MAROS, Kameraliputan.com – Pagi di Lembah Bantimurung biasanya disambut dengan kehangatan matahari tropis yang menyaring di antara rimbunnya pohon. Aroma embun dan suara kepakan sayap ribuan kupu-kupu yang beterbangan bebas di area penangkaran adalah simfoni alam yang menjadi daya tarik utama Kabupaten Maros.
Namun, pagi itu, simfoni tersebut terhenti.
Keheningan yang mencekam menggantikan riuh rendah wisata. Warga Kecamatan Bantimurung digegerkan oleh sebuah temuan yang merusak keindahan abadi Taman Kupu-kupu: sesosok mayat perempuan ditemukan tergeletak, menjadi saksi bisu kontrasnya keindahan dan kekejaman.
Kontras yang begitu tajam: tubuh tak bernyawa itu ditemukan di tempat di mana kehidupan, dalam bentuk sayap sutra yang rapuh, seharusnya merayakan kebebasan.
Pergerakan Cepat Tim Gabungan
Begitu laporan horor tersebut mencapai meja kepolisian, respons cepat pun dilakukan. Kasubsi Humas Penmas Polres Maros, Ipda Marwan Afriadi, mengonfirmasi pergerakan tim gabungan dari Polsek Bantimurung dan Satreskrim Polres Maros yang langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP).
“Begitu menerima laporan dari warga, tim gabungan langsung bergerak cepat ke lokasi. Wilayah penangkaran ini memang ikon kami, sehingga penemuan ini memerlukan penanganan khusus,” jelas Ipda Marwan.
Area penangkaran, yang biasanya terbuka untuk publik, kini dibatasi garis kuning polisi. Tim Inafis Polres Maros bekerja dalam diam, menyisir setiap jengkal tanah, mengumpulkan barang bukti; mulai dari pakaian korban hingga benda-benda yang memungkinkan terlempar saat insiden terjadi. Setiap helai serat, setiap sidik jari, menjadi harapan untuk mengungkap identitas pelaku dan motif keji tersebut.
Jenazah korban kemudian dievakuasi, dibawa menuju RSUD dr La Palaloi Maros. “Jenazah dibawa untuk pemeriksaan medis dan forensik lebih lanjut. Kami membutuhkan hasil visum dan autopsi untuk memastikan penyebab kematian,” tambah Marwan.
Jejak Kekerasan yang Jelas
Saat pemeriksaan awal dilakukan di RSUD, tim penyidik mendapatkan konfirmasi yang memperkuat dugaan tindak pidana serius.
Iptu Ridwan Farel, Kasat Reskrim Polres Maros, mengungkapkan bahwa pemeriksaan awal menunjukkan bahwa korban meninggal bukan karena kecelakaan alam atau sakit.
“Dari hasil pemeriksaan awal di tubuh korban ditemukan sejumlah luka yang mengarah pada tindak kekerasan,” ujar Iptu Ridwan Farel dengan nada serius. Ia menambahkan, luka-luka tersebut diduga kuat akibat penganiayaan berat yang menyebabkan korban meninggal dunia.
Penemuan ini segera mengubah status kasus dari penemuan mayat biasa menjadi investigasi pembunuhan. Pertanyaan besar yang kini menghantui aparat adalah: Siapa perempuan ini, dan mengapa ia harus berakhir tragis di tengah habitat kupu-kupu?
Pencarian Identitas dan Motif
Hingga saat ini, identitas korban perempuan tersebut masih menjadi misteri. Polisi telah mengambil langkah paling mendasar namun krusial: berkoordinasi dengan warga sekitar dan aparat desa untuk menelusuri kemungkinan adanya laporan orang hilang dalam beberapa hari terakhir.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan warga sekitar dan aparat desa untuk mencari tahu apakah ada laporan orang hilang. Identifikasi adalah kunci awal untuk mengungkap motif dan pelaku,” jelas Kasat Reskrim.
Tim penyidik kini fokus pada dua jalur utama: identifikasi korban melalui ciri-ciri fisik, sidik jari, dan kemungkinan DNA jika diperlukan; serta pemeriksaan intensif terhadap sejumlah saksi yang mungkin melihat pergerakan mencurigakan di sekitar area penangkaran pada malam hari sebelum penemuan.
Area penangkaran kupu-kupu Bantimurung, meskipun merupakan objek wisata terkenal, dikelilingi oleh hutan karst yang lebat dan menawarkan banyak celah tersembunyi. Hal ini menambah kompleksitas penyelidikan. Mungkinkah korban dan pelaku memiliki hubungan dengan destinasi wisata tersebut? Atau apakah lokasi tersebut dipilih hanya sebagai tempat pembuangan jenazah yang dianggap terpencil?
Iptu Ridwan Farel memastikan bahwa penyelidikan akan terus dilakukan secara maraton.
“Polisi masih melakukan penyelidikan dan memeriksa sejumlah saksi untuk mengungkap motif dan pelaku di balik kematian korban. Kami berjanji akan bekerja keras untuk membawa keadilan bagi korban yang meninggal di tempat yang seharusnya menjadi lambang kedamaian ini,” pungkasnya.
Sementara tim forensik bekerja di laboratorium dan penyidik menyusuri jejak di lembah, masyarakat Maros menanti dengan cemas. Penemuan mayat di bawah sayap kupu-kupu Bantimurung telah meninggalkan bayangan kelam, menuntut jawaban atas misteri kekejaman yang merusak keindahan alam.







