.

“Kuncinya adalah evaluasi sebelum digunakan, dan diseminasi setelah disusun secara etis. Periksa sebelum percaya, susun sebelum menyebar,” ungkap Dr. Muhammad Nurjaya.

Dalam sesi ini, peserta dibekali alur kerja pengelolaan informasi yang ideal, meliputi:

  • Evaluasi Informasi: Menilai kebenaran dan relevansi sumber data.

  • Mitigasi Masalah: Mewaspadai hoaks, misinformasi, disinformasi, hingga malinformasi.

  • Penyajian & Diseminasi: Mengemas data mentah menjadi pesan yang jelas dan menyebarkannya secara bertanggung jawab.

Peserta juga dilatih menggunakan Metode SIFT (Stop, Investigate, Find, Trace) sebagai formula cepat memverifikasi keabsahan konten digital.

Praktek Lapangan: Jurnalistik Digital dan Telaah Buku

Guna memastikan output yang terukur, di ujung materi, BAK mengajak peserta melakukan praktik baik (good practice) langsung di lapangan dengan membagi mereka ke dalam dua kelompok kerja:

  • Kelompok Chaidir Syam: Ditugaskan menelusuri buku-buku karya Bupati Maros di lantai satu ruang baca perpustakaan, lalu mempresentasikannya di depan forum dalam bentuk diksi lisan yang sistematis.

  • Kelompok Muetazim Mansyur: Ditugaskan khusus melakukan praktik jurnalistik digital sebagai bentuk implementasi langsung dari materi literasi informasi yang telah didapatkan. Melalui pelaksanaan bimtek ini, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Maros berharap para pustakawan, guru, dan aktivis mampu menjadi garda terdepan dalam membangun ekosistem masyarakat Maros yang makin literat, kritis, dan bijak di era digital.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: