Maros – Bupati Maros Chaidir Syam menyebut penyebab stunting pada anak adalah tingginya angka pernikahan dini ditengah masyarakat. Pihaknya pun meminta Pemerintah Kecamatan hingga Desa untuk aktif melakukan sosialisasi pencegahan.

“Mulai dari KUA, camat, lurah dan kepala desa untuk melakukan penyuluhan, edukasi dan sosialisasi pencegahan pernikahan dini pada anak,” kata Chaidir. Kamis (9/3/2023).
Chaidir tak menampik bahwa salah satu pencetus stunting adalah pernikahan dini. “Inilah yang kami sedang upayakan, untuk pencegahan pernikahan dini. Biar nantinya anak-anak yang terlahir lebih sehat dan gizinya bisa terpenuhi,” ujarnya saat berkunjung ke Puskesmas Bontoa.

Masalah stunting kata Chaidir, merupakan pekerjaan bersama. Karena itu pihaknya melibatkan seluruh masyarakat. Dimana, peranan pemerintah dan petugas puskesmas adalah mencegah kelahiran anak stunting. Salah satunya adalah melakukan pendampingan terhadap ibu hamil.
“Empat desa menjadi locus stunting. Di sini kita akan memberikan makanan tambahan dan memberikan edukasi terhadap orang tua yang anaknya stunting. Kita memberikan makanan terbaik yang tinggi protein untuk perbaikan gizinya,” jelasnya.
Ketua DPD PAN Maros ini menjelaskan, dalam penanganan stunting dibutuhkan waktu sekiranya enam bulan. Dengan aktif memberikan pendampingan dan pemberian gizi seimbang.
“Asalkan anak itu diberikan penanganan yang baik. Pemberian gizi berimbang maka masalah stunting itu akan cepat diatasi dalam waktu enam bulan. Makanya kita butuh tenaga kesehatan lebih memberikan perhatian kepada anak stunting,” jelasnya.
Camat Bontoa, Muliady mengatakan, di wilayah pemerintahannya, kasus stunting masih tinggi. Tercatat hingga saat ini ada sekitar 460 anak stunting, tersebar di 8 desa dan kelurahan.
Karenanya, pihaknya bersama petugas Puskesmas Bontoa terus memperbaiki gizi anak stunting untuk menurunkan angka stunting di wilayahnya.






