blank

Badai di Poros Maros: Ketika Sehelai Helm Memantik Bara Emosi

blank

MAROS, Kameraliputan.com – Selasa, 18 November 2025. Panas menelan Poros Maros–Makassar seperti biasa. Asap knalpot mengepul malas, berpadu dengan debu jalanan yang tak pernah tidur. Di depan pintu gerbang SMP 1 Maros, di antara riuhnya klakson dan deru mesin, Bripka Hadi – bukan nama sebenarnya, namun gambaran setiap wajah petugas di jalanan – berdiri tegak, seragamnya kontras dengan kemeja-kemeja santai para pengendara. Operasi Zebra kali ini memang mengedepankan senyum dan teguran, bukan surat tilang yang merobek dompet. Sebuah pendekatan persuasif, seperti yang ditekankan berulang kali dalam briefing pagi.

Namun, siang itu, senyum Bripka Hadi nyaris luntur.

Sejak di lampu merah Jalan Ratulangi, ia sudah melihatnya: seorang pria dengan jaket lusuh, membonceng seorang wanita, melaju tanpa helm. Sebuah pelanggaran yang tampak sepele, namun fatal jika nasib berkata lain. Hadi sudah melambaikan tangan, memberi isyarat agar berbelok, mengambil jalur lain, sekadar menghindar dari pos pemeriksaan persahabatan ini. “Belok, Pak, lewat kiri saja,” bisiknya dalam hati, berharap isyaratnya terbaca.

Tapi pengendara itu, entah sadar atau sengaja abai, memilih terus melaju lurus. Sebuah tantangan bisu yang membuat peluh di dahi Hadi terasa lebih panas.

Ketika akhirnya motor tanpa plat nomor itu berhenti di depan pos, Hadi menghampiri. Dengan nada yang sudah ia latih agar terdengar ramah namun tegas, ia memulai, “Selamat siang, Pak. Mohon maaf, helmnya mana ya?”

Sejatinya, kalimat itu bukan interogasi, melainkan sebuah pengingat lembut. Petugas seperti Hadi telah dilatih untuk melihat lebih dari sekadar pelanggaran. Mereka melihat potensi luka, retaknya tempurung kepala, atau tangisan keluarga. Helm bukan sekadar aturan, itu perisai hidup.

Namun, respons pria itu jauh dari kata kooperatif. Wajahnya merah padam, seolah teguran sederhana itu adalah hinaan paling telak yang pernah ia terima. Seperti sebuah sumbu pendek yang baru saja tersulut.

“Apa?! Apa lagi?!” nada tinggi itu membelah keramaian. Istrinya di belakang mencoba menenangkan, namun sia-sia. Tanpa peringatan, pengendara itu melompat turun dari motornya. Gerakannya cepat, penuh kemarahan yang meluap. Tangan kanannya terangkat, mengepal, membentuk ancaman yang tak terbantahkan. Sebuah kepalan yang diayunkan, seolah hendak meninju wajah Hadi yang berdiri tak bergerak.

Waktu seolah melambat. Kaca helm Hadi memantulkan kilatan amarah di mata pengendara itu. Deru kendaraan di belakangnya, teriakan pedagang asongan, bahkan tawa anak-anak SMP yang baru keluar sekolah, tiba-tiba lenyap. Hanya ada kebuntuan yang menggantung di udara.

Beruntung, pukulan itu tidak mengenai sasaran. Mungkin di detik terakhir, ada rem yang menahan. Mungkin naluri, atau kesadaran sesaat, menghalangi tangan itu menyelesaikan niatnya. Hadi, yang sudah siap menerima, hanya bisa menarik napas lega. Ia tidak membalas. Ia tidak terpancing. Profesionalisme adalah tameng terkuatnya, melebihi perlindungan rompi anti peluru sekalipun.

AKP Muhammad Arafah, Kasat Lantas Polres Maros, yang kemudian mendengar laporan, hanya bisa menggelengkan kepala. “Masalahnya hanya tidak pakai helm. Ditahan anggota, ditanya, dia langsung marah,” ujarnya, sebuah ringkasan sederhana dari insiden rumit emosi manusia. Ia menjelaskan bagaimana petugas bahkan sudah memberi kesempatan, sebuah “jalur penyelamat” agar pengendara itu tak perlu berurusan dengan pos. “Tapi dia tetap lurus, ditahan lagi, ditegur, lalu dia turun bersama istrinya,” tambahnya, menggambarkan rentetan provokasi yang berujung pada ledakan emosi.

Petugas tidak mengeluarkan tilang. Mereka hanya memberikan teguran, sejalan dengan semangat Operasi Zebra yang mengedepankan edukasi. Namun, insiden ini bukan sekadar tentang helm atau teguran. Ini tentang batas kesabaran, tentang penghormatan terhadap aturan, dan tentang martabat petugas yang berupaya menjaga keselamatan bersama.

Kini, tim kepolisian tengah menelusuri identitas pengendara tersebut, meskipun tanpa plat nomor, prosesnya menjadi lebih sulit. Ipda Marwan Afriady, Kasubsi Penmas Polres Maros, menyayangkan sikap tidak kooperatif itu. “Petugas sudah bertindak profesional dan persuasif. Teguran itu untuk keselamatan pengendara sendiri. Kalau kemudian dia marah dan hampir melakukan kekerasan, itu tentu tindakan yang keliru,” tegasnya.

Peristiwa ini adalah cermin kecil dari dinamika yang kerap terjadi di jalanan. Di satu sisi, ada petugas yang berupaya menjalankan tugas dengan humanis, mengedepankan keselamatan. Di sisi lain, ada warga yang terkadang menjadikan aturan sebagai beban, dan teguran sebagai penghinaan.

Poros Maros–Makassar kembali bergemuruh, namun gema dari insiden di depan SMP 1 Maros itu masih terasa. Sebuah pengingat bahwa di balik panasnya aspal dan cepatnya laju kendaraan, tersimpan emosi, aturan, dan harapan akan tertibnya perjalanan, demi keselamatan setiap nyawa yang melintas. Sebuah helm, lebih dari sekadar pelindung kepala, adalah lambang kepatuhan dan kesadaran. Dan di hari itu, sehelai helm nyaris memantik bara yang lebih besar dari sekadar teguran.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: