MAROS, Kameraliputan.com – Di tengah hiruk-pikuk pembangunan dan kebutuhan akan akses kesehatan yang merata, harapan masyarakat Maros tertuju pada satu nama: RSUD Camba. Rumah sakit baru ini digadang-gadang menjadi jawaban atas dambaan akan fasilitas kesehatan yang modern dan mudah dijangkau. Namun, antara desakan untuk segera beroperasi dan keharusan memenuhi standar layanan prima, terjalin sebuah narasi yang menarik.
Ketua DPRD Maros, Muh Gemilang Pagessa, menjadi salah satu suara yang paling lantang menyuarakan urgensi ini. Dengan tegas, ia meminta agar RSUD Camba dapat membuka pintunya untuk pasien sesegera mungkin—bila perlu bulan ini, atau paling lambat sebelum tutup tahun. Desakan ini bukan tanpa alasan. Masyarakat membutuhkan.
“Kalau belum bisa BPJS, pasti rumah sakit ini akan kosong,” tegas Gemilang, menyoroti satu syarat mutlak yang tak boleh ditawar: kemampuan melayani pasien pengguna BPJS Kesehatan sejak hari pertama. Ini adalah kunci vital agar RSUD Camba tidak hanya sekadar bangunan megah, tetapi juga denyut nadi pelayanan yang inklusif. Tanpa integrasi dengan BPJS, ia hanyalah cangkang kosong yang tak mampu menjangkau sebagian besar rakyat.
Namun, di balik optimisme Gemilang, ada realitas teknis yang harus dipenuhi. Ia mengungkapkan bahwa masih ada beberapa poin krusial yang harus dirampungkan. “Kami dapat info terakhir, ada beberapa hal yang menjadi masukan dari tim visitasi Kementerian Kesehatan,” jelasnya, sembari menambahkan bahwa DPRD juga menemukan kekurangan di sisi sarana dan prasarana. “Segera selesaikan hal tersebut supaya cepat digunakan dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat,” pesannya.
Bupati Maros, Chaidir Syam, menjawab seruan tersebut dengan penjelasan yang lebih detail dan terukur. Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak berpangku tangan. Persiapan sumber daya manusia telah dilakukan, bahkan beberapa posisi kunci seperti Kepala Tata Usaha dan Kepala Bidang Sarana-Prasarana sudah mulai bertugas. “Karena ini harus disiapkan dengan baik, termasuk uji kelayakan alat kesehatan yang ada,” terang Chaidir, menunjukkan komitmen terhadap standar operasional yang tinggi.
Chaidir Syam juga membeberkan tahapan penting yang tak bisa dilewatkan sebelum RSUD Camba dapat beroperasi penuh: uji fungsi, kerja sama dengan BPJS, dan proses akreditasi. “Uji fungsi dan akreditasi itu wajib dilakukan di awal,” ujarnya. Sebuah janji pun terucap optimis: “Kami targetkan dalam satu hingga dua bulan ke depan, setelah administrasi dan sarana selesai dibenahi, rumah sakit ini sudah bisa mulai menerima pasien.”
Terkait catatan dari tim visitasi Kemenkes, Chaidir Syam memastikan bahwa itu bukanlah kendala besar yang menghambat. Melainkan, “Bukan masalah besar, hanya perbaikan kecil seperti pelebaran pintu, pembenahan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), serta penyesuaian tempat tidur pasien yang berukuran besar agar sesuai standar.”
Narasi RSUD Camba adalah kisah tentang perpaduan antara ambisi pelayanan cepat dan keharusan kualitas yang tak boleh dikompromikan. Ini adalah cerminan dari dinamika pembangunan fasilitas publik, di mana desakan politik bertemu dengan prosedur teknis. Masyarakat Maros kini menanti dengan harap-harap cemas, kapan denyut pertama RSUD Camba akan benar-benar terasa, membawa angin segar bagi kesehatan mereka—sebuah denyutan yang tidak hanya cepat, tetapi juga matang dan menyeluruh.







