KAMERA MAROS – Di ufuk timur Sulawesi Selatan, ada sebuah tanah yang menyimpan bisikan masa lalu di balik dinding-dinding karst yang menjulang angkuh. Ia adalah Maros, atau yang akrab disapa Butta Salewangang. Hari ini, tanah ini tidak sekadar berulang tahun; ia sedang menorehkan angka ke-67 dalam lembaran sejarah peradaban yang jauh lebih tua dari sekadar hitungan kalender administratif.
67 tahun yang lalu, sebuah entitas pemerintahan mungkin baru saja dikukuhkan. Namun, jauh sebelum itu, Maros telah menjadi saksi bisu jejak kaki manusia pertama di Nusantara. Rammang-Rammang dan Leang-Leang bukanlah sekadar destinasi wisata; mereka adalah perpustakaan batu yang menyimpan jejak tangan manusia purba—sebuah bukti bahwa Maros adalah titik nol peradaban yang telah lama bernapas.
Butta Salewangang: Filosofi yang Mengakar
Nama Salewangang bukan sekadar label. Ia adalah doa, harapan, dan ruh yang mengalir di setiap nadi masyarakatnya. Secara harfiah, ia bermakna ketenangan, kenyamanan, dan kesejahteraan. Dalam 67 tahun perjalanannya, Maros telah bertransformasi dari sebuah wilayah agraris yang tenang menjadi gerbang strategis Sulawesi Selatan.
Namun, di tengah deru pembangunan dan modernisasi yang kian pesat, Maros tetap menjaga marwahnya. Ia adalah tanah yang mampu menyeimbangkan antara industrialisasi dan pelestarian alam. Keberanian Maros untuk tetap memeluk warisan geopark dunia UNESCO adalah bukti bahwa kemajuan tidak harus mengkhianati sejarah.
Menatap Masa Depan di Usia yang Matang
Di usia ke-67 ini, Maros berdiri di persimpangan jalan yang penuh peluang. Sebagai penyangga utama kota metropolitan Makassar, Maros kini menjadi episentrum pergerakan ekonomi melalui bandara internasionalnya dan kawasan-kawasan strategis lainnya. Namun, esensi dari “Salewangang” tetap terletak pada manusianya.
Perayaan Harlah ke-67 ini bukan sekadar seremonial yang hilang setelah pesta usai. Ia adalah refleksi. Sejauh mana kita telah menyejahterakan rakyat? Sejauh mana kita telah menjaga warisan leluhur agar tidak terkikis oleh beton-beton yang tumbuh subur?
Maros adalah sebuah kebanggaan. Ia adalah perpaduan harmonis antara gugusan karst yang purba, aliran sungai yang tenang, dan keramahan masyarakat yang menjunjung tinggi adat Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge.
Sebuah Harapan
Selamat ulang tahun yang ke-67, Maros! Teruslah menjadi Butta Salewangang yang tak pernah lelah merawat sejarah. Semoga di usiamu yang semakin matang, engkau tetap menjadi rumah yang nyaman bagi anak cucu, dan tetap menjadi mercusuar peradaban yang sinarnya tidak pernah redup meski zaman terus berganti.
Mari melangkah bersama, meniti masa depan dengan menoleh ke belakang, menghormati akar, namun tetap berani terbang menembus awan.
Jayalah Maros, Jayalah Butta Salewangang!
Oleh : Riyan Restu Hidayat – Karang Taruna Desa Minasa Upa






