blank

Jalan Sabar di Kuri Caddi: Ketika Gotong Royong Warga Berhadapan dengan Drama Klaim Lahan

blank

MAROS, Kameraliputan.com – Sebuah video berdurasi singkat yang menampilkan semangat gotong royong warga Dusun Kuri Caddi, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, mendadak viral, menjadi cermin dari sebuah dilema infrastruktur yang tak kunjung usai. Dalam rekaman itu, tampak puluhan tangan bahu-membahu menimbun dan meratakan badan jalan yang masih berupa tanah, sebuah inisiatif spontan dari masyarakat yang lelah menanti janji pengerasan jalan.

Aksi warga yang terekam jelas di berbagai platform media sosial ini bukan sekadar upaya perbaikan jalan—ini adalah teriakan senyap akan kebutuhan dasar, sebuah manifestasi ketidaksabaran terhadap proses birokrasi yang terasa lambat. Namun, di balik semangat komunitas ini, terkuak fakta bahwa jalan sepanjang 1,6 kilometer yang menghubungkan Kuri Lompo dan Kuri Caddi tersebut adalah kisah panjang proyek prioritas daerah yang terganjal masalah klasik: klaim kepemilikan lahan.

Tiga Tahap Pembangunan yang Belum Tuntas

Menanggapi sorotan publik yang kian deras, Bupati Maros, Chaidir Syam, memberikan penjelasan rinci. Ia menegaskan bahwa ruas jalan Kuri Caddi bukanlah proyek yang diabaikan, melainkan sebuah pekerjaan besar yang sedang berada di tengah rangkaian tahap pengerjaan.

“Sebenarnya jalan di Kuri itu sudah tiga tahapan yang kita lalui. Sudah diperlebar, kemudian ditimbun, dan tahap selanjutnya adalah pengerasan serta betonisasi,” ujar Chaidir.

Menurutnya, video gotong royong yang viral tersebut muncul karena tingginya keinginan warga untuk segera menggunakan jalan, padahal proses betonisasi belum dimulai. Ini menciptakan situasi di mana jalan yang baru ditimbun tanah secara prematur dibuka untuk dilalui, membuatnya rentan rusak kembali.

Bupati Maros juga menyoroti adanya hambatan lain yang lebih struktural—persoalan klaim lahan. “Ada juga kasus di ujung jalan yang ditutup oleh warga karena mengklaim itu tanah miliknya,” tambahnya. Meskipun demikian, ia memastikan bahwa meskipun kondisinya belum ideal, jalur tersebut masih dapat diakses oleh kendaraan roda dua, sementara kasus penutupan jalan kini telah diserahkan kepada pihak berwajib.

Prioritas Rp5,3 Miliar yang Terhenti

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUTRPP Maros, Muhammad Alif Husnaeni, memperkuat pernyataan Bupati dengan data teknis. Ruas Kuri Lompo–Kuri Caddi adalah salah satu proyek vital yang mendapat prioritas tinggi. Sebelum tahun 2020, ruas jalan ini belum eksis. Pembangunannya baru dimulai secara bertahap sejak tahun anggaran 2020 hingga 2024.

“Selama empat tahun terakhir, Pemkab Maros telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp5,3 miliar untuk pembangunan jalan sepanjang 1,6 kilometer,” jelas Alif.

Angka investasi yang signifikan ini menunjukkan keseriusan Pemkab. Namun, dana miliaran rupiah tersebut kini terganjal oleh masalah yang sama: tanah. Alif mengungkapkan bahwa pengerjaan fisik tidak dapat dilanjutkan pada tahun anggaran 2025.

“Karena ada klaim lahan yang masih berproses, maka untuk tahun 2025 penanganan ruas jalan ini belum bisa dilanjutkan,” katanya.

Klaim lahan yang belum terselesaikan membuat rencana betonisasi harus ditangguhkan, meninggalkan jalan dalam kondisi tanah urukan yang rentan terhadap cuaca dan lalu lintas.

Menanti Titik Terang di Ujung Jalan

Kisah Jalan Kuri Caddi adalah representasi nyata dari kompleksitas pembangunan infrastruktur di daerah, di mana niat baik pemerintah dan kebutuhan mendesak masyarakat sering kali harus berhadapan dengan masalah administrasi dan kepemilikan tanah.

Aksi gotong royong warga Kuri Caddi, meski diapresiasi sebagai simbol ketangguhan komunitas, juga menjadi pengingat pahit bahwa investasi besar dapat ‘tertidur’ hanya karena satu atau dua persoalan kepemilikan.

Dinas PUTRPP Maros berharap agar permasalahan lahan ini dapat segera mencapai titik temu.

“Semoga masalah lahan segera selesai. Kami juga berharap masyarakat bisa bersabar dan memahami situasinya,” tutup Alif, menegaskan bahwa kelanjutan pembangunan jalan yang diidamkan warga sangat bergantung pada resolusi drama tanah yang kini ditangani oleh pihak berwewenang.

Masyarakat Kuri Caddi kini harus kembali menahan diri, berharap bahwa pengorbanan gotong royong mereka hari ini segera disusul oleh kenyamanan jalan beton yang telah lama dijanjikan. Jalan kesabaran itu kini membentang sepanjang 1,6 kilometer, menanti keputusan hukum yang akan menentukan nasibnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: