MAROS, Kameraliputan.com – Bumi Maros bergemuruh, bukan oleh deru mesin, melainkan oleh riuh rendah diskusi dan semangat dahaga akan ilmu. Di hari kedua Festival Literasi Kabupaten Maros, yang digagas penuh semangat oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Maros, suasana meriah seolah menjadi melodi pengiring bagi sebuah perayaan akbar: perayaan membaca, berdiskusi, dan berkreasi.
Jalanan sekitar lokasi festival tak hanya dipenuhi aroma kuliner UMKM yang menggoda, namun juga semarak aktivitas diskusi dan bedah buku yang mengundang decak kagum. Puncak kemeriahan salah satunya terlihat dalam acara bertajuk “Temu Wicara Literasi.” Panggung kehormatan diisi oleh figur-figur penting yang tak hanya berbicara, melainkan juga menularkan visi. Ada Ketua DPRD Maros, Muhammad Gemilang Pagessa; Ketua Karang Taruna Maros, Muhammad Agus; serta tokoh literasi nasional yang juga Ketua Gerakan Pembudayaan Minat Baca Maros, Bachtiar Adnan Kusuma.
Pantauan mata menangkap pemandangan yang menghangatkan hati: puluhan akademisi dengan kacamata cerdas mereka, tokoh agama yang penuh hikmat, guru-guru bersemangat, seniman dengan jiwa kreatifnya, kepala sekolah yang visioner, pegiat literasi yang tak kenal lelah, pustakawan yang menjadi penjaga gerbang ilmu, hingga siswa-siswi SMA/SMK dengan mata berbinar-binar antusias memenuhi setiap sudut lokasi kegiatan. Mereka bukan sekadar penonton, melainkan peserta aktif yang siap menyerap dan berbagi.
Muhammad Gemilang Pagessa, Ketua DPRD Maros, tampil dengan pernyataan yang langsung menukik ke inti permasalahan. Ia menegaskan dukungan penuh terhadap penguatan literasi di Maros, sebuah dukungan yang bukan sekadar retorika. Baginya, kemampuan membaca adalah fondasi esensial, bahkan bagi para legislator seperti dirinya.
“Saya bersyukur karena selama setahun di DPRD Maros, saya manfaatkan betul-betul waktu saya dengan membaca semua rancangan Perda yang ada di DPRD Maros,” ujarnya, memberikan contoh nyata. Gemilang Pagessa percaya, kualitas penyusunan Perda, yang akan menjadi landasan hukum bagi masyarakat, sangat bergantung pada kedalaman pemahaman anggota dewan terhadap dokumen-dokumen tebal tersebut. “Salah satu tugas anggota DPRD membuat rancangan Perda, dan di sinilah dibutuhkan kekuatan membaca,” tambahnya, menekankan bahwa literasi adalah kekuatan yang tak terpisahkan dari tata kelola pemerintahan yang baik.
Sementara itu, Bachtiar Adnan Kusuma, tokoh literasi yang kiprahnya telah diakui secara nasional, tampil sebagai pembicara pertama dengan materi yang mencerahkan. Ia menggarisbawahi urgensi literasi sebagai pembentuk generasi unggul. Menurutnya, sebuah generasi yang tangguh hanya bisa lahir dari tradisi membaca yang kuat, yang dipupuk sejak usia dini. Namun, fondasi paling utama dari tradisi ini, kata Kusuma, adalah keluarga.
“Hanya keluarga yang memiliki tingkat literasi tinggi akan bisa menciptakan ekosistem keluarga literasi. Makanya kita butuh ibu-ibu menjadi figur dan teladan membaca di setiap keluarga di Indonesia,” serunya, menyoroti peran sentral seorang ibu dalam menanamkan benih-benih kecintaan membaca.
Bachtiar Adnan Kusuma lantas menjabarkan lebih lanjut betapa kebiasaan membaca sejak dini adalah investasi tak ternilai. Kebiasaan itu tak hanya memperkuat kemampuan kognitif, motorik, dan bahasa anak, melainkan juga membentuk kecerdasan sosial dan emosional hingga moral mereka. Ia mengamati, anak-anak yang akrab dengan literasi cenderung menunjukkan tingkat empati yang lebih tinggi. “Anak-anak yang memiliki kepedulian tinggi dengan literasi biasanya memiliki kepedulian dan kepekaan sosial tinggi jika dibandingkan anak-anak yang enggan bermain petak umpet dengan literasi,” lugasnya, memberikan analogi yang menarik.
Di penghujung kegiatan, simbolisasi penyerahan ilmu pun terjadi. Ketua DPRD Maros, Plt Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Maros, serta Ketua Karang Taruna Maros masing-masing menerima buku karya Dr. K.H. Masrur Makmur, M.Pd.I dan Dr. H.M. Amir Uskara, yang diserahkan langsung oleh Bachtiar Adnan Kusuma. Tak hanya itu, semangat berbagi juga merambah ke para peserta. Sejumlah peserta yang aktif mengajukan pertanyaan, turut mendapatkan buku sebagai bentuk apresiasi, menegaskan bahwa dalam Festival Literasi, setiap pertanyaan adalah gerbang menuju ilmu baru.
Festival Literasi Maros bukan sekadar event tahunan. Ia adalah nafas baru bagi kemajuan daerah, sebuah deklarasi bahwa di Maros, membaca bukan lagi sekadar kegiatan, melainkan sebuah gaya hidup, fondasi peradaban, dan kunci menuju masa depan yang lebih cerah, satu halaman demi satu halaman.







