Close Menu
KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    What's Hot

    Estafet Kepemimpinan Golkar Maros: IAS Tunjuk Andi Patarai Amir Nakhodai Transisi Menuju Musda

    Agustus 26, 2026

    Makassar Racing : Menghadiri Undangan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan (BAKESBANGPOL) Membahas Rencana Pembangunan Sirkuit Kota Makassar Di Kantor Gubernur

    Agustus 26, 2026

    TP-PKK Maros Tingkatkan Pengetahuan Kader Melalui Praktik Penyelenggaraan Jenazah

    Agustus 26, 2026
    Facebook X (Twitter) Instagram
    • Demos
    • Technology
    • Gaming
    • Buy Now
    Facebook X (Twitter) Instagram Pinterest Vimeo
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    Subscribe
    • HOME
    • PEMERINTAH
    • POLITIK
    • DAERAH
    KAMERA LIPUTANKAMERA LIPUTAN
    • PEMERINTAH
    • NASIONAL
    • POLITIK
    • NASIONAL
    • DAERAH
    Beranda » Badai di Poros Maros: Ketika Sehelai Helm Memantik Bara Emosi
    PEMERINTAH

    Badai di Poros Maros: Ketika Sehelai Helm Memantik Bara Emosi

    RedakturBy RedakturNovember 18, 2025
    Share WhatsApp Facebook Twitter Telegram Email
    Share
    WhatsApp Facebook Twitter Telegram

    MAROS, Kameraliputan.com – Selasa, 18 November 2025. Panas menelan Poros Maros–Makassar seperti biasa. Asap knalpot mengepul malas, berpadu dengan debu jalanan yang tak pernah tidur. Di depan pintu gerbang SMP 1 Maros, di antara riuhnya klakson dan deru mesin, Bripka Hadi – bukan nama sebenarnya, namun gambaran setiap wajah petugas di jalanan – berdiri tegak, seragamnya kontras dengan kemeja-kemeja santai para pengendara. Operasi Zebra kali ini memang mengedepankan senyum dan teguran, bukan surat tilang yang merobek dompet. Sebuah pendekatan persuasif, seperti yang ditekankan berulang kali dalam briefing pagi.

    Namun, siang itu, senyum Bripka Hadi nyaris luntur.

    Sejak di lampu merah Jalan Ratulangi, ia sudah melihatnya: seorang pria dengan jaket lusuh, membonceng seorang wanita, melaju tanpa helm. Sebuah pelanggaran yang tampak sepele, namun fatal jika nasib berkata lain. Hadi sudah melambaikan tangan, memberi isyarat agar berbelok, mengambil jalur lain, sekadar menghindar dari pos pemeriksaan persahabatan ini. “Belok, Pak, lewat kiri saja,” bisiknya dalam hati, berharap isyaratnya terbaca.

    Tapi pengendara itu, entah sadar atau sengaja abai, memilih terus melaju lurus. Sebuah tantangan bisu yang membuat peluh di dahi Hadi terasa lebih panas.

    Baca:  Realisasi PAD Maros Triwulan 1 2026 Tembus Rp 79 Miliar,Sektor DLH Capai Target Tertinggi

    Ketika akhirnya motor tanpa plat nomor itu berhenti di depan pos, Hadi menghampiri. Dengan nada yang sudah ia latih agar terdengar ramah namun tegas, ia memulai, “Selamat siang, Pak. Mohon maaf, helmnya mana ya?”

    Sejatinya, kalimat itu bukan interogasi, melainkan sebuah pengingat lembut. Petugas seperti Hadi telah dilatih untuk melihat lebih dari sekadar pelanggaran. Mereka melihat potensi luka, retaknya tempurung kepala, atau tangisan keluarga. Helm bukan sekadar aturan, itu perisai hidup.

    Namun, respons pria itu jauh dari kata kooperatif. Wajahnya merah padam, seolah teguran sederhana itu adalah hinaan paling telak yang pernah ia terima. Seperti sebuah sumbu pendek yang baru saja tersulut.

    “Apa?! Apa lagi?!” nada tinggi itu membelah keramaian. Istrinya di belakang mencoba menenangkan, namun sia-sia. Tanpa peringatan, pengendara itu melompat turun dari motornya. Gerakannya cepat, penuh kemarahan yang meluap. Tangan kanannya terangkat, mengepal, membentuk ancaman yang tak terbantahkan. Sebuah kepalan yang diayunkan, seolah hendak meninju wajah Hadi yang berdiri tak bergerak.

    Waktu seolah melambat. Kaca helm Hadi memantulkan kilatan amarah di mata pengendara itu. Deru kendaraan di belakangnya, teriakan pedagang asongan, bahkan tawa anak-anak SMP yang baru keluar sekolah, tiba-tiba lenyap. Hanya ada kebuntuan yang menggantung di udara.

    Baca:  Gubernur Sulsel : Alhamdulillah, Ruas Pinrang - Rappang Mulai Dikerjakan

    Beruntung, pukulan itu tidak mengenai sasaran. Mungkin di detik terakhir, ada rem yang menahan. Mungkin naluri, atau kesadaran sesaat, menghalangi tangan itu menyelesaikan niatnya. Hadi, yang sudah siap menerima, hanya bisa menarik napas lega. Ia tidak membalas. Ia tidak terpancing. Profesionalisme adalah tameng terkuatnya, melebihi perlindungan rompi anti peluru sekalipun.

    AKP Muhammad Arafah, Kasat Lantas Polres Maros, yang kemudian mendengar laporan, hanya bisa menggelengkan kepala. “Masalahnya hanya tidak pakai helm. Ditahan anggota, ditanya, dia langsung marah,” ujarnya, sebuah ringkasan sederhana dari insiden rumit emosi manusia. Ia menjelaskan bagaimana petugas bahkan sudah memberi kesempatan, sebuah “jalur penyelamat” agar pengendara itu tak perlu berurusan dengan pos. “Tapi dia tetap lurus, ditahan lagi, ditegur, lalu dia turun bersama istrinya,” tambahnya, menggambarkan rentetan provokasi yang berujung pada ledakan emosi.

    Petugas tidak mengeluarkan tilang. Mereka hanya memberikan teguran, sejalan dengan semangat Operasi Zebra yang mengedepankan edukasi. Namun, insiden ini bukan sekadar tentang helm atau teguran. Ini tentang batas kesabaran, tentang penghormatan terhadap aturan, dan tentang martabat petugas yang berupaya menjaga keselamatan bersama.

    Baca:  Gerak Cepat Perbaikan Plat Decker Jebol, Dinas PU Makassar Dengarkan Keluhan Warga

    Kini, tim kepolisian tengah menelusuri identitas pengendara tersebut, meskipun tanpa plat nomor, prosesnya menjadi lebih sulit. Ipda Marwan Afriady, Kasubsi Penmas Polres Maros, menyayangkan sikap tidak kooperatif itu. “Petugas sudah bertindak profesional dan persuasif. Teguran itu untuk keselamatan pengendara sendiri. Kalau kemudian dia marah dan hampir melakukan kekerasan, itu tentu tindakan yang keliru,” tegasnya.

    Peristiwa ini adalah cermin kecil dari dinamika yang kerap terjadi di jalanan. Di satu sisi, ada petugas yang berupaya menjalankan tugas dengan humanis, mengedepankan keselamatan. Di sisi lain, ada warga yang terkadang menjadikan aturan sebagai beban, dan teguran sebagai penghinaan.

    Poros Maros–Makassar kembali bergemuruh, namun gema dari insiden di depan SMP 1 Maros itu masih terasa. Sebuah pengingat bahwa di balik panasnya aspal dan cepatnya laju kendaraan, tersimpan emosi, aturan, dan harapan akan tertibnya perjalanan, demi keselamatan setiap nyawa yang melintas. Sebuah helm, lebih dari sekadar pelindung kepala, adalah lambang kepatuhan dan kesadaran. Dan di hari itu, sehelai helm nyaris memantik bara yang lebih besar dari sekadar teguran.

    Share. WhatsApp Facebook Twitter Telegram Copy Link Email
    Previous ArticleRaungan di Pagi Hari: Ketika Tukamasea Diuji Angin Puting Beliung
    Next Article Maros Bersenandung Literasi: Mengikat Ilmu, Membangun Masa Depan

    Berita Lainnya:

    PEMERINTAH

    TP-PKK Maros Tingkatkan Pengetahuan Kader Melalui Praktik Penyelenggaraan Jenazah

    Agustus 26, 2026
    PEMERINTAH

    Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Langsung untuk Korban Kebakaran Kandea Makassar

    Agustus 22, 2026
    PEMERINTAH

    RRI dan SMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Perkuat Kompetensi Jurnalis dan Jernihkan Informasi

    Agustus 22, 2026
    PEMERINTAH

    Semarak HUT RI ke-81, Disdikbud Kabupaten Maros Gelar Berbagai Lomba

    Agustus 19, 2026
    PEMERINTAH

    Damkar Maros Bantu Warga Cari HP Jatuh ke Selokan di Jalan Baru Mamminasata

    Agustus 16, 2026
    Pos-pos Terbaru
    • Estafet Kepemimpinan Golkar Maros: IAS Tunjuk Andi Patarai Amir Nakhodai Transisi Menuju Musda
    • Makassar Racing : Menghadiri Undangan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan (BAKESBANGPOL) Membahas Rencana Pembangunan Sirkuit Kota Makassar Di Kantor Gubernur
    • TP-PKK Maros Tingkatkan Pengetahuan Kader Melalui Praktik Penyelenggaraan Jenazah
    • Gubernur Sulsel Serahkan Bantuan Langsung untuk Korban Kebakaran Kandea Makassar
    • RRI dan SMSI Dorong Kolaborasi Media untuk Perkuat Kompetensi Jurnalis dan Jernihkan Informasi
    Top Posts

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026973 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026826 Views
    Stay In Touch
    • Facebook
    • YouTube
    • TikTok
    • WhatsApp
    • Twitter
    • Instagram
    Latest Reviews
    MAKASSAR

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    RedakturMaret 16, 2026
    PEMERINTAH

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    HTJanuari 30, 2026
    PEMERINTAH

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    HTJanuari 25, 2026
    Most Popular

    Polemik Kuota Haji, PW GP Ansor Sulawesi Selatan Satu Intruksi Pimpinan Pusat

    Maret 16, 20266,590 Views

    Optimalkan Mutu Pendidikan, Bupati Maros Lantik dan Mutasi 25 Kepala Sekolah

    Januari 30, 2026973 Views

    Pemprov Sulsel Buka Pengajuan Bantuan Dukungan Desa Mandiri 2026, Simak Syarat dan Kategorinya!

    Januari 25, 2026826 Views
    Our Picks

    Estafet Kepemimpinan Golkar Maros: IAS Tunjuk Andi Patarai Amir Nakhodai Transisi Menuju Musda

    Agustus 26, 2026

    Makassar Racing : Menghadiri Undangan oleh Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan (BAKESBANGPOL) Membahas Rencana Pembangunan Sirkuit Kota Makassar Di Kantor Gubernur

    Agustus 26, 2026

    TP-PKK Maros Tingkatkan Pengetahuan Kader Melalui Praktik Penyelenggaraan Jenazah

    Agustus 26, 2026

    Subscribe to Updates

    Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

    Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok WhatsApp
    • Home
    • Technology
    • Gaming
    • Phones
    • Buy Now
    © 2026 KAMERA LIPUTAN by WEBPro.

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.