MAROS, Kameraliputan.com – Di bawah terik mentari yang bersahabat, ratusan tangan bergotong royong menanam harapan baru di Desa Pucak, Kabupaten Maros. Selasa pagi itu, Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Sulawesi Selatan turut menyemarakkan aksi penanaman 360.000 bibit kelapa serentak di seluruh Indonesia, dengan pusat kegiatan di LP Nusakambangan. Sementara di Sulsel, 10.000 bibit kelapa dalam disebar di enam wilayah rayon, menggambarkan komitmen kolektif untuk ketahanan pangan dan kelestarian alam.
Satu Langkah untuk Bumi dan Masyarakat
Kepala Kanwil Ditjenpas Sulsel, Rudy Fernando Sianturi, menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial. “Kelapa adalah tanaman multiguna. Selain menghasilkan bahan pangan, ia juga menjadi penahan erosi dan penyangga ekosistem,” ujarnya di sela-sela penanaman. Bibit-bibit tersebut ditanam di lahan Lapas, Rutan, dan area milik warga, dengan distribusi lahan yang mencerminkan keragaman geografis Sulsel—dari 45 hektare di Kepulauan Selayar hingga 2 hektare di Bantaeng.
Kolaborasi antarinstansi pun menjadi kunci sukses. Sebanyak 5.000 bibit disiapkan oleh petugas pemasyarakatan, sementara 5.000 lainnya berasal dari Kantor Wilayah Imigrasi. “Ini bentuk sinergi untuk Indonesia yang lebih hijau,” tambah Rudy.
Dukungan dari Seluruh Pihak
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, seperti Kepala Lapas Maros Ali Imran, Kapolres Maros AKBP Douglas Mahendrajaya, dan anggota DPRD Maros Alwyldan Mustahir. Dalam sambutannya, Alwyldan menyatakan kebanggaannya atas dipilihnya Maros sebagai lokasi utama. “Kelapa bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga investasi lingkungan. Masyarakat harus turut menjaga agar bibit ini tumbuh optimal,” serunya.
Kapolres Maros menambahkan, kegiatan seperti ini juga memperkuat hubungan antara aparat dan warga. “Kami akan terus mendukung program yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat,” tegas Douglas.
Kelapa: Simbol Ketahanan dan Harmoni
Pilihan kelapa dalam sebagai tanaman utama bukan tanpa alasan. Tanaman ini dikenal tahan terhadap perubahan iklim dan memiliki nilai ekonomis tinggi—dari buah, batang, hingga daunnya. Rudy juga mengingatkan bahwa penanaman kali ini adalah kelanjutan dari program sebelumnya, seperti budidaya jagung untuk mendukung Asta Cita Presiden.
“Kami menanam di pinggiran sungai untuk mengurangi risiko longsor. Ini bukti bahwa pemasyarakatan tidak hanya membina warga binaan, tetapi juga berkontribusi pada pembangunan berkelanjutan,” tutupnya.
Sebagai penutup, aksi ini menjadi pengingat bahwa setiap bibit yang ditanam hari ini adalah warisan untuk generasi mendatang. Dengan semangat “Satu Pohon, Sejuta Manfaat”, Sulawesi Selatan dan Indonesia bersatu menuju kemandirian pangan dan ekologi yang tangguh.







