MAROS, Kameraliputan.com – Sebuah langkah tegas dan strategis diambil oleh Pemerintah Kabupaten Maros untuk memastikan lingkungan pendidikan menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas dari segala bentuk ancaman. Bertempat di Gedung Baruga A Kantor Bupati Maros, Bupati Dr. H.A.S. Chaidir Syam, S.IP., M.H., secara resmi membuka Kegiatan Sosialisasi Implementasi Kebijakan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (PPKSP) untuk seluruh Sekolah Menengah Pertama (SMP) di bawah naungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Maros, Senin (27/10/2025).
Didampingi oleh Plt. Kepala Disdikbud, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, S.STP., M.M., Bupati Chaidir Syam menyampaikan pesan kuat di hadapan para kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan yang hadir. Menurutnya, sekolah bukan hanya tempat untuk transfer ilmu, tetapi juga wadah pembentukan karakter dan mental generasi penerus bangsa.
“Sekolah harus menjadi surga bagi anak-anak kita, tempat mereka bertumbuh dengan gembira tanpa rasa takut. Tidak ada toleransi sedikit pun bagi perundungan, pelecehan, atau kekerasan dalam bentuk apa pun,” tegas Bupati Chaidir Syam dalam sambutannya yang berapi-api. “Bapak dan Ibu kepala sekolah serta para guru adalah garda terdepan. Di pundak kalian, kami titipkan masa depan Maros. Mari kita bangun benteng kokoh untuk melindungi setiap siswa.”

Kegiatan sosialisasi ini dirancang sebagai respons proaktif terhadap tantangan kekerasan di satuan pendidikan yang menjadi isu nasional. Tujuannya adalah untuk membekali para pendidik dengan pemahaman mendalam dan perangkat praktis dalam mengimplementasikan kebijakan yang sudah ada, khususnya terkait Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023.
Plt. Kepala Disdikbud, Andi Wandi Bangsawan Putra Patabai, menambahkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan titik awal dari sebuah gerakan bersama.
“Hari ini kita tidak hanya mendengarkan, tetapi kita berkomitmen untuk bertindak. Setiap sekolah diwajibkan membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang efektif dan responsif. Kami akan memastikan ada alur pelaporan yang jelas, aman, dan berpihak pada korban,” jelas Andi Wandi. “Tujuannya satu: menciptakan zero tolerance policy terhadap kekerasan dan membangun budaya sekolah yang positif, inklusif, dan saling menghargai.”
Suasana di Gedung Baruga A terasa penuh antusiasme. Para peserta yang terdiri dari kepala sekolah dan perwakilan guru dari seluruh SMP se-Kabupaten Maros tampak serius menyimak materi, menunjukkan kesiapan mereka untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing.
Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi fondasi kuat dalam melahirkan Generasi Emas Maros yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga unggul dalam karakter, berakhlak mulia, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dengan sinergi antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat, cita-cita menjadikan setiap sekolah di Maros sebagai zona aman dan inspiratif kini selangkah lebih dekat menuju kenyataan.






