blank

Merajut Asa, Membangun Maros: Silaturahmi Mahasiswa UNM dan Pemerintah Daerah

blank

MAROS, Kameraliputan.com – Sebuah kabupaten yang memadukan pesona alam purba lewat gua-gua prasejarahnya dengan denyut pembangunan modern, pada pagi itu (08/09/2025) menjadi saksi sebuah pertemuan yang sarat semangat dan harapan. Di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, atmosfer bukan saja resmi, tetapi hangat dan penuh energi kolaborasi. Di sanalah, Bupati Maros, Dr. H. A.S Chaidir Syam, S.IP., M.H., secara resmi menyambut 414 mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang akan melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Program Pengalaman Lapangan (PPL) Terpadu Angkatan XXXI.

Rombongan mahasiswa yang berjumlah ratusan itu tidak hadir sebagai penonton, melainkan sebagai mitra. Seragam khas kampus mereka menambah warna cerah di ruang yang biasanya dipenuhi agenda formal pemerintah. Wajah-wajah muda itu memancarkan gabungan antara rasa hormat, antusiasme, dan sedikit kegugupan yang wajar sebelum memulai sebuah petualangan pengabdian.

Dalam sambutannya yang khas, lugas, dan bersahabat, Bupati Chaidir Syam tidak hanya menyampaikan kata-kata sambutan formal. Beliau menyampaikan sebuah narasi. Beliau memaparkan visi Kabupaten Maros yang sedang bergerak dinamis, sebuah kanvas pembangunan yang masih memiliki banyak ruang untuk diisi.

blank

“Anak-anakku, para calon pendidik dan agen perubahan,” ujarnya, “Selamat datang di Bumi Turikale. Kalian tidak datang ke sini hanya untuk memenuhi kewajiban akademik. Kalian datang sebagai duta kampus, sebagai penerus bangsa, dan yang terpenting, sebagai bagian dari keluarga besar Maros untuk sementara waktu.”

Bupati lantas memberikan arahan yang mengalir layaknya seorang mentor. Beliau menekankan tiga hal utama: adaptasi, kolaborasi, dan inovasi.

“Adaptasi-lah dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat Maros. Dengarkan lebih banyak daripada berbicara. Belajarlah dari mereka yang sehari-hari mengolah bumi ini. Berkolaborasi-lah dengan aparatur desa, dengan tenaga pendidik, dengan para pemuda karang taruna. Jangan bekerja sendiri. Kami di pemerintah daerah siap memfasilitasi,” pesannya dengan tegas.

“Dan yang ketiga,” lanjutnya, disambut hening yang penuh perhatian, “Berinovasi-lah. Bawa pulang ilmu kalian dari kampus, tetapi terapkan dengan cara yang kontekstual, yang menyentuh kebutuhan riil masyarakat. Manfaatkan teknologi, tetapi jangan lupakan pendekatan manusiawi. Saya ingin di akhir program nanti, ada satu atau dua karya kecil kalian—sebuah program literasi digital, sebuah konsep pemasaran produk UMKM desa, atau metode mengajar yang kreatif—yang terus dikenang dan diteruskan oleh masyarakat.”

Arahan tersebut bukan sekadar instruksi, melainkan sebuah pengobar semangat. Terlihat mata para mahasiswa berbinar, seakan sudah membayangkan program-program yang akan mereka jalankan di desa penempatannya masing-masing.

Pertemuan itu pun ditutup bukan sebagai akhir, melainkan sebagai pembuka gerbang. Jabat tangan erat antara Bupati dan perwakilan mahasiswa simbolis bukan hanya serah terima, tetapi sebuah penyatuan tekad. Sebanyak 414 mahasiswa itu pun berhamburan keluar dari Ruang Pola, membawa serta semangat baru dan mandat untuk turut “Merajut Asa, Membangun Maros”.

Mereka akan segera menyebar ke pelosok kabupaten, menjadi ujung tombak dari trilogi pendidikan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Dan di Maros, mereka akan belajar bahwa yang mereka beri mungkin adalah ilmu dan tenaga, tetapi yang mereka dapatkan adalah pelajaran tentang kehidupan yang sesungguhnya.

WhatsApp
Facebook
Twitter

Berita Terkait: