blank

Senja Damai di Butta Salewangang: Ketika Chaidir Syam Memegang Mikrofon di Tengah Asap Ban

blank

MAROS, Kameraliputan.com – fajar di Butta Salewangang menyingsing dengan getaran yang berbeda. Bukan getaran gempa, melainkan resonansi keresahan yang telah lama bergejolak di hati sebagian warga Maros. Siang Itu, ribuan massa telah berkumpul, spanduk-spanduk berisi tuntutan melambai di udara, dan orasi-orasi mulai memecah kesunyian Jalan Trans Sulawesi. Mereka bukan datang untuk mencari kerusuhan, melainkan mencari telinga yang mau mendengar.

aksi unjuk rasa ini telah menjadi pemandangan yang tak biasa namun tertib. Para demonstran, yang didominasi oleh mahasiswa, petani, dan perwakilan masyarakat adat, meluapkan keresahannya di sejumlah titik strategis. Dari persimpangan jalan menuju kantor bupati, hingga di depan ikon-ikon kota, suara mereka lantang meminta keadilan atas harga pangan yang melambung, infrastruktur yang kurang merata, dan janji-janji pembangunan yang terasa mandek. Api semangat mereka membara, namun bukan untuk membakar, melainkan untuk menerangi.

Puncak dari aksi ini terjadi menjelang sore hari. Gelombang massa bergerak menuju gedung DPRD Maros. Bukan dengan paksaan, melainkan dengan gelombang tekad yang terorganisir, mereka memasuki ruang rapat paripurna yang biasanya steril dari hiruk pikuk jalanan. Di sana, di meja-meja bundar dan kursi-kursi empuk yang biasanya diduduki para legislatif, para demonstran bergantian memegang mikrofon. Mahasiswa berbicara tentang masa depan, petani meratapi nasib lahan mereka serta kesulitan ekonomi keluarga. Suasana tegang, namun anehnya, tidak ada kerusuhan. Yang ada hanya desakan kebenaran dan kejujuran. Para anggota DPRD, yang tampak sedikit terkejut, mendengarkan, beberapa dengan ekspresi serius, yang lain dengan tatapan memahami.

Ketika matahari mulai condong dan hawa panas kian menyengat, diskusi kemudian berlanjut di jalan, tepat di depan kantor DPRD. Ini adalah pemandangan yang tak akan mudah dilupakan. Ratusan orang duduk bersila di aspal panas, di antara terik matahari yang menyengat dan kepulan asap hitam dari beberapa ban bekas yang dibakar sebagai simbol perjuangan. Aroma karet terbakar bercampur dengan keringat dan gema semangat. Di tengah pusaran energi itu, ada satu sosok yang kemudian mengambil mikrofon.

Itu adalah Bupati Maros, Chaidir Syam. Beliau tidak berdiri di atas mimbar, apalagi di balik barikade pengaman. Chaidir Syam duduk bersila di tengah massa, sama seperti yang lain, memegang erat mikrofon di tangannya. Wajahnya menunjukkan kelelahan, namun matanya memancarkan ketenangan.

“Saudara-saudaraku sekalian,” suara Bupati Chaidir Syam mengalun tenang, “Hari ini Forkopimda hadir lengkap. Ada Bapak Kapolres, Bapak Dandim, hingga Bapak Ketua DPRD Maros. Kami semua di sini bukan untuk menghalau, bukan untuk membungkam, melainkan untuk menemani kalian menyampaikan segala tuntutan. Kami ada di sini, bersama kalian.”

Beliau kemudian menatap satu per satu wajah yang ada di hadapannya, dari mereka yang berteriak lantang hingga yang hanya menunduk dalam diam. “Terima kasih,” lanjut Chaidir, suaranya sedikit bergetar, “Terima kasih atas ketertiban dan kedewasaan kalian. Kita semua mencintai Maros. Kami siap mendengarkan dan menyampaikan segala aspirasi yang telah kalian sampaikan hari ini, dan akan kami tindak lanjuti semaksimal mungkin.”

Kata-kata itu, diucapkan langsung dari hati seorang pemimpin yang memilih untuk turun ke jalan, duduk bersama rakyatnya, terasa menyejukkan di tengah bara api aspirasi. Tidak ada janji muluk dalam pidatonya, hanya komitmen untuk mendengarkan dan bertindak.

Aksi unjuk rasa yang dimulai dengan gelora emosi itu akhirnya selesai dengan tenang, menyisakan jejak asap ban yang perlahan memudar dan secercah harapan. Suasana Maros yang kondusif, bahkan setelah demonstrasi besar, membuat masyarakat bahagia. Hafid Ganing, salah seorang warga yang sejak siang ikut menyaksikan jalannya aksi, tak bisa menyembunyikan senyumnya. “Senang sekali melihat kebersamaan seperti ini di Butta Salewangang,” ujarnya, matanya merefleksikan pantulan senja. “Ada yang berunjuk rasa, meluapkan keresahan, tapi semua dilakukan dengan damai. Ini Maros, ini kita. Membuktikan bahwa dialog itu selalu lebih baik daripada kerusuhan.”

Di tengah asap ban yang perlahan menghilang dan pantulan cahaya senja di jendela gedung DPRD, Maros telah menjadi saksi bahwa demokrasi bisa berjalan setenang air sungai, meski terkadang harus melalui bebatuan terjal, asalkan ada jembatan komunikasi yang dibangun di atas dasar saling percaya dan mencintai tanah kelahiran.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: