blank

Seminar Hasil Disertasi: Gelanggang Politik dan Panggung Cumlaude Marjan Massere

blank

KAMERA MAKASSAR – sebuah gemuruk aplaus lembut namun penuh makna memecah keheningan di ruang seminar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Di sanalah, Marjan Massere, seorang pejuang intelektual dari Program Studi Doktor Ilmu Politik, mengukir sejarah. Ia tidak hanya lulus; ia berjaya dengan predikat tertinggi, A Plus (Cumlaude), di Seminar Hasil Disertasinya—sebuah puncak akademik yang menjadi dambaan setiap peneliti di jenjang Strata Tiga.

Karya agung yang mengantarkannya pada puncak ini berjudul “Proses Politik dalam Penyusunan Kebijakan Pengembangan Kepemudaan dan Keolahragaan Pemerintah Daerah Kabupaten Maros.” Lebih dari sekadar judul, disertasi ini adalah sebuah teropong tajam yang menembus tirai proses birokrasi, mengungkap sebuah panggung politik yang seringkali tak terlihat oleh mata awam.

Marjan menggambarkan bahwa kebijakan di Maros—khususnya yang menyangkut masa depan pemuda dan dunia olahraga—bukanlah produk sekadar ruang administrasi yang kaku. Ia menemukan sebuah gelanggang interaksi yang dinamis, sebuah “arena” di mana berbagai aktor saling tarik-menarik, bernegosiasi, dan membentuk formula kebijakan. Di arena ini, pemerintah daerah bukanlah satu-satunya sutradara. Ada juga DPRD dengan kekuatan legislasinya, organisasi kepemudaan dengan semangatnya, komunitas olahraga dengan aspirasinya, serta berbagai kelompok kepentingan lain yang masing-masing membawa suara dan agenda.

“Ini bukan soal siapa yang menang atau kalah,” jelas Marjan dengan mata berbinar, menanggapi masukan dari dewan penguji. “Ini tentang memahami bahwa kebijakan yang berkelanjutan lahir dari proses yang demokratis dan partisipatif. Mengabaikan aspek politik dan sosialnya sama saja membangun istana di atas pasir.”

Baginya, masukan dari para profesor penguji bukanlah kritik yang menyakitkan, melainkan sebuah cermin untuk memoles karya ilmiahnya agar semakin cemerlang dan bermanfaat. Ia menyadari, sebuah penelitian sejati harus mampu memberdayakan, bukan sekadar mengisi rak perpustakaan. Dari hasil penelitiannya, lahir sejumlah rekomendasi yang ia harapkan dapat menjadi literatur hidup bagi para penentu kebijakan di Maros. Sebuah peta jalan untuk merumuskan kebijakan yang lebih holistis, inklusif, dan efektif.

“Harapan saya, penelitian ini menjadi landasan akademis yang kuat,” ujarnya. “Sehingga saat pengambil keputusan duduk bersama, mereka memiliki alat analisis yang komprehensif untuk melihat berbagai variabel, memastikan setiap keputusan yang diambil benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat dan berdampak jangka panjang.”

Pencapaian luar biasa ini tentu saja lahir bukan tanpa bimbingan. Di belakang Marjan, ada tim promotor dan ko-promotor yang menjadi payung intelektualnya: Prof. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si., Prof. Dr. Gustiana A. Kambo, M.Si., dan Prof. Dr. H. A. M. Rusli, M.Si. Mereka adalah para nakhoda yang membantunya menembus badai penelitian. Disiplin ilmiahnya kemudian diuji dan disahkan oleh dewan penguji yang tak kalah mumpuni: Prof. Dr. Juanda Nawawi, M.Si., Prof. Dr. Armin Arsyad, M.Si., Prof. Dr. Nurlinah, M.Si., dan Dr. A. Lukman Irwan, S.IP., M.Si.

Momen ini lebih dari sekadar pencapaian personal Marjan Massere. Ini adalah sebuah perayaan bagi dunia akademisi, sebuah bukti nyata bahwa kampus mampu melahirkan karya yang relevan dan solutif. Ia telah membuktikan bahwa ilmu politik bukanlah teori abstrak, melainkan alat yang ampuh untuk memahami dan memperbaiki tatanan masyarakat. Marjan, dengan disertasinya, telah memberikan hadiah terindah bagi daerahnya: sebuah kontribusi nyata dari menara gading ke panggung pembangunan sesungguhnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: