Kondisi lapangan menunjukkan area air terjun dan permandian alam yang biasanya padat, kini tampak lengang bahkan pada akhir pekan. Penurunan ini berdampak langsung pada omzet pedagang lokal dan pelaku UMKM yang menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Faktor Harga Tiket dan Persaingan Destinasi
Menanggapi fenomena ini, Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Maros, Harmin Thomaru, SE, MM, turut angkat bicara. Menurutnya, penyebab utama lesunya kunjungan wisatawan tidak lain adalah tingginya tarif tiket masuk yang diberlakukan saat ini.
“Di era persaingan tempat wisata yang semakin ketat, Bantimurung sebagai destinasi legendaris yang sudah diakui dunia seharusnya tetap menjadi pilihan utama. Namun, harga tiket yang tinggi menjadi penghalang besar bagi masyarakat, terutama wisatawan lokal,” ujar Harmin dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).
Harmin menambahkan bahwa munculnya destinasi alternatif baru di wilayah Maros, seperti Grand Mall Maros dan tempat wisata lainnya, menjadi pesaing kuat yang lebih mudah dijangkau secara finansial oleh keluarga.
Rekomendasi Strategis: Turunkan Harga, Benahi Fasilitas
Sebagai sosok yang juga lama bergelut dalam pengamatan wisata di Bantimurung, Harmin menyarankan agar Pemerintah Kabupaten Maros segera mengambil langkah konkret.
-
Penyesuaian Tarif: Harmin mendesak agar harga tiket diturunkan agar terjangkau oleh semua kalangan. “Jika tiket murah dan pengunjung lancar, maka akan ada efek domino. Pedagang akan kembali bergairah dan ekonomi lokal berputar,” imbuhnya.
-
Kebersihan Toilet: Selain harga, Harmin menyoroti pentingnya kebersihan fasilitas penunjang. “Toilet adalah fasilitas vital. Kebersihan dan keindahannya harus dijaga agar pengunjung merasa nyaman dan sebanding dengan biaya yang mereka keluarkan.”
-
Evaluasi Target PAD: Terkait target Pendapatan Asli Daerah (PAD) di Disparpora, ia berharap pemerintah daerah lebih fleksibel melihat kondisi ekonomi saat ini. “Pemkab Maros harus paham kondisi sekarang. Lebih baik tiket terjangkau tapi pengunjung membludak daripada harga tinggi namun kawasan sepi.”
Respons Pemerintah Daerah
Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Maros, H. Suardi Sawedi, mengakui adanya tren penurunan tersebut. Meski menyebut harga tiket sebagai salah satu faktor yang dikeluhkan, pihaknya masih melakukan evaluasi apakah hal ini disebabkan oleh faktor ekonomi atau kejenuhan pasar.
Saat ini, pihak Disparpora tengah menyiapkan langkah revitalisasi fasilitas mulai dari sarana ibadah hingga akses jalan, serta inovasi atraksi wisata untuk kembali menarik minat wisatawan berkunjung ke “Kerajaan Kupu-kupu” tersebut.







