MAROS, Kameraliputan.com – Di tengah riuhnya deburan ombak pesisir Maros, sebuah babak baru dalam upaya peningkatan kesejahteraan petani rumput laut telah dibuka. Bupati Maros, Dr. H.A.S Chaidir Syam, S.IP.,M.H, secara resmi menyerahkan alat bantu ergonomis kepada para petani rumput laut di Kabupaten Maros, menandai puncak program hilirisasi riset prioritas dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (KEMENDIKSAINTEK) RI. Acara yang berlangsung hangat di Balai Diklat Perikanan Bontoa ini menjadi bukti nyata sinergi strategis antara pemerintah pusat, akademisi, dan pemerintah daerah dalam mewujudkan inovasi yang relevatif dan berdampak langsung pada masyarakat.
Selama ini, profesi petani rumput laut dikenal dengan kerja keras yang tak kenal lelah. Beratnya medan, teriknya matahari, dan beban fisik tanpa henti dalam setiap proses budidaya, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga panen, seringkali menyebabkan kelelahan ekstrem dan risiko cedera musculoskeletal. Kondisi ini tidak hanya menghambat produktivitas tetapi juga mengancam kesehatan jangka panjang para pahlawan pangan laut kita.

Merespon tantangan krusial ini, KEMENDIKSAINTEK RI melalui Skema Hilirisasi Inovasi Sosial menginisiasi program riset prioritas yang berhasil menghasilkan solusi konkret. Universitas Hasanuddin Makassar, sebagai garda terdepan riset dan inovasi, berkolaborasi erat dengan Pemerintah Kabupaten Maros, dengan Dinas Perikanan Kabupaten Maros sebagai mitra pelaksana di lapangan. Tim pelaksana kegiatan yang diketuai oleh Prof. Yahya Thamrin, SKM.,MOHS.,Ph.D dari Politeknik Negeri Ujung Pandang (PNUP), telah merancang dan mengembangkan alat bantu ergonomis yang dirancang khusus untuk meminimalkan beban fisik, mengurangi risiko cedera, dan meningkatkan efisiensi kerja tanpa mengorbankan kesehatan para petani.
Dalam sambutannya, Bupati Maros, Dr. H.A.S Chaidir Syam, S.IP.,M.H, menyampaikan rasa bangganya atas terlaksananya program ini. “Ini bukan sekadar penyerahan alat, ini adalah wujud nyata komitmen pemerintah untuk hadir di tengah-tengah masyarakat, terutama para petani rumput laut yang menjadi tulang punggung ekonomi pesisir kita. Dengan alat bantu ergonomis ini, kami berharap produktivitas meningkat, kesehatan terjaga, dan pada akhirnya kesejahteraan petani rumput laut di Maros semakin meningkat,” ujar Bupati. Beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi pentahelix antara pemerintah, akademisi, industri, masyarakat, dan media dalam mendorong kemajuan daerah.
Senada dengan Bupati, Dr. A. Muhammad Anshar, S.Si.,M.Si dari Direktorat Inovasi dan Kekayaan Intelektual UNHAS, menjelaskan bahwa program ini adalah contoh konkret bagaimana riset di perguruan tinggi tidak lagi hanya berhenti di jurnal ilmiah, melainkan harus mampu “turun gunung” dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Kami sangat bersyukur riset yang dilakukan oleh tim kami, di bawah arahan Prof. Yahya Thamrin, dapat terhilirisasi menjadi inovasi sosial yang sangat dibutuhkan petani. Ini adalah spirit KEMENDIKSAINTEK RI untuk menjadikan ilmu pengetahuan sebagai penggerak kesejahteraan,” tambahnya.
Plt. Kepala Dinas Perikanan Kab. Maros, Muhisal, S.Pi.,M.P, yang juga hadir dalam acara tersebut, menyatakan kesiapannya untuk mendampingi petani dalam pemanfaatan alat baru ini. “Dinas Perikanan akan terus memberikan pelatihan dan pendampingan agar alat ini dapat dimanfaatkan secara optimal. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan perikanan rumput laut Maros,” pungkasnya.
Sementara itu, Prof. Yahya Thamrin, SKM.,MOHS.,Ph.D, selaku Ketua Tim Pelaksana Kegiatan, menjelaskan bahwa desain alat bantu ergonomis ini telah melalui serangkaian uji coba dan penyesuaian lapangan. “Kami berusaha memastikan alat ini tidak hanya efektif mengurangi beban kerja, tetapi juga mudah digunakan, terjangkau, dan sesuai dengan karakteristik budidaya rumput laut di Maros. Hasilnya adalah alat yang dapat membantu petani mengangkat, memindahkan, dan mengolah rumput laut dengan lebih efisien dan jauh lebih sehat,” jelas Prof. Yahya.
Para petani rumput laut yang menerima alat bantu tersebut tampak antusias dan penuh harap. “Alhamdulillah, kami sangat terbantu dengan adanya alat ini. Kerja kami jadi tidak terlalu berat lagi, punggung kami tidak sakit terus. Terima kasih banyak kepada pemerintah dan Bapak/Ibu dosen,” ucap Saharuddin, salah seorang petani rumput laut senior dengan senyum merekah.
Serah terima alat bantu ergonomis ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah gerbang menuju masa depan yang lebih cerah bagi para petani rumput laut Maros. Ini adalah bukti bahwa ketika riset ilmiah bersua dengan kebutuhan praktis masyarakat, inovasi nyata akan lahir, merajut kesejahteraan, dan memperkuat potensi ekonomi pesisir Indonesia. Kabupaten Maros kini menjadi mercusuar bagi implementasi hilirisasi riset yang berdampak sosial, membuktikan bahwa kemajuan teknologi adalah untuk kemanusiaan.






