blank

Rp100 Miliar untuk Air Maros: Manuver Fiskal di Ujung Tanduk Krisis Air Bersih

blank

MAROS, Kameraliputan.com – Rencana Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Maros untuk mengajukan pinjaman daerah senilai Rp100 miliar ke PT Sarana Multi Infrastruktur (PT SMI) telah menjadi bola panas di kancah politik lokal. Pinjaman fantastis ini, yang secara spesifik dialokasikan untuk pembenahan infrastruktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) guna mengatasi krisis air bersih, memicu perdebatan sengit antara optimisme eksekutif dan kehati-hatian legislatif.

Di satu sisi, Bupati Maros, Chaidir Syam, menjamin bahwa langkah ini adalah investasi vital yang telah diperhitungkan secara matang. Di sisi lain, Anggota DPRD Maros, Fajrin Amir, menyuarakan kekhawatiran serius bahwa utang sebesar itu bisa menjadi pedang bermata dua, berpotensi menyeret anggaran daerah ke jurang defisit.

Optimisme Bupati: Utang Nol dan Kalkulasi Matang

Polemik ini bermula dari kebutuhan mendesak akan peningkatan layanan air bersih di Maros, seiring dengan laju pertumbuhan penduduk dan tingkat hunian yang terus melonjak. Melihat kondisi ini, Bupati Chaidir Syam mengambil langkah berani mengajukan pinjaman ke PT SMI, sebuah lembaga pembiayaan di bawah Kementerian Keuangan, untuk memperkuat PDAM.

Dalam konfirmasi pada hari Minggu (23/11/2025), Bupati Chaidir Syam menegaskan keyakinannya bahwa rencana pinjaman Rp100 miliar itu tidak akan membebani APBD.

“Untuk persoalan pembebanan keuangan itu sudah kita hitung. Profit yang akan dihasilkan PDAM ke depan menjadi pertimbangan utama, apalagi tingkat hunian dan kebutuhan air bersih di Maros terus meningkat,” ujar Chaidir.

Chaidir Syam menekankan bahwa saat ini Pemkab Maros sama sekali tidak memiliki utang. Posisi keuangan yang bersih ini menjadi dasar utama bagi eksekutif untuk meyakini bahwa penarikan pinjaman ini hanyalah spekulasi terukur yang hasilnya akan ditanggung oleh keuntungan proyeksi PDAM sendiri. Seluruh skema pengembalian dijanjikan telah melalui simulasi yang ketat dan kini sedang menunggu penilaian akhir dari PT SMI.

Kewaspadaan Legislatif: Bayang-bayang Defisit Anggaran

Sebaliknya, dari kursi legislatif, muncul nada kehati-hatian yang lebih kuat. Fajrin Amir, legislator Golkar Maros, tidak memungkiri bahwa krisis air memang harus segera diatasi, namun jumlah pinjaman yang diajukan dianggapnya sebagai risiko besar yang harus dikelola dengan ekstra hati-hati.

“Kalau mengutang, pasti tidak ada yang setuju. Tapi kalau memang sangat dibutuhkan dan bisa dikelola dengan baik, kenapa tidak,” kata Fajrin, Senin (24/11/2025), menggarisbawahi dilema antara kebutuhan dan keengganan berutang.

Sorotan utama Fajrin adalah potensi manajemen yang buruk. Ia menilai, jika dana Rp100 Miliar gagal diimplementasikan sesuai rencana, atau jika proyeksi keuntungan PDAM meleset, maka dampaknya akan langsung terasa pada keuangan daerah.

“Kalau bisa dikelola dengan baik, tentu berdampak positif. Tapi kalau tidak, dampak terburuknya bisa memicu defisit anggaran,” tegasnya.

Pernyataan Fajrin ini menjadi alarm bagi Pemkab Maros. Pinjaman ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan janji peningkatan infrastruktur yang harus dipertanggungjawabkan hasilnya.

Janji Pengawasan Kunci Sukses

Meskipun menyuarakan kekhawatiran, DPRD Maros tidak menolak mentah-mentah rencana ini, melainkan menjanjikan pengawasan yang intensif sebagai syarat persetujuan.

Fajrin Amir memastikan bahwa DPRD akan menjadi garda terdepan dalam mengawal setiap rupiah dari pinjaman tersebut digunakan. Pengawasan ini bukan hanya sebatas di tahap perencanaan, tetapi juga mencakup eksekusi di lapangan dan audit keuangan berkala.

“Kami akan mengawasi pelaksanaan kegiatan yang dibiayai utang, apakah sesuai rencana atau tidak, serta melakukan pemeriksaan laporan keuangan secara berkala,” tegasnya.

Intinya, Rp100 miliar ini adalah pertaruhan yang sangat besar bagi masa depan Maros. Ini adalah upaya terakhir untuk mengatasi masalah kronis air bersih, namun kesuksesannya bergantung sepenuhnya pada akuntabilitas dan efisiensi birokrasi. Bola kini berada di tangan Pemkab dan PDAM, sementara PT SMI masih menimbang risiko dan potensi pengembalian dari manuver fiskal ambisius ini. Warga Maros hanya bisa berharap, hasil dari utang fantastis ini sepadan dengan beban yang harus ditanggung di masa mendatang.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: